← Beranda
Ingin Mental Lebih Sehat? Terapkan 7 Kebiasaan Ini Setiap Hari Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSabtu, 22 Agustus 2026 | 15.27 WIB
seseorang yang menjaga kesehatan mental. (Magnific)
 
 
JawaPos.com - Menjadi lebih cerdas bukan hanya tentang memiliki kemampuan berpikir cepat, mengingat banyak informasi, atau mampu memecahkan masalah yang rumit. Dalam kehidupan sehari-hari, kecerdasan juga berkaitan dengan bagaimana seseorang mengelola pikiran, memahami emosi, mengambil keputusan, menghadapi tekanan, dan menjaga dirinya tetap seimbang ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan.


Karena itu, menjaga kesehatan mental sebenarnya merupakan salah satu bentuk kecerdasan yang sering kali kurang diperhatikan.

Seseorang mungkin sangat pintar secara akademis, tetapi tetap mudah dikuasai amarah, terlalu larut dalam kekhawatiran, sulit mengatakan tidak, atau terus memikirkan kesalahan masa lalu. Sebaliknya, orang yang mampu mengenali emosinya, mengatur respons terhadap tekanan, belajar dari pengalaman, dan menjaga kebiasaan hidup yang sehat biasanya memiliki kemampuan psikologis yang membantu mereka menghadapi berbagai persoalan dengan lebih baik.

Kabar baiknya, kemampuan tersebut dapat dilatih melalui kebiasaan sederhana. Anda tidak harus mengubah seluruh hidup dalam satu hari. Justru, kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan pengaruh yang lebih berarti dalam jangka panjang.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (22/8), jika Anda ingin menjadi pribadi yang lebih jernih dalam berpikir sekaligus lebih kuat dalam menjaga kesehatan mental, berikut tujuh kebiasaan yang dapat mulai dilakukan setiap hari.

1. Luangkan waktu untuk berhenti dan mengamati pikiran Anda

Banyak orang menjalani hari dengan begitu sibuk sampai tidak pernah benar-benar memperhatikan apa yang sedang terjadi di dalam pikirannya.

Bangun tidur, melihat ponsel. Bekerja, berpindah dari satu tugas ke tugas lain. Ketika lelah, membuka media sosial. Ketika muncul masalah, langsung bereaksi. Akhirnya, seseorang dapat menjalani satu hari penuh tanpa pernah bertanya, "Sebenarnya apa yang sedang saya rasakan?"

Padahal, kemampuan untuk mengamati pikiran dan emosi merupakan bagian penting dari kesadaran diri.

Cobalah menyediakan beberapa menit setiap hari untuk berhenti sejenak. Tidak perlu melakukan sesuatu yang rumit. Duduk dengan tenang, tarik napas secara perlahan, kemudian perhatikan apa yang sedang muncul dalam pikiran.

Anda mungkin menyadari bahwa hari ini sedang merasa cemas. Atau mungkin ternyata Anda sedang marah, kecewa, lelah, iri, takut, atau justru bersyukur.

Hal yang penting adalah tidak langsung menghakimi perasaan tersebut.

Alih-alih mengatakan, "Saya tidak boleh merasa seperti ini," cobalah mengatakan, "Saya sedang merasa kecewa."

Perbedaan kecil ini penting. Ketika Anda mampu memberi nama pada emosi, Anda menjadi lebih mampu mengambil jarak dari emosi tersebut. Anda tidak lagi sepenuhnya menjadi "kemarahan", "kecemasan", atau "kekecewaan" itu sendiri. Anda sedang mengalami sebuah emosi yang dapat diamati dan dikelola.

Kebiasaan sederhana ini juga dapat membantu Anda membedakan antara fakta dan pikiran.

Misalnya, seseorang tidak membalas pesan Anda. Pikiran pertama mungkin mengatakan, "Dia pasti tidak menyukai saya."

Namun, fakta sebenarnya hanya satu: pesan Anda belum dibalas.

Kesimpulan bahwa orang tersebut tidak menyukai Anda adalah interpretasi.

