← Beranda
Orang yang Masih Membaca Koran Fisik dan Bukan Aplikasi Berita Memiliki 7 Kualitas Langka Ini Menurut psikologi
Irfan FerdiansyahKamis, 30 April 2026 | 22.41 WIB
seseorang yang masih membaca koran fisik. (Freepik/ImageFlow)

JawaPos.com - Di tengah derasnya arus digital dan notifikasi tanpa henti, kebiasaan membaca koran fisik mungkin terlihat kuno bagi sebagian orang.

Namun, dari sudut pandang psikologi, pilihan ini justru mencerminkan sejumlah kualitas mental dan emosional yang semakin langka di era modern.

Orang-orang yang masih setia membuka lembar demi lembar koran cetak sering kali memiliki karakteristik unik yang patut diperhatikan.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat tujuh kualitas langka yang sering dimiliki oleh mereka:

1. Kemampuan fokus yang tinggi

Membaca koran fisik membutuhkan perhatian penuh. Tidak ada notifikasi pop-up, iklan bergerak, atau tautan yang menggoda untuk diklik. Secara psikologis, ini melatih deep focus—kemampuan untuk berkonsentrasi dalam waktu lama. Orang yang terbiasa membaca koran cenderung memiliki daya fokus yang lebih kuat dibandingkan mereka yang terbiasa dengan konsumsi informasi digital yang terfragmentasi.

2. Kesabaran dan toleransi terhadap proses

Berbeda dengan aplikasi berita yang memberikan informasi secara instan, membaca koran mengajarkan seseorang untuk menikmati proses. Mereka harus membuka halaman, mencari rubrik, dan membaca secara berurutan. Ini menunjukkan tingkat kesabaran yang tinggi—sebuah kualitas yang semakin jarang di dunia serba cepat.

3. Kemampuan berpikir mendalam (deep thinking)

Koran biasanya menyajikan artikel yang lebih panjang dan analitis dibandingkan berita digital yang sering kali ringkas. Pembaca koran terbiasa mencerna informasi secara lebih mendalam, memahami konteks, dan melihat suatu isu dari berbagai sudut pandang. Ini berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis yang lebih matang.

4. Tidak mudah terpengaruh oleh distraksi digital

Dari perspektif psikologi kognitif, kemampuan untuk menghindari distraksi adalah tanda kontrol diri yang baik. Orang yang memilih koran fisik secara tidak langsung menunjukkan bahwa mereka mampu mengatur perhatian dan tidak bergantung pada stimulasi cepat dari layar digital.

5. Kecenderungan reflektif dan introspektif

Membaca koran sering kali dilakukan dalam suasana tenang—misalnya di pagi hari dengan secangkir kopi. Kebiasaan ini mendorong refleksi diri. Mereka tidak hanya membaca berita, tetapi juga memikirkan implikasinya terhadap kehidupan pribadi maupun masyarakat secara luas.

6. Apresiasi terhadap pengalaman sensorik

Kertas, tinta, bau koran, dan sensasi membalik halaman memberikan pengalaman sensorik yang tidak bisa digantikan oleh layar. Orang yang menghargai hal ini cenderung memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap pengalaman nyata (mindfulness) dan tidak sepenuhnya tenggelam dalam dunia digital.

7. Kemandirian dalam memilih informasi

Algoritma aplikasi berita biasanya menyajikan konten berdasarkan preferensi pengguna, yang bisa menciptakan “echo chamber”. Sebaliknya, koran menyajikan berbagai topik dalam satu paket. Pembacanya harus secara aktif memilih apa yang ingin dibaca. Ini menunjukkan kemandirian berpikir dan keterbukaan terhadap perspektif yang beragam.

Membaca koran fisik bukan sekadar kebiasaan lama yang belum ditinggalkan, tetapi bisa menjadi cerminan dari kualitas psikologis yang kuat—mulai dari fokus, kesabaran, hingga kemampuan berpikir kritis. Di era digital yang serba cepat dan penuh distraksi, kualitas-kualitas ini justru menjadi semakin berharga.

Jadi, jika Anda atau seseorang yang Anda kenal masih setia dengan koran cetak, mungkin itu bukan karena ketinggalan zaman—melainkan karena memiliki cara berpikir yang lebih dalam dan terstruktur.
***

EDITOR: Novia Tri Astuti