JawaPos – Banjir yang menerjang lima desa di Jabon mulai surut. Mayoritas rumah di Dusun Penumpakan, Desa Semambung, sudah tidak lagi terendam air. Namun, masih banyak warga yang memilih bertahan di balai dusun.
Berdasar pengamatan Selasa (7/2), air yang menggenangi jalan perkampungan Dusun Penumpakan telah menyusut. Sepeda motor bisa melintas di akses tersebut. Memang masih ada genangan di dekat balai dusun. Namun, ketinggiannya hanya berkisar 20 sentimeter.
Masuk ke perkampungan, tepatnya di RT 1, genangan air tidak lagi masuk ke rumah warga. Lima hari lalu RT 1–RT 4 merupakan titik banjir paling parah di Penumpakan. Ketinggian air mencapai selutut.
Suyadi, warga Dusun Penumpakan, menuturkan bahwa dua hari terakhir air mulai surut. Menyusutnya ketinggian air tersebut turut dibantu cuaca. Dua hari terakhir ini wilayah Jabon tidak diguyur hujan. ’’Sehingga air cepat surut,’’ katanya.
Pria berusia 38 tahun itu menambahkan, menurunnya genangan air dimanfaatkan warga untuk beraktivitas. Mulai membersihkan rumah, mengepel lantai, hingga menjemur kursi. ’’Saya barusan mengepel rumah. Karena direndam air berhari-hari, baunya jadi tidak enak,’’ ucap Suyadi.
Meski sudah surut, kondisi Balai Dusun Penumpakan masih tetap ramai. Siang itu sekitar 20 orang tampak berkumpul. Ada yang beristirahat, ada pula yang berbincang. Mereka, tampaknya, sedang menunggu jatah makan siang yang disiapkan relawan.
Salah satunya Komsiah. Perempuan 49 tahun itu terlihat asyik mengisi waktunya dengan ngobrol bersama warga lain. Dia sesekali melihat video ludruk yang diputar sebagai hiburan. ’’Habis masak langsung ke balai dusun,’’ jelasnya. Setiap siang sampai sore dia datang ke balai dusun. Meski air mulai surut, dia tetap datang ke lokasi pengungsian. ’’Jaga-jaga kalau banjir datang lagi,’’ ungkap Komsiah.
Kepala Dusun Penumpakan Samian menyatakan, jumlah pengungsi yang terdata di balai dusun masih sama. Yaitu, 185 orang. Warga ditempatkan di pendapa dusun. Fasilitas bagi pengungsi dicukupi. Yakni, terpal untuk tidur, makan tiga hari sekali, dan obat-obatan.
Samian menjelaskan, menurunnya ketinggian air dimanfaatkan warga untuk kembali bekerja. Terutama warga yang bekerja di wilayah Pasuruan sebagai pekerja pabrik. ’’Kini mereka bisa kembali kerja. Dulu gak bisa karena jalan tidak bisak dilewati sepeda motor,’’ paparnya.
Namun, para petani belum bisa bekerja. Sebab, lahan pertanian seluas 130 hektare di wilayah tersebut masih terendam air. Pria 64 tahun itu mengatakan, saat ini pemkab memang sudah memasang tujuh pompa air di wilayah Tambak Kalisogo. Dia berharap pompa tersebut segera diaktifkan sehingga areal persawahan bisa cepat kering.
Samian menambahkan, jika banjir sudah benar-benar surut, tempat pengungsian di balai dusun tersebut tidak akan dilanjutkan. Warga akan kembali menjalani kehidupan normal di rumah masing-masing. ’’Kalau hujan turun lagi ya kami perpanjang,’’ tuturnya.
Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Sidoarjo terus berupaya menurunkan ketinggian genangan air. Mereka telah menempatkan tujuh pompa di Tambak Kalisogo. Namun, hingga kini pompa itu belum difungsikan. Petugas masih membangun saluran air dari dam Golondoro ke tempat penampungan air.
Kepala Dinas PUPR Sidoarjo Sigit Setyawan menuturkan, pihaknya berencana membangun saluran air dan tempat penampungan air yang sifatnya permanen. Langkah tersebut menjadi bentuk antisipasi lantaran kondisi Jabon setiap tahun selalu dilanda banjir. ’’Rencananya kami permanenkan,’’ ucapnya.
PUPR juga menormalisasi Kalimati di wilayah Kedungpandan. Dua alat berat diturunkan untuk membangun dam buatan. Tanah dan sedimentasi Kalimati dimanfaatkan untuk membuat tanggul air. Memanjang dari Kedungpandan ke Kedungrejo.
Sigit menjelaskan, pembangunan dam itu berguna untuk mengatasi bocoran air dari arah Pasuruan. Menurut dia, salah satu penyebab banjir yang melanda Jabon adalah air kiriman dari Pasuruan. ’’Harapannya, dam sementara ini bisa mencegah air luberan dari Kalimati,’’ paparnya.
