← Beranda
7 Kebiasaan yang Bisa Menyabotase Pertumbuhan Diri Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahMinggu, 16 Agustus 2026 | 23.47 WIB
seseorang yang menyabotase pertumbuhan diri sendiri. (Magnific)
 
 
JawaPos.com - Pertumbuhan diri sering kali dibayangkan sebagai proses menambahkan sesuatu ke dalam hidup: belajar lebih banyak, bekerja lebih keras, membangun kebiasaan positif, membaca buku, berolahraga, atau mengejar tujuan yang lebih besar.


Namun, psikologi menunjukkan bahwa pertumbuhan diri tidak hanya tentang apa yang kita lakukan, tetapi juga tentang apa yang terus kita lakukan tanpa sadar dan justru menghambat diri sendiri.

Ada orang yang sebenarnya memiliki kemampuan besar, tetapi terus merasa jalan di tempat. Mereka sudah mencoba berbagai cara untuk berubah, tetapi selalu kembali pada pola lama. Mereka menetapkan tujuan, kemudian menunda. Mereka ingin percaya diri, tetapi terus membandingkan diri. Mereka ingin berkembang, tetapi terlalu takut melakukan kesalahan.

Masalahnya terkadang bukan karena kurangnya motivasi.

Bisa jadi, tanpa disadari, kita sedang menyabotase pertumbuhan diri sendiri.

Self-sabotage atau sabotase diri adalah pola perilaku, pikiran, atau keputusan yang membuat seseorang menjauh dari tujuan yang sebenarnya ingin dicapai. Menariknya, perilaku ini tidak selalu terlihat seperti sesuatu yang buruk. Beberapa bentuknya bahkan tampak masuk akal, seperti ingin menunggu waktu yang tepat, mencari kesempurnaan, atau terus memikirkan sesuatu sebelum bertindak.

Padahal, jika dilakukan berulang kali, kebiasaan-kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang tetap berada di tempat yang sama.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (16/8), terdapat tujuh kebiasaan yang sebaiknya mulai Anda waspadai jika Anda benar-benar ingin berkembang.

1. Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Salah satu cara tercepat untuk mengganggu pertumbuhan diri adalah menjadikan kehidupan orang lain sebagai alat ukur kehidupan sendiri.

Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, memiliki tubuh yang lebih ideal, menikah lebih dulu, memiliki bisnis yang berkembang, atau mencapai sesuatu di usia yang menurut kita masih sangat muda.

Kemudian muncul pertanyaan:

"Kenapa saya belum seperti dia?"

Perbandingan sosial sebenarnya merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. Kita menggunakan orang lain sebagai referensi untuk memahami posisi diri sendiri. Masalah muncul ketika perbandingan tersebut berubah menjadi kebiasaan yang terus-menerus merendahkan diri.

Media sosial membuat masalah ini semakin kuat.

Kita melihat hasil akhir kehidupan orang lain, tetapi jarang melihat proses panjang, kegagalan, ketakutan, masalah finansial, konflik, atau pengorbanan yang terjadi di belakang layar.

Akibatnya, kita membandingkan kehidupan kita yang sebenarnya dengan versi terbaik kehidupan orang lain.

Itu adalah perbandingan yang tidak adil.

Jika terus dilakukan, perbandingan sosial dapat membuat seseorang kehilangan fokus terhadap perjalanan pribadinya. Alih-alih bertanya, "Apakah saya lebih baik daripada diri saya yang dulu?", kita mulai bertanya, "Apakah saya sudah lebih baik daripada orang lain?"

Padahal pertumbuhan pribadi seharusnya tidak selalu tentang menjadi lebih unggul dari orang lain.

Pertumbuhan adalah tentang menjadi lebih matang dibandingkan diri kita sebelumnya.

Cobalah mengganti pertanyaan:

"Mengapa saya belum seperti dia?"

menjadi:

"Apa yang bisa saya pelajari dari perjalanan dia tanpa meremehkan perjalanan saya sendiri?"

Dengan begitu, orang lain tidak lagi menjadi ancaman terhadap harga diri, tetapi bisa menjadi sumber inspirasi.

2. Menunggu Sampai Semuanya Sempurna Sebelum Mulai

Perfeksionisme sering kali terlihat seperti sifat positif.

Seseorang ingin memberikan hasil terbaik. Ia ingin mempersiapkan diri dengan matang. Ia tidak ingin melakukan kesalahan.

Tetapi ada titik ketika keinginan untuk melakukan sesuatu dengan sempurna justru membuat seseorang tidak melakukan apa pun.

Anda ingin memulai bisnis, tetapi merasa harus belajar semuanya terlebih dahulu.

