← Beranda
10 Pembelian yang Kerap Dilakukan Orang Miskin tapi Jarang oleh Orang Kaya karena Perbedaan Keuangan
Mohammad Maulana IqbalJumat, 12 Juni 2026 | 15.17 WIB
Pembelian yang kerap dilakukan orang miskin tapi jarang oleh orang kaya karena perbedaan keuangan (Magnific/Freepik)

JawaPos.com - Perbedaan keuangan antara orang miskin dan orang kaya tidak hanya terlihat dari jumlah aset, tetapi juga dari pola pembelian yang sangat berbeda dalam kehidupan sehari-hari.

Orang miskin cenderung melakukan pembelian yang didorong oleh kebutuhan akan kenyamanan instan dan kepuasan segera yang secara tidak sadar memperparah kondisi keuangan mereka.

Memahami perbedaan pola pembelian antara orang miskin dan orang kaya bisa membuka wawasan penting tentang bagaimana kebiasaan finansial membentuk kondisi ekonomi seseorang.

Dilansir dari laman YourTango pada Jumat (12/6), berikut  sepuluh hal yang sering dibeli oleh orang dengan pendapatan rendah namun jarang atau bahkan tidak pernah disentuh oleh orang-orang yang lebih kaya.

Baca Juga: 11 Kebiasaan Finansial Orang yang Selalu Miskin meski Berpenghasilan Tinggi Menurut Psikologi

1. Pakaian fast fashion

Menurut Michigan Journal of Economics, lebih dari 50 persen pakaian yang diproduksi oleh merek fast fashion dibuang hanya dalam satu tahun setelah pembelian.

Fast fashion menawarkan pilihan terjangkau dan mengikuti tren, menjadikannya pilihan utama bagi mereka yang berpenghasilan rendah meski kualitasnya jauh dari ideal.

Orang kaya cenderung berinvestasi pada pakaian berkualitas tinggi yang dibuat secara berkelanjutan karena mereka memiliki kemampuan finansial untuk melakukannya.

2. Bahan makanan dalam kemasan siap saji

Orang berpenghasilan rendah cenderung mengandalkan makanan kemasan karena keterbatasan waktu dan energi di tengah padatnya jadwal kerja mereka.

Sebaliknya, orang kaya umumnya memiliki kemampuan untuk menyiapkan makanan sehat dari bahan segar atau mempekerjakan orang untuk memasak bagi mereka.

Makanan kemasan memang menawarkan kemudahan, namun biayanya dalam jangka panjang serta dampaknya pada kesehatan tidak sebanding dengan kepraktisan yang ditawarkan.

3. Tiket lotre

Data menunjukkan bahwa individu berpenghasilan rendah menghabiskan 33 kali lebih banyak proporsi penghasilan mereka untuk tiket lotre dibanding orang berpenghasilan tinggi.

Sekitar 28 persen orang Amerika yang berpenghasilan di bawah 30.000 dolar per tahun bermain lotre setidaknya sekali seminggu, yang berarti sekitar 412 dolar per tahun.

Kondisi yang mendesak dan keinginan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan mendorong orang untuk mengambil risiko finansial yang sebenarnya tidak menguntungkan.

Baca Juga: 7 Barang yang Sering Dibeli Orang dengan Mentalitas Miskin untuk Terlihat Kaya tetapi Tidak Pernah Menjadi Prioritas Orang Kaya

4. Produk sekali pakai

Piring kertas, gelas plastik, dan berbagai produk sekali pakai lainnya adalah pengeluaran rutin bagi banyak keluarga berpenghasilan rendah yang ingin praktis.

Meski terlihat hemat dalam jangka pendek, biaya produk sekali pakai terus menumpuk dan sebenarnya jauh lebih mahal dibanding investasi pada peralatan yang bisa digunakan berulang.

Orang kaya tidak perlu bergantung pada produk sekali pakai karena mereka memiliki waktu dan sumber daya untuk mengelola rumah tangga dengan cara yang lebih efisien.