Di bagian lain, rencana besar Pemprov Jatim untuk meningkatkan fungsi sungai di lima titik rawan banjir selangkah lagi terwujud. Pemprov Jatim bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas sedang menyiapkan normalisasi lengkap dengan pembangunan sejumlah tanggul. Tujuannya, mewujudkan Jatim bebas banjir. Itu merupakan salah satu output pertemuan yang dilakukan dua pihak pada Selasa itu.
Lima titik saluran yang bakal mendapat penanganan khusus tersebut, antara lain, Kali Kedunglarangan, Sidoarjo; Kali Kemuning, Sampang; Kali Sadar, Mojokerto; Kali Bogel, Blitar, dan Kali Dawir, Tulungagung.
Anggota Komisi D DPRD Jatim Hammy Wahjunianto menjelaskan, sebenarnya ada delapan titik sungai yang mendapat perhatian khusus dari pemprov. Namun, tahun ini lima saluran tersebut diprioritaskan. Sebab, lima titik itu merupakan titik rawan penyebab banjir dengan dampak signifikan.
Politikus PKS tersebut menerangkan, pengerjaan normalisasi di sejumlah titik rawan banjir itu bakal dilakukan pertengahan tahun ini dengan metode multiyear. Pengerjaannya rampung sekitar 3–4 tahun mendatang dengan total biaya Rp 250 miliar. Khusus aliran Kedunglarangan, Sidoarjo, pemprov mengalokasikan anggaran Rp 8 miliar.
Di beberapa titik normalisasi tersebut, termasuk Kali Kedunglarangan, Sidoarjo, pemprov telah menerapkan rencana taktis. Pada tahun pertama hinga tahun kedua pemprov fokus pada progres jangka pendek. Bentuknya berupa pengerukan dan perbaikan saluran. Sebab, sudah terlalu banyak residu di kawasan tersebut. ’’Dasar sungai perlu dikeruk. Dasarnya harus diperdalam,’’ jelas Hammy.
Untuk jangka panjang, pihaknya akan membangun sejumlah tanggul agar lapisan tanah di sekitar sungai lebih kukuh. ’’Kita juga bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam menjalankan rencana jangka pendek dan jangka panjang itu,’’ jelasnya.
Sementara itu, teror pohon tumbang saat hujan di wilayah Kota Delta kembali terjadi. Meski hujan disertai angin hanya turun sekitar 30 menit Selasa (7/2), beberapa pohon ambruk di beberapa titik. Bahkan, ada yang menimpa warung dan mengakibatkan kemacetan. Untung, tidak ada korban jiwa.
Salah satu pohon tumbang berada di kawasan Candi. Persis di depan toko besi, Jalan HM. Ridwan Gelam. Robohnya pohon trembesi berukuran besar tersebut tentu membuat kaget dan panik beberapa pengendara yang sedang melewatinya. Syukurlah, mereka berhasil selamat dari ancaman kecelakaan. Namun, pohon setinggi 7 meter itu sempat menghalangi separo badan jalan dan memicu kemacetan.
Lalu lintas kembali normal setelah tim dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo datang. Pohon ditebang menjadi beberapa bagian, lalu dipindahkan dengan alat berat.
Pohon roboh juga terjadi di Jalan Raya Juanda. Ada dua pohon yang tumbang. Masing-masing berjenis angsana dan trembesi. Untung, tidak ada pengendara yang tertimpa. Dua pohon tumbang itu langsung ditangani pihak Angkasa Pura. Tim dari DLHK juga diterjunkan.
Kepala Bidang Pertamanan DLHK Heksa Widagdo mengatakan, pihaknya sebenarnya sudah melakukan berbagai langkah untuk mencegah pohon tumbang saat hujan. ’’Kami sudah menginventarisasi pohon yang layak tebang. Petugas penebang juga selalu siaga. Ya, tapi bagaimana lagi, alamnya begini,’’ ujarnya.
Menurut Kepala Seksi Pertamanan DLHK Moch. Rochjadi Hafiluddin, pohon-pohon yang ambruk hari itu tidak masuk dalam prioritas tebang. Akarnya masih kuat dan rantingnya sudah dikepras. Faktor angin yang sangat kencang membuat batang pohon itu tidak mampu bertahan. Ditambah lagi, kondisi pohon yang ditancapi reklame-reklame bodong dengan paku.
’’Terjadi banyak pembusukan di dalamnya. Padahal, tim sosialisasi DLHK sudah rutin menggelar aksi cabut paku,’’ ucapnya, prihatin.
Satu titik lagi yang dilaporkan terjadi kasus pohon tumbang berlokasi di RT 3, RW 1, Desa Kemasan, Krian. Lagi-lagi, yang tumbang pohon trembesi. Padahal, batangnya sudah besar. Malangnya, sebuah warung menjadi korban dari robohnya pohon tersebut. Untuk memindahkannya, tidak hanya dibutuhkan backhoe, tapi juga tenaga belasan orang. Saking besarnya, pohon setinggi 9 meter dan berdiameter 50 sentimeter itu baru bisa dievakuasi dalam waktu tiga jam. (aph/jos/via/c7/c15/pri/sep/JPG)