Anda ingin membuat konten, tetapi merasa kamera, desain, kemampuan berbicara, atau pengetahuan Anda belum cukup bagus.

Anda ingin berolahraga, tetapi merasa harus memiliki program yang sempurna.

Anda ingin belajar keterampilan baru, tetapi takut terlihat bodoh ketika masih pemula.

Akhirnya, persiapan berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Masalahnya, pertumbuhan hampir selalu membutuhkan pengalaman nyata.

Anda tidak bisa menjadi percaya diri sebelum pernah melakukan sesuatu yang membuat Anda merasa tidak percaya diri.

Anda tidak bisa menjadi ahli tanpa pernah menjadi pemula.

Dan Anda tidak bisa mengetahui apakah sebuah metode berhasil sebelum benar-benar mencobanya.

Kesempurnaan sering kali menjadi bentuk ketakutan yang menyamar sebagai persiapan.

Karena selama Anda masih mempersiapkan diri, Anda belum perlu menghadapi kemungkinan gagal.

Maka, jika ingin berkembang, belajarlah membedakan antara persiapan yang diperlukan dan penundaan yang disamarkan sebagai persiapan.

Tidak perlu menunggu menjadi sempurna.

Mulailah dengan versi yang cukup baik.

Kemudian perbaiki sambil berjalan.

Karena dalam banyak hal, kemajuan kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih berharga daripada rencana sempurna yang tidak pernah dimulai.

3. Terlalu Banyak Berpikir dan Terlalu Sedikit Bertindak

Berpikir adalah kemampuan yang penting. Tetapi berpikir tanpa batas dapat berubah menjadi overthinking.

Anda menganalisis berbagai kemungkinan.

Bagaimana kalau gagal?

Bagaimana kalau orang lain menertawakan saya?

Bagaimana kalau keputusan saya salah?

Bagaimana kalau saya menyesal?

Bagaimana kalau ada pilihan yang lebih baik?

Semakin banyak pertanyaan muncul, semakin sulit mengambil keputusan.

Akhirnya, seseorang merasa sedang "mempersiapkan diri", padahal sebenarnya ia sedang menghindari tindakan.

Overthinking memberikan ilusi bahwa kita sedang melakukan sesuatu karena otak terus bekerja. Kita memikirkan strategi, membaca informasi, membuat skenario, dan mengevaluasi kemungkinan.

Namun, jika semua itu tidak menghasilkan tindakan nyata, pertumbuhan tetap tidak terjadi.

Bayangkan seseorang ingin mengubah karier.

Ia membaca puluhan artikel.

Menonton ratusan video.

Membandingkan berbagai pilihan.

Membuat daftar kelebihan dan kekurangan.

Tetapi tidak pernah mengirim lamaran, tidak pernah menghubungi orang di bidang tersebut, dan tidak pernah mencoba proyek kecil.

Secara mental, ia sangat sibuk.

Secara nyata, tidak ada perubahan.

Karena itu, salah satu keterampilan penting dalam pertumbuhan diri adalah belajar bertindak meskipun belum memiliki kepastian penuh.

Anda tidak membutuhkan kepastian 100 persen untuk mengambil langkah pertama.

Sering kali, kejelasan justru muncul setelah kita mulai bergerak.

4. Terus Mengulang Kesalahan Lama Tanpa Belajar Darinya

Setiap manusia membuat kesalahan.

Kegagalan bukanlah sesuatu yang bisa sepenuhnya dihindari.

Namun, ada perbedaan besar antara mengalami kegagalan dan mengulang pola yang sama tanpa melakukan evaluasi.

Misalnya, seseorang berkali-kali menunda pekerjaan sampai mendekati tenggat waktu.

Setiap kali ia berkata:

"Besok saya akan mulai lebih awal."

Tetapi ketika kesempatan berikutnya datang, pola yang sama kembali terjadi.

Atau seseorang terus memilih lingkungan yang membuatnya tidak berkembang, lalu bertanya mengapa hidupnya tidak berubah.

Pertumbuhan membutuhkan refleksi.

Setelah mengalami sesuatu, kita perlu bertanya:

Apa yang sebenarnya terjadi?
Bagian mana yang berada dalam kendali saya?
Keputusan apa yang menyebabkan masalah?
Apa yang bisa saya lakukan secara berbeda?
Pola apa yang terus berulang?

Tanpa refleksi, pengalaman hanya menjadi kejadian.

Dengan refleksi, pengalaman bisa berubah menjadi pembelajaran.

Kesalahan tidak otomatis membuat seseorang lebih bijaksana.

