← Beranda
Sinopsis Film Minamata (2020): Johnny Depp Meliput Pencemaran Lingkungan Akibat Industri Terburuk di Jepang
Alberta Dionny NatanuelSenin, 23 Februari 2026 | 21.26 WIB
Foto 'Tomoko Uemura in Her Bath' (1971) (kanan atas), potret W. Eugene Smith (kiri bawah), dan poster film Minamata (2020) (kanan)

JawaPos.com - Dunia industri memerlukan bahan baku, mesin dan lahan yang besar untuk bekerja demi memenuhi jumlah permintaan masyarakat. Namun, banyak perusahaan tidak berlaku jujur dan merugikan penduduk sekitar. 

Kasus-kasus seperti ini sudah ada sejak lama sekali. Keserakahan dunia korporat mengalahkan hati nurani, dan meninggikan tahta uang. Bahkan beberapa menyuap pemerintahan dan petugas keamanan demi keuntungan mereka. 

Salah satu kasus terburuknya terjadi di sebuah kota pesisir bernama Minamata, bahkan penyakit yang terjadi dinamai sesuai dengan asalnya. 

Dilansir dari NIH, penyakit Minamata terjadi karena seseorang mengkonsumsi ikan atau kerang yang mengandung merkuri dalam jumlah sangat tinggi. 

Merkuri ini didapatkan dari limbah pabrik milik perusahaan bernama Chisso Co., dan yang mengangkat isu ini hingga tingkat internasional adalah seorang fotografer bernama W. Eugene Smith. 

Pada tahun 1971, fotografer asal Amerika Serikat, W. Eugene Smith (Johnny Depp), menjadi terkenal karena hasil jepretannya yang bergaya hitam putih masuk ke majalah terkenal LIFE. Terutama liputan fotonya mengenai Perang Dunia II. 

Namun, sekarang ia sudah tua. Eugene kehabisan ide, topik dan foto untuk dijual, akibatnya ia kehabisan uang untuk hidup pula. Eugene juga jatuh depresi dan dihantui oleh suara-suara senapan, meriam, dan hal-hal yang ia lihat pada saat perang. 

Lalu datanglah Aileen (Minami) di depan pintunya sebagai penerjemah perwakilan Fujifilm. Mereka hendak merekrut Eugene untuk memfoto Gunung Fuji dengan film berwarna. 

Eugene tidak pernah memfoto dengan gaya berwarna, dan tidak akan pernah. Ia sangat ketat dan disiplin dengan gayanya itu. 

Setelah menolak tawaran dari Fujifilm, Aileen menceritakan tentang sebuah komunitas di Minamata, Kumamoto, Jepang, yang terdampak oleh limbah kimia di pesisir mereka. 

Chisso Corporation memiliki sebuah pabrik kimia di sana, dan mereka membuang limbah kimia mereka langsung ke laut. Padahal para penduduk di sana bermata pencaharian sebagai nelayan. 

Mereka tidak hanya menangkap ikan di sana, mereka juga mengkonsumsinya. Limbah kimia tersebut mengandung merkuri yang sangat tinggi, akibatnya banyak orang jatuh sakit bahkan meninggal. 

Para penduduk di sana kalah kuat, karena perusahaan menyuap pemerintahan dan aparat keamanan setempat, serta membutuhkan banyak sekali dukungan, terutama perhatian internasional.

Menyadari betapa gentingnya situasi di sana, Eugene meminta LIFE mengirimnya ke Minamata untuk meliput kejadian tersebut. Lalu berangkatlah ia ke Minamata. 

Di sana, Eugene menumpang tinggal bersama salah satu keluarga setempat dan bekerja bersama salah satu aktivis setempat. Mereka semua juga korban dari pencemaran limbah. 

Tidak hanya menarik perhatian warga setempat, Eugene juga menarik perhatian presiden Chisso. Awalnya perusahaan hendak menyuap Eugene, tapi untungnya gagal karena Eugene tahu apa yang telah mereka lakukan. 

Dilansir dari The Asahi Shimbun, hingga awal Februari ini, walaupun Minamata telah dinyatakan bersih dari merkuri, para korbannya masih menderita penyakit yang disebabkan olehnya. 

Dilansir dari Aileen Archive, hingga pendataan pada tahun 2009, diperkirakan hingga dua ratus ribu lebih orang terpapar lumbar tersebut. Hingga tahun 2024, setidaknya tujuh puluh ribu orang telah menerima kompensasi. 

Melalui film Minamata (2020), kita dapat mengerti betapa pentingnya kebersihan alam dan kesadaran akan limbah kimia di sekitar kita. Kita juga ditunjukkan kasus polusi industri terburuk di Jepang yang telah memakan ratusan ribu jiwa, dengan harapan agar hal tersebut tidak terjadi lagi. 

Film ini mendapatkan skor 7.2/10 di IMDb dan 78% Tomatometer di Rotten Tomatoes. 

EDITOR: Candra Mega Sari