JawaPos.com - Mengurangi sampah tidak selalu harus dimulai dengan membeli berbagai produk ramah lingkungan. Kebiasaan sederhana seperti menggunakan barang lebih lama, memperbaiki barang yang rusak, hingga mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup zero waste.
Istilah zero waste mungkin masih identik dengan penggunaan tumbler, tas belanja, sedotan pakai ulang atau berbagai produk yang dirancang untuk mengurangi sampah. Padahal, prinsip zero waste tidak berhenti pada barang apa yang digunakan, tetapi juga bagaimana seseorang mengurangi konsumsi dan memperpanjang masa pakai barang.
Secara sederhana, zero waste merupakan pendekatan untuk mengurangi timbulan sampah dengan mendorong penggunaan sumber daya secara lebih bijak. Prinsipnya dapat dilakukan melalui upaya mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menggunakan kembali, memperbaiki, dan mengolah barang agar tidak langsung berakhir sebagai sampah.
Baca Juga: Tak Ingin Cepat Loyo di Usia 60-an? Biasakan 5 Hal Ini Setiap Hari
Kebiasaan tersebut mulai diterapkan oleh sebagian generasi muda. Berdasarkan laporan GoodStats mengenai penerapan zero waste pada generasi muda pada 2023, sebanyak 55% responden tercatat membawa tas jinjing ketika berbelanja dan menggunakan tumbler.
Selain itu, 54% responden mulai mengurangi penggunaan plastik, 46% membawa tempat makan sendiri sedangkan 15% memilih produk yang dinilai ramah lingkungan.
Data tersebut menunjukkan bahwa penerapan prinsip zero waste dapat dilakukan melalui kebiasaan sehari-hari. Tidak harus langsung mengubah seluruh pola konsumsi, beberapa kebiasaan kecil dapat menjadi langkah awal.
1. Gunakan Barang yang Sudah Dimiliki
Langkah pertama justru tidak perlu dilakukan dengan membeli barang baru. Coba gunakan terlebih dahulu barang yang sudah tersedia di rumah. Botol minum, tas belanja, wadah makanan atau perlengkapan rumah tangga yang masih layak digunakan tidak harus diganti hanya karena ingin mengikuti tren zero waste.
Semakin lama suatu barang digunakan, semakin panjang pula masa pakainya. Kebiasaan tersebut dapat membantu mengurangi kebutuhan untuk membeli barang pengganti.
2. Kurangi Penggunaan Barang Sekali Pakai
Pengurangan sampah juga dapat dimulai dari barang yang digunakan sehari-hari. Membawa tas belanja sendiri atau menggunakan botol minum yang dapat dipakai berulang kali merupakan beberapa contoh sederhana.
Tidak perlu mengganti seluruh kebiasaan sekaligus. Pilih barang sekali pakai yang paling sering digunakan dan cari alternatif yang dapat digunakan kembali.
Baca Juga: Jasaraharja Putera Salurkan Santunan bagi Korban KM Virgo, Per Jiwa Dapat Rp 70 Juta
3. Perbaiki Barang Sebelum Membuangnya
Barang rusak tidak selalu berarti sudah tidak berguna. Jika kerusakannya masih dapat diperbaiki, pertimbangkan untuk memperpanjang masa pakainya. Pakaian yang robek, tas dengan bagian yang rusak atau perabot rumah tangga yang mengalami kerusakan ringan dapat diperbaiki sebelum membeli barang baru.
Kebiasaan repair juga membantu mengubah cara pandang terhadap barang. Sesuatu yang rusak tidak selalu harus langsung berakhir di tempat sampah.
4. Manfaatkan Sisa Makanan
Sampah rumah tangga tidak hanya berasal dari plastik atau kemasan. Sisa makanan juga menjadi bagian dari sampah yang dihasilkan setiap hari.
Sisa buah dan sayuran tertentu dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos. Dengan pengolahan yang tepat, bahan organik tersebut dapat diubah menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanah dan tanaman.
Tidak memiliki komposter khusus bukan berarti tidak bisa mulai mengompos. Wadah bekas seperti ember dapat dimanfaatkan untuk membuat komposter sederhana selama sesuai dengan metode pengomposan yang digunakan.
Namun, perlu diperhatikan bahwa tidak semua sisa makanan cocok untuk komposter rumah. Jenis bahan, kelembapan, sirkulasi udara, dan metode pengomposan perlu disesuaikan agar proses berjalan dengan baik.
5. Pilih Produk Isi Ulang
Ketika suatu produk memang harus dibeli, pilihan isi ulang dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi penggunaan kemasan.
Produk refill memungkinkan wadah tertentu digunakan kembali sehingga tidak selalu membutuhkan wadah baru setiap kali membeli produk.
Meski begitu, prinsip zero waste tetap dimulai dari kebutuhan. Membeli produk isi ulang dalam jumlah berlebihan juga tidak sejalan dengan upaya mengurangi konsumsi.
6. Gunakan Kembali Barang yang Masih Layak
Sebelum membuang barang, coba lihat apakah barang tersebut masih bisa digunakan untuk fungsi lain.
Kardus, wadah bekas, pakaian, hingga perabot tertentu mungkin masih dapat digunakan kembali. Jika tidak lagi dibutuhkan, barang yang masih layak juga dapat diberikan kepada orang lain yang membutuhkan.
Dengan begitu, masa guna barang dapat diperpanjang sebelum akhirnya menjadi sampah.
Baca Juga: Diam-Diam Jadi Kaya, 7 Weton Ini Konon Punya Keberuntungan Finansial yang Menonjol
7. Jangan Menjadikan Zero Waste sebagai Alasan untuk Belanja
Salah satu hal yang sering luput ketika membicarakan gaya hidup zero waste adalah kebiasaan membeli produk baru demi terlihat lebih ramah lingkungan.
Memiliki tumbler, tas belanja atau wadah makanan memang dapat membantu mengurangi penggunaan barang sekali pakai jika digunakan secara konsisten. Namun, membeli barang baru ketika barang lama masih berfungsi justru dapat menambah konsumsi.
Karena itu, menerapkan zero waste tidak harus dimulai dengan checkout barang baru.
Mulailah dari apa yang sudah dimiliki. Gunakan lebih lama, perbaiki ketika rusak, gunakan kembali jika masih memungkinkan, dan kurangi pembelian barang yang tidak benar-benar dibutuhkan.
Tidak perlu menunggu memiliki banyak barang atau biaya lebih untuk memulainya. Bahkan, kebiasaan paling sederhana dapat dimulai hari ini dari barang yang sudah ada di rumah.