Kesalahan yang dievaluasi dapat menjadi guru. Kesalahan yang terus diulang hanya menjadi pola.

Jika Anda menemukan masalah yang sama muncul berkali-kali dalam kehidupan, jangan hanya bertanya mengapa dunia terus memberikan masalah tersebut kepada Anda.

Tanyakan juga:

"Apakah ada pola dalam diri saya yang ikut mempertahankan masalah ini?"

Pertanyaan tersebut mungkin tidak nyaman.

Tetapi sering kali, pertumbuhan dimulai dari keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman.

5. Terlalu Keras pada Diri Sendiri

Banyak orang mengira bahwa kritik keras terhadap diri sendiri akan membuat mereka menjadi lebih disiplin.

"Kalau saya tidak keras pada diri sendiri, saya akan malas."

"Saya harus memaksa diri."

"Saya memang tidak boleh melakukan kesalahan."

Tetapi kritik diri yang berlebihan tidak selalu menghasilkan motivasi.

Justru, ketika seseorang terus-menerus mengatakan bahwa dirinya tidak cukup baik, bodoh, gagal, atau tidak memiliki kemampuan, ia dapat membangun hubungan yang buruk dengan dirinya sendiri.

Bayangkan Anda memiliki seorang teman yang setiap kali melakukan kesalahan selalu berkata:

"Kamu memang tidak becus."

"Kamu selalu gagal."

"Tidak heran hidupmu seperti ini."

Kemungkinan besar Anda tidak akan menganggap hubungan tersebut sehat.

Namun, anehnya, banyak orang berbicara kepada dirinya sendiri dengan cara yang jauh lebih kejam daripada cara mereka berbicara kepada orang lain.

Self-compassion bukan berarti membenarkan kesalahan.

Bersikap baik kepada diri sendiri juga bukan berarti menjadi malas.

Self-compassion berarti mampu mengakui:

"Saya melakukan kesalahan, tetapi kesalahan ini tidak menentukan seluruh nilai diri saya."

Dengan pola pikir seperti itu, kegagalan menjadi sesuatu yang bisa dievaluasi tanpa harus berubah menjadi serangan terhadap identitas diri.

Anda bisa berkata:

"Saya gagal dalam hal ini."

tanpa harus menyimpulkan:

"Saya adalah seorang yang gagal."

Keduanya sangat berbeda.

Yang pertama berbicara tentang perilaku.

Yang kedua menyerang identitas.

Dan jika ingin terus berkembang, Anda membutuhkan kemampuan untuk memperbaiki perilaku tanpa menghancurkan harga diri sendiri.

6. Terus Berada di Lingkungan yang Membuat Anda Tidak Berkembang

Manusia bukan hanya dipengaruhi oleh kemauan pribadi.

Lingkungan juga memainkan peran besar.

Kebiasaan, norma sosial, teman, keluarga, tempat kerja, serta orang-orang yang sering kita temui dapat memengaruhi cara kita berpikir dan bertindak.

Jika Anda ingin membaca lebih banyak tetapi seluruh lingkungan Anda terus mendorong Anda untuk menghabiskan waktu tanpa tujuan, perubahan akan terasa lebih sulit.

Jika Anda ingin membangun sesuatu tetapi setiap kali membicarakan ide tersebut Anda hanya mendapat ejekan, rasa percaya diri bisa perlahan menurun.

Jika Anda ingin memperbaiki kebiasaan tetapi lingkungan sekitar terus mempertahankan pola lama, Anda harus menggunakan energi jauh lebih besar untuk berubah.

Ini bukan berarti kita harus meninggalkan semua orang yang berbeda dari kita.

Bukan itu intinya.

Yang penting adalah menyadari:

Apakah lingkungan saya mendukung arah pertumbuhan yang ingin saya tuju, atau justru terus menarik saya kembali ke versi lama diri saya?

Terkadang, pertumbuhan membutuhkan perubahan lingkungan.

Bisa berupa mencari teman yang memiliki tujuan serupa.

Bergabung dengan komunitas yang positif.

Mengurangi waktu bersama orang yang terus-menerus meremehkan usaha kita.

Atau sekadar membuat ruang fisik dan digital yang lebih mendukung kebiasaan baru.

Anda tidak selalu membutuhkan lebih banyak motivasi.

Kadang-kadang Anda hanya membutuhkan lingkungan yang membuat perilaku baik menjadi lebih mudah dilakukan.

7. Mengidentifikasi Diri dengan Kegagalan Masa Lalu

Ini mungkin salah satu bentuk sabotase diri yang paling sulit disadari.