Semakin sering Anda melatih kemampuan mengamati pikiran, semakin mudah bagi Anda untuk menyadari bahwa tidak semua hal yang muncul di kepala harus dipercaya begitu saja.

2. Bacalah sesuatu yang membuat otak Anda berpikir

Jika ingin menjaga kemampuan berpikir, jangan biarkan otak hanya menerima informasi yang mudah dan menyenangkan.

Setiap hari, luangkan waktu untuk membaca sesuatu yang membuat Anda berpikir.

Tidak harus membaca buku yang sangat berat. Anda dapat membaca artikel berkualitas, buku nonfiksi, esai, biografi, karya sastra, atau materi yang memperkenalkan Anda pada sudut pandang baru.

Yang lebih penting bukan sekadar jumlah halaman yang Anda selesaikan, tetapi kualitas interaksi Anda dengan informasi tersebut.

Setelah membaca, tanyakan kepada diri sendiri:

"Apakah saya setuju dengan gagasan ini?"

"Apakah ada sudut pandang lain?"

"Apa yang bisa saya pelajari?"

"Bagaimana informasi ini berhubungan dengan kehidupan saya?"

Kebiasaan seperti ini membuat membaca menjadi aktivitas aktif, bukan sekadar menerima informasi.

Selain memperkaya pengetahuan, membaca juga dapat membantu Anda keluar dari cara berpikir yang terlalu sempit. Anda belajar bahwa satu masalah dapat memiliki lebih dari satu perspektif dan bahwa pengalaman orang lain mungkin sangat berbeda dari pengalaman Anda sendiri.

Ini penting untuk kesehatan mental.

Ketika cara berpikir menjadi lebih fleksibel, seseorang biasanya tidak terlalu mudah terjebak dalam pemikiran hitam-putih seperti "semuanya gagal", "tidak ada yang menyukai saya", atau "hidup saya selalu buruk."

Belajar melihat berbagai kemungkinan membuat pikiran lebih lentur.

Dan pikiran yang lentur biasanya lebih mampu menghadapi perubahan.

3. Gerakkan tubuh setiap hari

Kesehatan mental tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari kondisi tubuh.

Anda tidak harus melakukan latihan yang sangat berat setiap hari. Berjalan kaki, melakukan peregangan, bersepeda, berolahraga ringan, atau melakukan aktivitas fisik yang Anda sukai sudah dapat menjadi bagian dari rutinitas.

Aktivitas fisik secara teratur berkaitan dengan berbagai manfaat bagi kesehatan psikologis, termasuk membantu mengelola stres dan mendukung suasana hati.

Yang sering dilupakan adalah bahwa olahraga bukan hanya tentang bentuk tubuh.

Ketika Anda bergerak, Anda memberikan kesempatan kepada tubuh untuk melepaskan ketegangan yang mungkin terkumpul sepanjang hari.

Bayangkan seseorang yang menghabiskan delapan hingga sepuluh jam duduk, bekerja di depan komputer, menerima banyak informasi, menghadapi tenggat waktu, dan memikirkan berbagai masalah.

Jika setelah itu ia hanya berpindah ke sofa dan kembali menatap layar, tubuh dan pikirannya mungkin tidak benar-benar mendapatkan kesempatan untuk beralih ke kondisi yang lebih santai.

Karena itu, cobalah membuat aktivitas fisik menjadi bagian kecil tetapi konsisten dari kehidupan.

Misalnya, berjalan selama 20–30 menit, menggunakan tangga ketika memungkinkan, melakukan peregangan setelah duduk lama, atau berolahraga pada waktu yang paling realistis bagi Anda.

Jangan terlalu fokus pada kesempurnaan.

Tujuannya bukan menjadi atlet.

Tujuannya adalah menjaga tubuh tetap aktif dan menjadikannya salah satu fondasi kesehatan mental.

4. Belajarlah membedakan hal yang bisa Anda kendalikan dan yang tidak

Salah satu sumber kelelahan mental yang besar adalah mencoba mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali.

