← Beranda
'Joker: Folie à Deux': Ketika Sang Badut Brutal Menjelma jadi Badut Musikal Gara-gara Asmara di Dalam Penjara.
Banu AdikaraRabu, 2 Oktober 2024 | 22.07 WIB
Adegan dalam film Joker: Folie a Deux. (Warner Bros)

JawaPos.com Kesuksesan besar sebuah judul film, baik dalam segi pendapatan maupun penghargaan, biasanya akan diikuti oleh judul berikutnya, entah itu sebuah sekuel atau prekuel. Seperti yang sudah terjadi di banyak film, harus diakui bahwa tidak semua sekuel maupun prekuel ini memiliki kualitas yang sama baiknya dengan karya pendahulunya.

Inilah yang, sayangnya, terjadi pada Joker: Folie a Deux, sekuel dari Joker (2019) yang mendapat apresiasi begitu luar biasa dari para pecinta film dunia.

Sebelum membahas lebih dalam mengapa Joker: Folie a Deux adalah sebuah karya yang tidak sesuai ekspektasi, ada baiknya kita menengok sejenak apa yang terjadi lima tahun silam di film pertamanya.

Arthur Fleck (Joaquin Phoenix), adalah seorang pria paruh baya dengan hidup yang menyedihkan. Ia kerap mendapatkan perundungan di manapun ia berada. Sebuah penyakit bernama pathological laughter yang diidapnya juga membuatnya kerap menjadi bahan cemooh khalayak umum lantaran Fleck bisa tiba-tiba tertawa terbahak-bahak di luar kendalinya.

Tekanan sosial yang begitu keras serta masa lalu yang kelam akhirnya membuat Fleck membangunkan sosok monster di dalam dirinya: sebuah simbol teror, anarki dan vandalisme berwujud badut maniak bernama Joker.

Kepiawaian Joaquin Phoenix, yang menjadi kekuatan utama dalam Joker, membuat film ini meraih kesuksesan besar. Film dengan budget 70 juta USD ini meraup keuntungan yang fantastis di angka 1,079 miliar USD. Sang aktor bahkan diganjar Piala Oscar untuk kategori Best Actor dalam perhelatan 92nd Academy Awards.

Meledaknya Joker pun membuat sang sutradara, Todd Phillips membuat film keduanya untuk melanjutkan legasi Arthur Fleck. Menggandeng aktris dan penyanyi Lady Gaga yang berperan sebagai Harleen Quinzel, Joker: Folie a Deux pun akhirnya rilis di bioskop pada 2 Oktober 2024, hari ini.

Namun, dari sudut pandang pribadi, dengan amat sangat disayangkan harus dikatakan bahwa Joker: Folie a Deux adalah sebuah film yang justru menodai wibawa dan keagungan Joker sebagai salah satu sosok antagonis tersohor di dunia pop culture.

Joker: Folie a Deux mengambil latar kejadian pasca kegilaan Joker di film pertamanya, tepatnya saat ia menembak mati seorang pembawa acara bernama Murray Franklin (Robert De Niro) saat diundang sebagai bintang tamu.

Tindakannya itu membuat Joker harus mendekam di dalam rumah sakit jiwa merangkap penjara Arkham State Hospital, sebuah tempat di mana orang-orang dengan gangguan mental dan berbahaya dijebloskan. Di tempat ini lah Joker kemudian bertemu dengan Harleen Quinzel, seorang perempuan muda problematik yang harus mendekam di sana karena telah membakar apartemen orang tuanya.

Dalam komik, Harleen Quinzel umumnya lebih populer dengan sebutan Harley Quinn. Ia adalah tangan kanan Joker dalam menjalankan aksinya meneror Gotham City.

Baca Juga: 5 Cara Optimalkan Profil LinkedIn Agar Dilirik HR Perusahaan

Tidak butuh waktu lama bagi Joker dan Lee, sapaan Harleen, untuk saling jatuh hati satu sama lain. Lee begitu mengagumi sosok Joker, sementara Joker merasa telah menemukan tambatan hatinya di tengah penolakan yang selalu ia terima dalam hidup.

