← Beranda
Wajib Tahu! Buah-buahan di Supermarket Ternyata Panennya Sudah Satu Tahun Lalu, Perhatikan Dampaknya Bagi Kesehatan
Abdul RahmanKamis, 28 Mei 2026 | 18.44 WIB
Ilustrasi buah apel. (Unsplash/Ashlee Brown)

 

JawaPos.com - Pakar sekaligus praktisi pertanian organik, peternakan, dan pengobatan herbal, Bayu Diningrat, menyoroti kualitas buah impor yang banyak beredar di supermarket Indonesia.

Ia menilai, terdapat ketimpangan standar antara produk pertanian Indonesia dan produk impor dari luar negeri, terutama terkait pemberlakukan regulasi kandungan pestisida dan bahan pengawet.

Dalam sebuah pernyataan dalam video yang beredar di media sosial, Bayu Diningrat mengungkapkan bahwa buah-buahan seperti apel, anggur, dan pir yang biasa dibeli masyarakat di pasar swalayan atau supermarket merupakan hasil panen yang telah disimpan dalam rentang waktu cukup panjang.

“Bapak ibu kalau ke rumah sakit menjenguk orang yang lagi sakit bawa apa ke rumah sakit? Bawa apel, anggur, pir. Panenan kapan itu? Itu sudah satu tahun yang lalu. Apa yang membuat dia bisa awet? Minimal lapisannya lilin dan di dalamnya pasti ada pengawet,” ujar Bayu Diningrat.

Baca Juga: Makna Idul Adha dalam Islam: Tentang Pengorbanan, Keikhlasan, dan Ketaatan kepada Allah

Menurutnya, masyarakat perlu lebih kritis terhadap tampilan buah impor meski terlihat mulus dan tahan lama. Ia menyebut, lapisan lilin pada buah impor biasa digunakan untuk menjaga kesegaran selama proses distribusi lintas negara. Selain itu, penggunaan bahan pengawet juga diduga menjadi faktor penting kenapa buah dapat bertahan selama berbulan-bulan, bahkan hingga satu tahun.

Soroti Ketimpangan Standar Ekspor dan Impor

Bayu Diningrat, pakar pertanian dan peternakan. (TikTok: istimewa)
Bayu Diningrat, pakar pertanian dan peternakan. (istimewa)

Bayu Diningrat juga menyinggung berapa ketatnya standar ekspor yang diterapkan negara lain terhadap produk pertanian asal Indonesia. Ia menilai, buah lokal sering kali ditolak saat hendak diekspor hanya karena ditemukan residu pestisida meski hanya dalam jumlah kecil.

“Kalau manggis, mangga dari Indonesia ada pestisida kecil saja, sedikit saja, balik satu kontainer itu. Yang pintar siapa? Ini nggak fair,” katanya.

Ia kemudian membandingkan perlakuan terhadap produk Indonesia dengan buah-buahan impor yang menurutnya tetap diterima untuk masuk ke pasar domestik meski mengandung residu pestisida.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi masukan dan kritik terhadap kebijakan pengawasan pangan impor di Indonesia yang dinilai belum seketat negara-negara lain dalam melindungi kesehatan masyarakat dan produk lokal.

Efek Negatif Bahan Pengawet pada Buah

Penggunaan bahan pengawet pada buah impor memang menjadi perhatian banyak pihak. Dalam dunia pangan, beberapa zat digunakan untuk memperpanjang masa simpan buah agar tetap terlihat segar selama proses pengiriman dan penyimpanan.

Namun, konsumsi bahan pengawet berlebihan dalam jangka panjang dapat menimbulkan sejumlah dampak negatif bagi kesehatan. Beberapa penelitian menyebut residu bahan kimia tertentu berpotensi memicu gangguan pencernaan, alergi, gangguan hormon, hingga meningkatkan risiko penyakit kronis jika dikonsumsi terus-menerus dalam jumlah tinggi.

Selain itu, lapisan lilin pada buah impor juga kerap menjadi sorotan. Meski sebagian lilin food grade dinyatakan aman, masyarakat tetap dianjurkan mencuci buah dengan air mengalir dan mengupas kulit buah tertentu sebelum dikonsumsi guna mengurangi risiko paparan residu kimia.

GMO dari Luar Negeri Disebut Mudah Masuk ke Indonesia

Selain soal pestisida, Bayu Diningrat juga menyoroti produk pangan hasil rekayasa genetika atau GMO (Genetically Modified Organism). Ia menyebut, banyak negara memiliki aturan sangat ketat terhadap produk GMO.

“Coba bapak ibu ekspor ke Singapura aja, ada produk yang dari benih GMO, rekayasa genetika, masuk ke Singapura, masuk ke Hong Kong, masuk ke Taiwan, pasti ditolak itu,” ujarnya.

Menurut Bayu, kondisi berbeda justru terjadi di Indonesia. Ia menyebut berbagai produk hasil rekayasa genetika (GMO) dari luar negeri tetap bisa masuk dan diterima dengan baik oleh pasar domestik.

“Kalau di Indonesia, seluruh GMO masuk ke Indonesia dan diterima, ini yang hebat siapa gitu lho,” lanjutnya.

Sebaiknya Konsumsi Buah Lokal

Pernyataan Bayu Diningrat tersebut memunculkan kembali perdebatan mengenai perlindungan produk lokal dan keamanan buah-buahan impor di Indonesia. Ia mendorong masyarakat agar lebih mendukung buah lokal yang dinilai lebih segar dan tidak perlu bahan pengawet karena tidak membutuhkan waktu distribusi terlalu lama.

Baca Juga: Kisah Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Awal Mula Disyariatkannya Ibadah Kurban

Selain membantu perekonomian petani, konsumsi buah lokal juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk impor yang menempuh perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan konsumen.

EDITOR: Abdul Rahman