← Beranda
Film Hasut Hadirkan Horor Psikologis
Abdul Rahman• Senin, 28 September 2026 | 15.53 WIB
Jumpa pers film Hasut di bilangan Thamrin, Jakarta Pusat. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Film horor Indonesia kembali menawarkan pendekatan berbeda lewat Hasut, karya sutradara Ilya Sigma yang memilih meninggalkan formula teror dengan penampakan makhluk gaib.

Film Hasut membangun ketegangan melalui suara misterius dari handy talkie (HT). Suara tersebut secara perlahan mengusik pikiran empat orang sahabat hingga memunculkan rasa curiga, ketakutan, dan paranoia.

Film ini mempertemukan Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova sebagai empat karakter yang harus menghadapi teror sekaligus persoalan dari masa lalu mereka.

Konsep tersebut membuat sumber ketakutan dalam Hasut tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang terlihat. Justru suara yang terdengar dari HT menjadi pemicu konflik dan membuat keempat karakter mulai saling mempertanyakan satu sama lain.

Baca Juga: Sabina Guseynova, Penari Uzbekistan yang Pernah Jadi Istri Guruh Soekarnoputra

Suara HT Jadi Sumber Teror

Cerita Hasut bermula ketika empat orang pergi ke tengah hutan untuk menjalani sebuah ritual penyembuhan. Mereka datang dengan harapan dapat menemukan kedamaian, tetapi perjalanan tersebut justru berubah menjadi pengalaman penuh misteri.

Di tengah suasana hutan yang terisolasi, suara-suara misterius mulai muncul melalui HT. Informasi yang mereka dengar secara perlahan memengaruhi cara pandang masing-masing karakter terhadap orang di sekitarnya.

Situasi semakin rumit karena tidak ada kepastian mengenai siapa yang berada di balik suara tersebut. Mereka juga dihadapkan pada pertanyaan apakah suara yang terdengar merupakan petunjuk, ancaman, atau bagian dari permainan untuk mengadu domba mereka.

Rasa percaya yang semula menjadi modal utama dalam perjalanan tersebut pun perlahan runtuh.

"Film Hasut berbicara tentang sebuah rasa curiga dan kepercayaan. Dengan elemen suara yang menjadi kekuatan film ini, Hasut menjadi horor yang datang bukan dari makhluk yang tak terlihat, tapi dari keraguan terhadap diri sendiri dan orang terdekat," ujar Ilya Sigma.

Pendekatan itu sekaligus menjadi identitas utama Hasut. Ketegangan tidak hanya dibangun dari suasana gelap atau lokasi terpencil, tetapi dari bagaimana sebuah suara mampu memengaruhi pikiran seseorang.

Empat Sahabat Mulai Saling Curiga

Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova menjadi empat karakter utama yang harus menghadapi situasi tersebut.

Masing-masing membawa luka dan trauma masa lalu. Ketika suara misterius mulai menghasut mereka, persoalan yang sebelumnya tersimpan secara perlahan muncul ke permukaan.

Hubungan antarkarakter pun semakin tidak stabil. Mereka mulai mempertanyakan ucapan satu sama lain dan kesulitan membedakan informasi yang benar dengan manipulasi.

Dalam kondisi seperti itu, rasa takut tidak lagi hanya berasal dari sesuatu yang berada di luar diri mereka. Kecurigaan terhadap orang terdekat justru menjadi sumber ancaman yang semakin nyata.

Ilya Sigma menyutradarai sekaligus menulis naskah film Hasut bersama Priesnanda Dwisatria. Film ini diproduseri Putrama Tuta dan Siera Tamihardja, dengan Nick Musa serta Randi Wibawa sebagai ko-produser.

Rachel Amanda Hadapi Tantangan Syuting di Hutan

Bagi Rachel Amanda, Hasut menjadi pengalaman berbeda karena sebagian besar kekuatan cerita bertumpu pada interaksi empat pemain utama dan suasana lokasi.

Film ini juga menjadi film horor ketiga yang dibintanginya. Tantangan lainnya adalah proses syuting yang sepenuhnya berlangsung di kawasan hutan dengan jumlah karakter utama yang terbatas.

Kondisi tersebut membuat akting keempat pemain menjadi salah satu elemen penting untuk menjaga ketegangan cerita.

"Menonton film Hasut akan membawa kita pada sebuah perasaan tegang, terteror secara psikologis, dan refleksi tentang sebuah relasi terhadap orang terdekat kita. Dan berada di hutan, alam, membuat kita bisa terbuka sisi-sisi yang mungkin selama ini kita tutupi, dan memperlihatkan tentang apakah kita adalah orang yang selama ini menghasut, atau yang dihasut?" ujar Rachel Amanda.

Sementara itu, Karina Salim menyoroti hubungan emosional antara karakternya dengan karakter yang diperankan Rachel Amanda.

Baca Juga: Cerita Gandhi Fernando Putuskan Pindah ke Thailand dan Berkarier Sebagai Sutradara

"Buat aku salah satu adegan paling emosional adalah saat bersama Rachel Amanda, yang cukup menguras emosi. Karena kami berdua di sini adalah kakak-adik, yang memiliki trauma di masa lalu, dan di hutan inilah, keduanya mencoba membicarakannya untuk pertama kalinya. Perasaan luka masa lalu itu juga yang rasanya membuat karakter Vira dan Rere relate dengan banyak orang," ujar Karina.

EDITOR: Abdul Rahman