Anda tidak dapat mengendalikan apa yang orang lain pikirkan tentang Anda.

Anda tidak dapat mengendalikan apakah semua orang akan menyukai Anda.

Anda tidak dapat mengendalikan masa lalu.

Anda juga tidak dapat memastikan bahwa semua rencana akan berjalan sesuai keinginan.

Namun, Anda masih dapat mengendalikan bagaimana Anda merespons keadaan tersebut.

Kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan setiap hari adalah membagi masalah menjadi dua kategori.

Pertama: hal yang bisa Anda pengaruhi.

Kedua: hal yang tidak berada dalam kendali Anda.

Misalnya, Anda sedang menunggu keputusan dari seseorang.

Anda tidak dapat memaksa orang tersebut memberikan jawaban sesuai keinginan Anda. Namun, Anda dapat memastikan bahwa Anda sudah memberikan informasi yang diperlukan, bersikap sopan, dan mempersiapkan diri terhadap beberapa kemungkinan.

Perbedaan ini terlihat sederhana, tetapi dapat membantu mengurangi energi mental yang terbuang.

Daripada terus bertanya, "Bagaimana kalau dia melakukan ini?" atau "Bagaimana kalau semuanya gagal?", arahkan perhatian kepada pertanyaan yang lebih produktif:

"Apa yang bisa saya lakukan sekarang?"

Pertanyaan tersebut membuat pikiran bergerak dari kekhawatiran menuju tindakan.

5. Berbicara dengan seseorang yang membuat Anda merasa aman

Manusia bukan makhluk yang dirancang untuk menghadapi seluruh masalah seorang diri.

Memiliki hubungan sosial yang sehat merupakan bagian penting dari kesejahteraan psikologis.

Karena itu, jangan menunggu sampai benar-benar terpuruk untuk menghubungi orang lain.

Setiap hari, usahakan memiliki interaksi yang bermakna. Anda dapat berbicara dengan pasangan, teman, anggota keluarga, rekan kerja, atau orang lain yang Anda percaya.

Percakapan tidak harus selalu serius.

Tertawa bersama, menceritakan pengalaman hari itu, menanyakan kabar seseorang, atau sekadar menikmati waktu bersama juga memiliki nilai.

Namun, ada satu hal yang penting: pilih hubungan yang sehat.

Tidak semua interaksi sosial memberikan manfaat yang sama.

Ada orang yang membuat Anda merasa dihargai dan didengarkan. Ada pula orang yang terus membuat Anda merasa bersalah, direndahkan, dimanipulasi, atau tidak cukup baik.

Menjaga kesehatan mental berarti menyadari perbedaan tersebut.

Anda tidak harus mempertahankan kedekatan yang sama dengan semua orang.

Menetapkan batasan bukan berarti Anda menjadi orang yang egois. Dalam banyak situasi, batasan justru merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

6. Tuliskan apa yang memenuhi pikiran Anda

Ketika terlalu banyak hal berputar di kepala, pikiran dapat terasa seperti ruangan yang penuh barang tanpa tempat penyimpanan.

Salah satu cara sederhana untuk membuatnya lebih teratur adalah menulis.

Anda dapat membuat jurnal singkat setiap malam atau hanya menuliskan beberapa kalimat ketika merasa pikiran sedang penuh.

Tidak perlu menulis dengan bahasa yang indah.

Tulis apa adanya.

"Apa yang membuat saya stres hari ini?"

"Apa yang membuat saya bahagia?"

"Apa yang saya khawatirkan?"

"Apa yang sebenarnya berada dalam kendali saya?"

"Apa satu hal yang ingin saya lakukan besok?"

Menulis dapat membantu mengubah pikiran yang samar menjadi sesuatu yang lebih konkret.

Misalnya, "Saya merasa hidup saya berantakan" terdengar sangat besar.

Namun setelah ditulis, Anda mungkin menyadari bahwa masalah sebenarnya adalah tiga hal: pekerjaan yang menumpuk, kurang tidur, dan konflik dengan seseorang.