5. Barang bekas

Membeli barang bekas seperti pakaian, furnitur, atau buku adalah cara umum bagi orang berpenghasilan rendah untuk memenuhi kebutuhan dengan anggaran yang terbatas.

Center for Biological Diversity mencatat bahwa membeli barang bekas sebenarnya memiliki dampak positif bagi lingkungan karena mengurangi limbah dan sampah yang berakhir di tempat pembuangan.

Sementara banyak orang kaya menghindari toko barang bekas karena gengsi, sebenarnya belanja barang bekas adalah pilihan yang cerdas secara finansial maupun lingkungan.

Baca Juga: 9 Sikap yang Menunjukkan Orang dengan Kualitas Mentalitas Miskin hingga Sulit Keluar dari Masalah Finansial, Simak!

6. Langganan streaming dan layanan berlangganan

Berbagai layanan streaming seperti Netflix, Spotify, dan YouTube terlihat murah saat dibayar satu per satu, namun bila ditotal bisa menjadi beban yang cukup signifikan.

Orang berpenghasilan rendah sering tidak menyadari seberapa besar total pengeluaran mereka untuk berbagai langganan ini karena setiap layanan terasa seperti kemewahan kecil yang wajar.

Berbeda dengan orang kaya yang memiliki lebih banyak pilihan hiburan premium, orang miskin melihat layanan berlangganan sebagai bentuk hiburan yang paling terjangkau.

7. Minuman berenergi

Orang berpenghasilan rendah sering terlalu kelelahan dari pekerjaan yang menyita waktu dan energi sehingga sangat bergantung pada minuman berenergi untuk bertahan.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients menemukan bahwa minuman berenergi dapat memberikan dampak negatif pada sistem kardiovaskular dan otak.

Meski tahu dampaknya tidak baik, banyak orang tidak punya pilihan lain dan membutuhkan dorongan energi instan untuk melewati hari kerja yang panjang dan melelahkan.

8. Barang-barang yang sedang tren

Orang berpenghasilan rendah juga ingin menikmati kegembiraan dari barang yang sedang populer, dan ini adalah hak yang sepenuhnya wajar dan manusiawi.

Orang kaya justru cenderung menghindari produk yang terlalu mainstream dan lebih memilih item eksklusif yang tidak mudah dikenali oleh konsumen umum.

Keterlibatan dalam budaya konsumen yang serba tren memberi rasa kebersamaan dan kebahagiaan sesaat yang menjadi salah satu cara merasakan kelimpahan dalam keterbatasan.

Baca Juga: Budaya Konsumtif: Ini 9 Perbedaan Mencolok Cara Belanja Orang Kelas Menengah dan Orang Miskin

9. Perbaikan cepat dan sementara untuk masalah besar

Ketika tidak ada dana darurat untuk perbaikan besar, banyak orang berpenghasilan rendah terpaksa memilih solusi murah dan sementara yang hanya menambal masalah.

Berbeda dengan orang kaya yang langsung menyelesaikan masalah secara tuntas dengan menyewa profesional, orang miskin berharap solusi murah dapat bertahan cukup lama.

Pendekatan tambal sulam ini justru sering berujung pada biaya yang lebih besar karena masalah yang ditunda selalu berkembang menjadi lebih serius dari sebelumnya.

10. Pembelian dalam jumlah besar sekaligus

Membeli dalam jumlah besar adalah strategi penghematan yang sangat umum di kalangan keluarga berpenghasilan rendah, terutama untuk produk kebutuhan pokok.

Diskon pembelian massal memungkinkan mereka menghemat uang dan membangun persediaan darurat tanpa harus menunggu momen promosi yang tidak selalu datang.

Orang kaya tidak perlu melakukan pembelian massal karena stabilitas finansial mereka memungkinkan pembelian kapan saja tanpa harus memikirkan penghematan setiap saat.

Baca Juga: 8 Perilaku Halus Orang yang Diam-Diam Kaya tetapi Berpakaian Sederhana Menurut Psikologi

EDITOR: Candra Mega Sari