Seseorang pernah gagal dalam sebuah hubungan, kemudian berpikir:

"Saya memang tidak pandai dalam hubungan."

Pernah gagal dalam bisnis:

"Saya memang bukan orang yang cocok berbisnis."

Pernah gagal berbicara di depan umum:

"Saya memang tidak bisa berbicara."

Pernah mendapatkan nilai buruk:

"Saya memang tidak pintar."

Perhatikan bagaimana satu pengalaman berubah menjadi sebuah identitas.

Padahal, melakukan sesuatu dengan buruk tidak sama dengan menjadi orang yang buruk dalam hal tersebut selamanya.

Manusia memiliki kemampuan untuk belajar dan berubah.

Namun, jika kita terus menggunakan pengalaman masa lalu sebagai bukti bahwa kita tidak mampu berubah, kita mungkin mulai bertindak sesuai dengan label tersebut.

Inilah yang membuat masa lalu dapat menjadi jebakan psikologis.

Bukan karena masa lalu benar-benar menentukan masa depan, tetapi karena kita mempercayai bahwa masa lalu menentukan siapa kita.

Cobalah mengganti:

"Saya memang tidak bisa."

menjadi:

"Saya belum bisa."

Kata "belum" terlihat kecil.

Tetapi secara psikologis, ia membuka kemungkinan.

"Saya belum bisa berbicara dengan percaya diri."

berbeda dengan:

"Saya tidak bisa berbicara dengan percaya diri."

"Saya belum menemukan metode belajar yang cocok."

berbeda dengan:

"Saya memang tidak pintar."

Bahasa yang kita gunakan kepada diri sendiri dapat memengaruhi cara kita melihat kemampuan untuk berubah.

Pertumbuhan Diri Tidak Selalu Terlihat Dramatis

Salah satu kesalahan lain dalam memahami pertumbuhan diri adalah mengira bahwa perubahan harus selalu terlihat besar.

Padahal, pertumbuhan sering kali terjadi dalam bentuk yang sangat sederhana.

Anda mulai mengatakan tidak ketika memang tidak ingin.

Anda berhenti menunda satu pekerjaan kecil.

Anda meminta bantuan ketika membutuhkannya.

Anda tidak lagi membandingkan kehidupan Anda dengan orang lain.

Anda berani mencoba meskipun belum percaya diri.

Anda belajar dari kesalahan tanpa membenci diri sendiri.

Anda memilih lingkungan yang lebih sehat.

Perubahan seperti itu mungkin tidak terlihat mengesankan dari luar.

Tetapi jika dilakukan secara konsisten, dampaknya bisa sangat besar.

Pertumbuhan bukan tentang berubah menjadi manusia yang sama sekali berbeda.

Pertumbuhan adalah proses menjadi versi diri yang lebih sadar, lebih matang, dan lebih mampu mengambil keputusan sesuai dengan nilai yang kita anggap penting.

Kesimpulan: Jangan Hanya Bertanya Apa yang Harus Anda Tambahkan

Ketika ingin memperbaiki kehidupan, kita sering bertanya:

"Kebiasaan apa yang harus saya tambahkan?"

"Buku apa yang harus saya baca?"

"Rutinitas apa yang harus saya lakukan?"

"Apa yang harus saya pelajari?"

Pertanyaan-pertanyaan itu memang penting.

Tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:

"Apa yang harus saya berhenti lakukan?"

Mungkin Anda tidak membutuhkan lebih banyak motivasi.

Mungkin Anda perlu berhenti membandingkan diri.

Berhenti menunggu kesempurnaan.

Berhenti berpikir tanpa bertindak.

Berhenti mengulangi kesalahan tanpa evaluasi.

Berhenti menghukum diri sendiri karena kegagalan.

Berhenti mempertahankan lingkungan yang terus menarik Anda mundur.

Dan berhenti menggunakan masa lalu sebagai bukti bahwa Anda tidak mampu berubah.

Pertumbuhan diri bukan hanya tentang menambahkan kebiasaan baik.

Terkadang, pertumbuhan dimulai ketika kita cukup berani untuk melepaskan pola lama yang selama ini diam-diam menghambat kita.

Anda tidak harus berubah dalam satu malam.

Anda hanya perlu mulai mengenali satu pola yang ingin dihentikan.

Kemudian lakukan satu perubahan kecil.

Ulangi.

Evaluasi.

Perbaiki.

Dan terus bergerak.

Karena pada akhirnya, kehidupan kita tidak hanya dibentuk oleh keputusan besar yang kita ambil sesekali.

Ia juga dibentuk oleh kebiasaan kecil yang kita ulang setiap hari.***
EDITOR: Novia Tri Astuti