Ketika masalah sudah terlihat lebih jelas, Anda dapat mulai memecahnya menjadi langkah-langkah kecil.

Selain itu, Anda juga dapat menggunakan jurnal untuk mencatat hal-hal yang patut disyukuri.

Tidak harus sesuatu yang luar biasa.

Secangkir kopi yang nikmat, percakapan yang menyenangkan, pekerjaan yang selesai, tubuh yang masih mampu berjalan, atau waktu tenang selama beberapa menit pun dapat dicatat.

Kebiasaan ini bukan berarti Anda harus berpura-pura bahwa semua hal dalam hidup baik-baik saja.

Sebaliknya, Anda sedang melatih otak untuk melihat kehidupan secara lebih lengkap: mengakui masalah tanpa mengabaikan hal-hal baik yang juga masih ada.

7. Tidur dengan cukup dan berikan otak waktu untuk beristirahat

Ada satu kebiasaan yang sering dianggap sederhana, tetapi justru sangat penting: tidur.

Ketika seseorang terus-menerus mengorbankan waktu tidur demi pekerjaan, hiburan, media sosial, atau berbagai aktivitas lainnya, kemampuan tubuh dan otak untuk berfungsi secara optimal dapat terganggu.

Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, lebih mudah tersinggung, dan lebih sulit mengatur respons emosional.

Karena itu, menjaga jadwal tidur sebaik mungkin merupakan investasi untuk kesehatan mental.

Cobalah membuat rutinitas malam yang lebih tenang.

Kurangi aktivitas yang terlalu merangsang menjelang tidur. Berikan kesempatan kepada tubuh untuk memahami bahwa hari mulai berakhir.

Anda juga dapat membuat ritual sederhana, seperti merapikan kamar, membaca beberapa halaman buku, melakukan peregangan ringan, atau menuliskan rencana untuk esok hari.

Hal yang penting adalah menciptakan pola yang konsisten.

Dan jangan menganggap istirahat sebagai kemalasan.

Otak membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.

Bahkan ketika Anda tidak sedang melakukan pekerjaan yang terlihat produktif, tubuh dan pikiran tetap menjalankan proses penting untuk memulihkan energi.

Kecerdasan bukan hanya tentang seberapa banyak yang Anda ketahui

Pada akhirnya, menjadi lebih cerdas dalam kehidupan bukan hanya tentang mengumpulkan lebih banyak informasi.

Kecerdasan juga terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami dirinya sendiri.

Orang yang cerdas secara psikologis tidak selalu tenang setiap saat. Mereka juga bisa marah, takut, kecewa, sedih, dan merasa kewalahan.

Perbedaannya adalah mereka belajar mengenali apa yang sedang terjadi di dalam dirinya dan memilih respons dengan lebih sadar.

Karena itu, jangan menunggu sampai kesehatan mental Anda terganggu untuk mulai merawatnya.

Mulailah dari hal-hal kecil.

Berhenti sejenak dan amati pikiran Anda. Bacalah sesuatu yang memperluas perspektif. Gerakkan tubuh. Fokus pada hal yang dapat dikendalikan. Hubungi orang yang membuat Anda merasa aman. Tuliskan apa yang memenuhi pikiran. Dan jangan abaikan kebutuhan tubuh untuk tidur serta beristirahat.

Anda tidak harus melakukan semuanya dengan sempurna.

Yang lebih penting adalah melakukannya secara konsisten.

Sebab kesehatan mental bukan sesuatu yang hanya perlu diperhatikan ketika seseorang sedang mengalami masalah besar. Kesehatan mental juga dibangun melalui keputusan-keputusan kecil yang kita buat setiap hari.

Dan mungkin, salah satu bentuk kecerdasan terbesar adalah menyadari bahwa merawat pikiran sendiri bukan sebuah kelemahan.

Itu adalah investasi jangka panjang agar kita dapat berpikir lebih jernih, menghadapi masalah dengan lebih bijaksana, dan menjalani hidup dengan lebih seimbang.***
EDITOR: Novia Tri Astuti