JawaPos.com – Perasaan selalu merasa dihakimi bukan sekadar respons terhadap situasi luar, melainkan cerminan dari keyakinan tersembunyi yang sudah lama mengakar.
Psikologi mengungkap bahwa orang yang terus-menerus merasa dihakimi sering membiarkan rasa tidak aman mendiktekan cara mereka memandang orang lain.
Harga diri yang rapuh dan ketergantungan pada validasi eksternal menjadi akar dari pola pikir yang sangat melelahkan ini.
Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (15/6), berikut sembilan keyakinan yang paling sering dipegang secara tidak sadar oleh orang-orang yang selalu merasa sedang dinilai oleh orang lain.
1. Nilai diri ditentukan oleh pendapat orang lain
Tidak ada seorang pun yang bisa sepenuhnya mengabaikan penilaian orang lain, terutama dari mereka yang sangat vokal mengungkapkan pendapat.
Kondisi ini dikenal sebagai harga diri yang bersyarat, yaitu bentuk ekstrem dari validasi eksternal yang tidak sehat dan tidak berkelanjutan.
Meski masyarakat sering mengajarkan bahwa nilai diri bergantung pada penilaian orang lain, harga diri seseorang tidak seharusnya bergantung pada orang lain.
2. Cara pandang orang lain adalah tanggung jawab mereka
Beberapa orang percaya bahwa mereka harus mengelola cara orang lain memandang mereka dengan mengatur perilaku sendiri secara berlebihan.
Padahal tidak mungkin mengetahui apa yang ada di dalam pikiran orang lain, sehingga upaya itu hanya akan menguras energi tanpa hasil.
Orang lain pun tidak ingin pikirannya dikendalikan secara sepihak, sehingga melepaskan obsesi ini justru jauh lebih sehat.
3. Jika seseorang tidak menyukai mereka berarti ada yang salah
Orang yang sedang menghadapi banyak tekanan, trauma masa lalu, atau rasa percaya diri yang rendah cenderung terlalu personal merespons penilaian orang lain.
Perasaan tidak suka dari orang lain dianggap sebagai bukti bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang salah.
Padahal perasaan bukanlah fakta dan pendapat seseorang tidak bisa dijadikan kebenaran mutlak tentang karakter orang lain.
4. Tidak aman untuk menjadi diri sendiri
Ketika seseorang pernah dicemooh atau ditolak saat mencoba menjadi autentik, mereka cenderung menyembunyikan diri untuk menghindari rasa sakit yang sama.
Keotentikan membutuhkan keberanian untuk rentan, sesuatu yang bagi banyak orang terasa sangat berisiko dan tidak nyaman.
Penelitian bahkan menunjukkan bahwa orang lain sebenarnya mengagumi kerentanan orang lain, meski mereka sendiri merasa malu melakukannya.
5. Semua sesuatu harus diperoleh dengan keras
Banyak hal dalam hidup memang perlu diperjuangkan, namun hak untuk ada sebagai bagian dari masyarakat bukan salah satunya.
Orang yang terus berusaha membuktikan kelayakan diri meski sudah jelas diterima kemungkinan memiliki gaya kelekatan yang cemas.
Sistem saraf mereka telah belajar memperlakukan setiap hubungan seperti evaluasi kinerja yang tidak pernah berakhir.
6. Orang lain selalu memikirkan dan memperhatikan mereka
Kenyataannya setiap orang terlalu sibuk dengan dunia dan kekhawatiran mereka sendiri untuk terus memperhatikan orang lain.
Kondisi ini dijelaskan oleh bias kognitif yang disebut efek sorotan, yaitu keyakinan bahwa orang lain selalu memerhatikan setiap gerak-gerik kita.
Efek sorotan ini tidak nyata karena orang lain tidak memiliki perspektif personal yang sama mendalam terhadap diri kita sendiri.
7. Mereka tidak mampu menghadapi kritik
Beberapa orang tidak tahu cara merespons kritik dengan sehat karena kurangnya belas kasih diri atau kemampuan mengatur emosi.
Masalahnya bukan karena pernah hancur oleh kritik, melainkan karena rasa tidak aman yang meyakinkan mereka bahwa kritik akan menghancurkan.
Keyakinan itulah yang membuat mereka sangat waspada dan selalu berada dalam mode bertahan terhadap penilaian orang lain.
8. Tidak ada orang lain yang merasakan hal yang sama
Beberapa orang meyakini bahwa mereka saja yang berjuang, sementara orang lain tampak memiliki hidup yang sempurna dan teratur.
Keyakinan ini mendorong mereka untuk menghakimi orang lain secara tidak adil, padahal menghakimi adalah hal yang paling mereka takutkan.
Psikoterapis menjelaskan bahwa kebutuhan untuk merasa dilihat dan diterima apa adanya adalah kebutuhan universal sejak lahir.
9. Kesalahan mendefinisikan siapa mereka
Tidak ada seorang pun yang sempurna dan tidak ada yang benar-benar mengharapkan kesempurnaan dari orang lain.
Namun orang yang penuh kecemasan sering kali sangat sulit untuk melepaskan kesalahan yang pernah mereka buat.
Orang di sekitar hampir tidak pernah mengingat atau memikirkan kesalahan orang lain sebagai identitas permanen mereka.
***