JawaPos.com – Masa kehamilan kerap menjadi momen yang penuh kebahagiaan bagi sebuah keluarga.
Kehadiran calon buah hati tentu membuat pasangan suami istri mulai memberikan perhatian lebih terhadap berbagai hal.
Namun, di tengah kebahagiaan tersebut, tidak sedikit pula pantangan yang berkembang di masyarakat.
Salah satu yang cukup sering terdengar adalah larangan bagi seorang suami untuk pergi jauh atau bekerja di tempat tertentu ketika istrinya sedang hamil.
Bahkan, bagi keluarga yang bekerja sebagai nelayan, muncul pula pertanyaan: apakah suami yang istrinya sedang hamil diperbolehkan pergi melaut dan menangkap ikan?
Sebagian masyarakat memiliki kepercayaan bahwa suami sebaiknya tidak pergi mencari ikan selama istrinya mengandung.
Terlebih ketika usia kehamilan mulai memasuki bulan-bulan tertentu.
Jika pantangan tersebut dilanggar, ada kekhawatiran sesuatu yang buruk akan terjadi kepada ibu maupun bayi yang masih berada dalam kandungan.
Lantas, bagaimana seharusnya seorang muslim menyikapi berbagai pantangan tersebut?
Dilansir dari kanal YouTube Islam Kaffah, Kamis (3/9), berikut penjelasannya.
Suami Tetap Memiliki Kewajiban Mencari Nafkah
Dalam kehidupan rumah tangga, mencari nafkah merupakan salah satu bentuk tanggung jawab yang dijalankan seorang suami.
Bagi nelayan, laut adalah tempat untuk bekerja dan memperoleh penghasilan.
Aktivitas melaut menjadi bagian dari kehidupan yang tidak mudah ditinggalkan begitu saja.
Karena itu, kehamilan istri tidak serta-merta berarti seorang suami harus berhenti bekerja selama sembilan bulan.
Dalam narasi keagamaan yang disampaikan, seorang suami yang bekerja sebagai nelayan tetap diperbolehkan melaut dan mencari nafkah.
Tentu, hal tersebut harus dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi keluarga.
Apabila istri membutuhkan pendampingan karena kondisi kesehatannya, suami dan keluarga dapat mengambil langkah yang sesuai.
Komunikasi serta perhatian terhadap kebutuhan ibu hamil juga tetap menjadi hal penting.
Namun, larangan bekerja semata-mata karena takut aktivitas tersebut akan membawa kesialan kepada janin perlu disikapi dengan bijaksana.
Jangan Menganggap Benda Memiliki Kekuatan Sendiri
Salah satu pesan utama dalam narasi tersebut adalah pentingnya menjaga keyakinan bahwa segala manfaat dan perlindungan pada hakikatnya berasal dari Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sering menjumpai berbagai benda atau simbol yang dipercaya memiliki kekuatan tertentu.
Ada yang menganggap benda tertentu mampu menolak bala.
Ada pula yang percaya hari tertentu dapat membawa keberuntungan atau justru mendatangkan kesialan.
Dalam pandangan Islam, seorang muslim perlu berhati-hati terhadap keyakinan yang memberikan kekuatan mutlak kepada benda, waktu, atau sesuatu selain Allah untuk mendatangkan manfaat dan menolak mudarat secara mandiri.
Sebab, keyakinan tersebut dapat berkaitan dengan persoalan akidah.
Kalimat la haula wa la quwwata illa بالله atau la haula wa la quwwata illa billah mengingatkan manusia bahwa tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Dengan demikian, seorang muslim dianjurkan untuk tidak menggantungkan rasa aman kepada benda-benda tertentu atau mempercayai bahwa sebuah aktivitas secara otomatis dapat mendatangkan musibah.
Melaut Bukan Penyebab Bahaya bagi Ibu dan Janin
Seorang suami yang pergi menangkap ikan pada dasarnya sedang menjalankan pekerjaannya.
Tidak ada hubungan sebab-akibat yang dapat dibuktikan secara otomatis antara aktivitas mencari ikan dengan keselamatan janin di dalam kandungan.
Kehamilan merupakan proses biologis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor kesehatan.
Kondisi ibu, pemeriksaan kehamilan, asupan nutrisi, penyakit tertentu, kondisi medis, hingga akses terhadap pelayanan kesehatan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi.
Karena itu, keluarga sebaiknya tidak hanya mengandalkan berbagai pantangan yang berkembang secara turun-temurun.
Perhatian terhadap kesehatan ibu hamil tetap harus menjadi prioritas.
Melakukan pemeriksaan secara berkala, memenuhi kebutuhan nutrisi, mendapatkan istirahat yang cukup, serta mengikuti saran tenaga kesehatan merupakan bentuk ikhtiar yang dapat dilakukan.
Sementara itu, suami tetap dapat menjalankan kewajibannya mencari nafkah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan keluarga.
Menguatkan Diri dengan Doa
Narasi tersebut juga mengajak umat Islam untuk memperbanyak doa sebagai bentuk memohon perlindungan kepada Allah.
Ketika seorang istri sedang mengandung, suami dan keluarga tentu memiliki rasa khawatir terhadap kondisi ibu maupun calon bayi.
Rasa khawatir merupakan sesuatu yang manusiawi.
Namun, kekhawatiran tersebut dapat disertai dengan ikhtiar dan doa.
Membaca Al-Fatihah, ayat-ayat Al-Qur'an, serta berbagai doa perlindungan merupakan bagian dari praktik keagamaan yang dilakukan oleh banyak muslim.
Bagi sebagian orang, membaca Al-Qur'an juga dapat memberikan ketenangan batin.
