← Beranda
Jika Seorang Perempuan Tetap Diam Saat Pertengkaran, Kemungkinan Besar Ia Pernah Mengalami 7 Hal Ini Saat Tumbuh Dewasa
Irfan Ferdiansyah• Kamis, 16 April 2026 | 00.23 WIB
seseorang yang tetap diam saat pertengkaran terjadi. (Freepik/pressfoto)

 

JawaPos.com - Dalam sebuah hubungan, cara seseorang merespons konflik sering kali bukan sekadar pilihan spontan, melainkan hasil dari pengalaman panjang yang membentuk dirinya sejak kecil. Ada perempuan yang tegas, ada yang ekspresif, dan ada pula yang memilih diam saat pertengkaran terjadi.

Diamnya seorang perempuan sering disalahartikan sebagai sikap tidak peduli, pasrah, atau bahkan manipulatif. Padahal, dalam banyak kasus, diam tersebut adalah mekanisme perlindungan diri—sesuatu yang ia pelajari dari pengalaman hidupnya.

Dilansir dari Expert Editor, jika seorang perempuan cenderung memilih diam saat konflik, ada kemungkinan ia pernah mengalami beberapa hal berikut saat tumbuh dewasa.

1. Terbiasa Hidup di Lingkungan yang Tidak Aman Secara Emosional

Perempuan yang tumbuh di lingkungan penuh ketegangan—entah itu sering terjadi pertengkaran, teriakan, atau konflik berkepanjangan—biasanya belajar satu hal: berbicara bisa memperburuk keadaan.

Dalam kondisi seperti ini, diam menjadi strategi bertahan hidup. Ia belajar bahwa menghindari konflik lebih aman daripada menghadapinya. Saat dewasa, pola ini terbawa, sehingga ia memilih diam bukan karena tidak punya pendapat, tetapi karena ingin menjaga situasi tetap terkendali.

2. Pendapatnya Sering Diabaikan Sejak Kecil

Jika sejak kecil seseorang terbiasa tidak didengar—entah oleh orang tua, keluarga, atau lingkungan sekitar—ia bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa suaranya tidak penting.

Akibatnya, saat terjadi pertengkaran, ia mungkin merasa:

“Untuk apa bicara? Toh tidak akan didengar.”
“Percuma menjelaskan, pasti tetap disalahkan.”

Diam menjadi bentuk kelelahan emosional, bukan ketidakpedulian.

3. Pernah Dihukum atau Dimarahi Saat Mengungkapkan Perasaan

Ada perempuan yang dulu dimarahi setiap kali mencoba jujur tentang perasaannya. Mungkin ia dianggap melawan, terlalu sensitif, atau tidak sopan.

Pengalaman ini menanamkan ketakutan bahwa:

Mengungkapkan perasaan = risiko dimarahi
Bicara jujur = konflik yang lebih besar

Maka saat dewasa, ia memilih diam sebagai cara menghindari konsekuensi negatif yang pernah ia alami.

4. Terbiasa Menjadi “Penjaga Kedamaian”

Dalam beberapa keluarga, ada anak yang tanpa sadar mengambil peran sebagai penenang atau “penjaga harmoni.” Ia belajar menahan diri, mengalah, dan meredam emosi agar konflik tidak semakin besar.

Peran ini mungkin membuatnya terlihat dewasa, tapi di sisi lain:

Ia terbiasa mengorbankan perasaannya sendiri
Ia lebih fokus menjaga suasana daripada menyuarakan isi hati

Saat bertengkar dalam hubungan, naluri ini muncul kembali—ia diam demi menjaga kedamaian, meskipun dirinya sendiri terluka.

5. Takut Ditinggalkan atau Kehilangan Hubungan

Ketakutan akan kehilangan sering membuat seseorang menekan emosinya sendiri. Jika seorang perempuan pernah mengalami penolakan, pengabaian, atau kehilangan di masa kecil, ia bisa tumbuh dengan rasa takut yang mendalam terhadap konflik.

Baginya, pertengkaran bisa terasa seperti ancaman:

“Kalau aku bicara, dia bisa pergi.”
“Lebih baik diam daripada kehilangan.”

Diam menjadi cara untuk mempertahankan hubungan, meskipun harus mengorbankan kejujuran diri.

6. Tidak Pernah Diajarkan Cara Berkomunikasi yang Sehat

Kemampuan berkomunikasi bukan sesuatu yang otomatis dimiliki; itu dipelajari. Jika seseorang tumbuh tanpa contoh komunikasi yang sehat—misalnya diskusi terbuka, saling mendengar, atau penyelesaian konflik yang baik—ia mungkin tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan perasaan dengan benar.

Akhirnya, ia memilih diam karena:

Bingung harus berkata apa
Takut salah bicara
Tidak tahu cara menyampaikan emosi tanpa menyakiti

Diam di sini adalah tanda keterbatasan, bukan ketidakpedulian.

7. Terlalu Sering Menahan Emosi Hingga Terbiasa Memendam

Ada perempuan yang sejak kecil diajarkan untuk “kuat,” “sabar,” dan “tidak cengeng.” Tanpa disadari, ini membuatnya terbiasa menekan emosi.

Ia mungkin:

Jarang menangis di depan orang lain
Menyimpan masalah sendiri
Terlihat tenang di luar, tapi penuh beban di dalam

Saat konflik terjadi, respons otomatisnya adalah menutup diri. Diam menjadi zona nyaman, meskipun sebenarnya ia ingin didengar.

Penutup: Diam Bukan Selalu Lemah

Penting untuk memahami bahwa diam bukan selalu tanda kelemahan atau ketidakpedulian. Dalam banyak kasus, diam adalah bahasa yang terbentuk dari luka, pengalaman, dan cara bertahan hidup.

Namun, jika dibiarkan terus-menerus, pola ini bisa merugikan:

Perasaan tidak tersampaikan
Masalah tidak terselesaikan
Hubungan menjadi renggang

Bagi perempuan yang merasa relate, belajar untuk berbicara secara perlahan adalah langkah penting. Dan bagi pasangan atau orang di sekitarnya, menciptakan ruang yang aman untuk komunikasi adalah kunci.

Karena pada akhirnya, setiap orang ingin didengar—hanya saja, tidak semua orang tahu bagaimana caranya berbicara.***

 

EDITOR: Novia Tri Astuti