JawaPos.com – Dalam pernikahan, komunikasi menjadi salah satu fondasi penting untuk menjaga kedekatan pasangan. Namun, ketika empati mulai hilang, percakapan sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Menurut YourTango, terdapat sejumlah kalimat kasar yang kerap digunakan pria ketika mereka tidak menunjukkan kepedulian terhadap perasaan istrinya.
Salah satunya adalah “Kamu berlebihan” atau “You're overreacting.” Kalimat tersebut dapat membuat istri merasa emosinya tidak valid, terlebih ketika ia sebenarnya sedang berusaha menyampaikan beban atau masalah yang dirasakan. Alih-alih memahami situasi, ucapan itu justru berpotensi membuat pasangan merasa tidak didengar.
Ucapan lain yang tak kalah menyakitkan adalah “Terserah kamu” dan “Kamu selalu begini.” Dalam konteks tertentu, “terserah kamu” bisa terdengar seperti memberikan kebebasan, tetapi jika disampaikan dengan sikap dingin, kalimat itu dapat membuat pasangan merasa diabaikan.
Sementara itu, kata “selalu” cenderung menggeneralisasi sebuah kesalahan sehingga persoalan sesaat terasa seperti serangan terhadap karakter seseorang.
Ada pula kalimat “Kamu bertingkah seperti ibumu”, yang menurut YourTango dapat menjadi bentuk penggunaan masa lalu atau dinamika keluarga pasangan sebagai senjata dalam pertengkaran.
Membandingkan pasangan dengan orang lain, apalagi untuk membuatnya merasa bersalah, berpotensi memperlebar jarak emosional dalam hubungan.
Kalimat “Ini rumah saya” juga dapat menjadi tanda komunikasi yang tidak sehat ketika digunakan untuk merendahkan atau mengontrol pasangan.
Dalam pernikahan, kehidupan pasangan seharusnya dibangun sebagai kehidupan bersama, bukan dijadikan alat untuk menunjukkan siapa yang memiliki kuasa lebih besar.
Begitu pula dengan ucapan “Aku sudah selesai” atau “I'm done” yang dilontarkan saat marah. Meski terkadang tidak benar-benar bermaksud mengakhiri hubungan, kalimat tersebut tetap dapat menimbulkan luka dan ketidakamanan.
Pada akhirnya, persoalan bukan semata-mata terletak pada enam kalimat tersebut, melainkan pola komunikasi dan konteks ketika kata-kata itu digunakan.
Pernikahan yang sehat membutuhkan ruang bagi kedua pasangan untuk menyampaikan perasaan tanpa direndahkan atau dibuat merasa tidak penting.
Karena itu, memilih kata dengan lebih bijak dan berusaha memahami emosi pasangan dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga hubungan tetap saling menghargai.
***