Namun, doa dan praktik spiritual tetap tidak boleh menggantikan pemeriksaan maupun penanganan medis apabila ibu hamil mengalami keluhan kesehatan.
Jika muncul tanda-tanda yang mengkhawatirkan, keluarga sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan.
Jangan Mudah Menyalahkan Gangguan Gaib atas Masalah Kesehatan
Dalam masyarakat, berbagai kondisi fisik dan emosional terkadang dikaitkan dengan gangguan makhluk gaib.
Misalnya, ketika seseorang mengalami perubahan suasana hati, kelelahan, atau kondisi kesehatan tertentu.
Narasi tersebut juga menghubungkan kondisi tubuh yang lemah dan emosi yang tidak stabil dengan kemungkinan datangnya gangguan setan.
Namun, dalam kehidupan modern, perubahan kondisi fisik maupun emosional perlu dipahami secara lebih luas.
Ibu hamil dapat mengalami perubahan hormon yang memengaruhi kondisi tubuh dan suasana hati. Begitu pula perempuan yang sedang mengalami menstruasi.
Perubahan tersebut merupakan proses biologis yang dapat terjadi secara alami.
Karena itu, penting untuk tidak serta-merta menganggap setiap perubahan emosi atau keluhan kesehatan sebagai gangguan gaib.
Jika seseorang mengalami kondisi kesehatan yang mengganggu, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mencari pertolongan dan penanganan yang tepat.
Keyakinan spiritual dapat menjadi bagian dari kehidupan seseorang, tetapi penjelasan medis tetap diperlukan dalam memahami masalah kesehatan.
Kelelahan dan Kelaparan Juga Harus Diperhatikan
Narasi tersebut juga mengingatkan tentang pentingnya menjaga kondisi tubuh.
Seseorang yang tidak makan dan minum dalam waktu lama dapat mengalami berbagai gangguan fisik, seperti lemas, pusing, bahkan kehilangan kesadaran dalam kondisi tertentu.
Kondisi tersebut tentu tidak seharusnya dianggap sepele.
Menjaga tubuh agar tetap sehat merupakan bagian dari ikhtiar manusia.
Makan dengan cukup, memenuhi kebutuhan cairan, serta beristirahat menjadi hal yang penting bagi siapa pun, terutama ibu hamil.
Kelelahan berlebihan juga dapat memengaruhi kondisi fisik dan emosional seseorang.
Karena itu, keluarga perlu saling memberikan dukungan selama masa kehamilan.
Suami yang bekerja tetap dapat menunjukkan perhatian kepada istrinya, meskipun harus menjalankan aktivitas untuk mencari nafkah.
Begitu pula keluarga dapat membantu memastikan ibu hamil tidak menghadapi seluruh proses kehamilan seorang diri.
Tradisi Boleh Dihormati, tetapi Keyakinan Perlu Dipahami
Indonesia memiliki beragam tradisi dan kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun.
Pantangan selama kehamilan pun berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Sebagian larangan mungkin memiliki nilai budaya yang masih dijaga oleh masyarakat.
Namun, penting untuk membedakan antara tradisi, keyakinan agama, dan fakta yang dapat dibuktikan secara medis.
Menghormati tradisi bukan berarti harus mempercayai seluruh hal secara harfiah.
Demikian pula, seseorang tidak perlu hidup dalam ketakutan hanya karena sebuah pantangan.
Seorang suami yang istrinya sedang hamil tidak perlu menghentikan seluruh pekerjaannya hanya karena khawatir aktivitas tersebut akan mendatangkan bahaya secara gaib.
Bagi nelayan, pergi melaut dapat menjadi bagian dari perjuangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Yang terpenting adalah tetap menjaga komunikasi dengan istri, memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi, serta memberikan perhatian terhadap kondisi kehamilan.
Kehamilan Membutuhkan Ikhtiar dan Dukungan Bersama
Masa kehamilan merupakan perjalanan yang membutuhkan perhatian dari seluruh keluarga.
Ibu hamil membutuhkan dukungan secara fisik maupun emosional.
Suami tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk mencari nafkah, tetapi juga perlu memberikan rasa aman dan pendampingan kepada istrinya.
Ketika pekerjaan mengharuskan suami pergi jauh, komunikasi dapat menjadi salah satu cara untuk tetap memberikan dukungan.
Keluarga lain juga dapat membantu mendampingi ibu hamil, terutama ketika suami sedang bekerja.
Pada akhirnya, keselamatan ibu dan bayi tidak ditentukan oleh mitos tentang apakah seorang suami boleh atau tidak pergi menangkap ikan.
Kehamilan perlu dijaga melalui berbagai bentuk ikhtiar nyata.
Pemeriksaan kesehatan secara rutin, pola makan yang baik, istirahat yang cukup, serta perhatian terhadap kondisi ibu merupakan langkah yang jauh lebih penting.
Bagi umat beragama, seluruh ikhtiar tersebut juga dapat disertai dengan doa dan tawakal kepada Allah.
Seorang suami pun dapat melangkahkan kaki untuk mencari nafkah dengan keyakinan dan tanggung jawab.
Sementara keluarga yang ditinggalkan tetap saling menjaga dan memberikan perhatian.
Sebab, kehamilan bukan alasan untuk hidup dalam ketakutan terhadap berbagai pantangan.
Sebaliknya, masa tersebut dapat menjadi kesempatan bagi seluruh anggota keluarga untuk saling menguatkan, menjaga kesehatan, serta mempersiapkan kehadiran anggota keluarga baru dengan penuh kasih sayang.