Hubungan antara Joker dan Lee pun terus berlanjut dan bereskalasi, seiring dengan persidangan yang harus dijalani oleh sang badut untuk lolos dari hukuman mati.

Seperti film pertamanya, sutradara Todd Phillips masih menggunakan formula yang sama, yakni plot amat sederhana yang diperkuat dengan kualitas akting para lakon di dalamnya. Joaquin Phoenix, lagi-lagi, bisa menunjukkan kualitas seni perannya yang jempolan dalam film ini.

Untuk menghadirkan sesuatu yang baru, Todd Phillips melakukan sebuah langkah cukup ekstrim dengan menambahkan x-factor yang sungguh tak disangka-sangka: elemen musikal.

Ya. Joker: Folie a Deux adalah sebuah film musikal.

Joker, si badut maniak nan brutal, disulap menjadi badut bucin nan musikal. Inilah yang menjadi masalah utama dari film ini.

Berdurasi selama 138 menit, Joker: Folie a Deux menyuguhkan serentetan adegan musikal ala Disney yang dikumandangkan oleh Joker dan Lee di mana mereka bernyanyi dan berdansa-dansi dalam suasana kekacauan.

Adegan-adegan ini mungkin masih bisa termaafkan jika hanya terjadi satu atau dua kali. Tapi, ketika sudah terjadi lebih dari tiga kali, Joker: Folie a Deux berubah menjadi sebuah film yang bikin frustrasi dan menjemukan.

Hilangnya image Joker yang mengerikan dan digantikan dengan Joker yang kasmaran adalah alasan utama mengapa elemen musikal begitu merusak film ini.

Tidak ada lagi Joker yang tertawa menyeringai dengan dialognya yang menusuk psikologi. Yang ada hanya seorang tahanan mabuk kepayang yang selalu bernyanyi tiap kali ia membayangkan sang kekasih hati yang sama gilanya dengan dirinya.

Bagi penonton yang sudah memahami betul watak Joker, rasanya tidak berlebihan untuk menyebut apa yang dilakukan Arthur Fleck dalam film ini adalah sebuah penghinaan terhadap sosok musuh besar Batman tersebut.

Apa pernah terbayang di benak Anda seorang Joker menyanyikan lagu Close To You dengan tatapan penuh cinta? Saya yakin tidak.

Adanya elemen musikal ini juga membuat kemampuan akting Lady Gaga menjadi tidak tergali sama sekali. Chemistry antara Joker dan Lee yang harusnya terbangun dengan baik di dalam penjara pun sama sekali tidak terlihat di sini.

Alih-alih membuat Joaquin Phoenix dan Lady Gaga beradu watak antara sesama pengidap mental health yang menyukai kehancuran dan ketidakteraturan, sutradara Todd Phillips justru memilih untuk mengeksploitasi kemampuan bernyanyi Lady Gaga yang, sejujurnya, sangat tidak menolong untuk membuat Joker: Folie a Deux menjadi sebuah film yang lebih mewah dari film pertamanya.

Walau mengecewakan, tidak adil rasanya untuk mengatakan bahwa film ini tidak layak tonton. Bagi Anda yang terkesima dengan film pertamanya dan penasaran bagimana nasib Arthur Fleck setelah ia berubah menjadi Joker, film ini akan menjawab pertanyaan itu.

Tanpa membocorkan apa yang terjadi di akhir film, ending dari film ini juga menyempurnakan perjalanan Arthur Fleck sebagai Joker yang terjal dan penuh liku.

Hanya saja, buang jauh-jauh ekspektasi film ini akan jauh lebih seru dan menegangkan dari pendahulunya, karena Joker: Folie a Deux tidak lebih dari sebuah film tentang seorang badut brutal yang menjelma menjadi badut musikal gara-gara asmara di dalam penjara.

 

 

EDITOR: Banu Adikara