← Beranda
8 Jenis Postingan Media Sosial yang Sering Dikaitkan dengan Sifat Narsistik, Apakah Postingan Anda Termasuk?
Leni Setya WatiMinggu, 15 Maret 2026 | 00.14 WIB
Ilustrasi postingan media sosial orang narsistik (freepik/lookstudio)

JawaPos.com - Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari banyak orang. Platform digital ini dapat menjadi tempat untuk berbagi pengalaman, membangun koneksi, hingga menemukan inspirasi baru.

Namun di sisi lain, perilaku seseorang di dunia maya juga sering mencerminkan sisi kepribadian yang lebih dalam.

Beberapa waktu lalu, seorang penulis bernama Isabella Chase mengalami sebuah momen sederhana yang membuatnya berpikir tentang hubungan antara perilaku online dan kondisi psikologis seseorang.

Baca Juga: Orang yang Menggunakan Media Sosial untuk Mengatur Emosi, Biasanya Menunjukkan 7 Kepribadian yang Sering Ditemukan Ini Menurut Psikologi

Saat duduk santai di sebuah kafe sambil menunggu tehnya sedikit mendingin, Isabella memperhatikan seorang wanita di meja sebelahnya.

Wanita itu tampak sangat fokus pada ponselnya. Ia berkali-kali mengambil foto dirinya sendiri, mengatur sudut kamera, menghapus sebagian besar hasil foto, lalu mencoba lagi.

Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya satu foto dipilih dan diunggah dengan ekspresi puas.

Baca Juga: Psikolog Ungkap Banyak Remaja Alami Masalah Emosi dan Prilaku, Salah Satunya Oversharing di Media Sosial

Pemandangan sederhana itu membuat Isabella bertanya-tanya. Seberapa sering dunia batin seseorang tercermin dalam perilaku digital mereka tanpa disadari?

Psikologi modern memang melihat media sosial sebagai salah satu cermin perilaku manusia.

Cara seseorang memposting, menanggapi komentar, hingga jenis konten yang dibagikan bisa memberi petunjuk tentang kebutuhan emosional dan pola kepribadian tertentu, termasuk kecenderungan narsistik.

Tentu saja, tujuan pembahasan ini bukan untuk memberi label atau mempermalukan siapa pun. Hampir semua orang pernah merasakan keinginan untuk mendapatkan perhatian atau pengakuan dari orang lain.

Namun memahami pola ini dapat membantu seseorang menjadi lebih sadar terhadap motivasi di balik perilaku online mereka.

Dilansir dari The Vessel, berikut delapan jenis postingan di media sosial yang menurut psikologi sering dikaitkan dengan kecenderungan narsistik.

1. Terlalu Banyak Selfie dengan Pola yang Sama

Saat menjelajahi media sosial, banyak orang pernah menemukan akun yang hampir seluruh isinya berupa selfie. Sudut foto yang sama, ekspresi wajah yang mirip, bahkan gaya pose yang tidak banyak berubah.

Menurut psikologi, pola ini dapat menunjukkan fokus yang sangat tinggi pada citra diri. Individu dengan kecenderungan narsistik sering memiliki kebutuhan kuat untuk dilihat, dikagumi, dan diakui oleh orang lain.

Selfie sebenarnya bukan hal yang bermasalah. Hampir semua orang pernah mengambil foto diri sendiri dan membagikannya.

Namun ketika hampir semua unggahan berpusat pada diri sendiri tanpa variasi konten lain, hal tersebut bisa menjadi indikasi adanya kebutuhan validasi eksternal.

Isabella Chase pernah membaca penelitian yang menjelaskan bahwa sebagian orang menggunakan selfie sebagai cara untuk mengontrol bagaimana orang lain memandang mereka.

Media sosial kemudian menjadi alat untuk mengkurasi citra diri, bukan sekadar berbagi pengalaman hidup.

Pertanyaan yang sering ia renungkan adalah sederhana: apakah seseorang sedang membagikan momen kehidupan, atau sedang mengelola citra dirinya?

2. Postingan yang Secara Halus Meminta Pujian

Jenis unggahan lain yang sering muncul adalah postingan yang tampak seperti kritik terhadap diri sendiri, tetapi sebenarnya dirancang untuk memancing pujian.

Contohnya adalah caption yang terdengar seperti keluhan ringan tentang penampilan atau kemampuan diri, tetapi disertai foto yang terlihat sangat sempurna.

Psikolog menyebut perilaku ini sebagai bentuk pencarian validasi. Orang dengan kecenderungan narsistik sering bergantung pada respons orang lain untuk menjaga harga diri mereka tetap stabil.

Alih-alih memiliki rasa percaya diri yang kuat dari dalam diri, mereka mencari konfirmasi eksternal agar merasa berharga.

Isabella Chase menyadari bahwa pola seperti ini cukup umum di media sosial. Banyak orang secara tidak sadar menggunakan platform digital untuk mencari penguatan emosional dari komentar dan tanda suka.

3. Pamer yang Disamarkan dengan Kerendahan Hati

Fenomena lain yang cukup sering terlihat adalah humblebrag atau pamer secara terselubung.

Misalnya seseorang yang mengeluh karena terlalu sibuk dengan proyek besar, atau merasa lelah karena terlalu banyak pencapaian. Secara permukaan terdengar seperti keluhan, tetapi sebenarnya menyampaikan pesan tentang keberhasilan.

Dalam psikologi, perilaku ini sering dikaitkan dengan kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan tanpa terlihat terlalu menyombongkan diri.

Orang dengan sifat narsistik kadang menyembunyikan kebanggaan mereka di balik gaya komunikasi yang tampak rendah hati. Namun motif dasarnya tetap sama: ingin diakui, dihargai, dan dianggap unggul.

Alih-alih membangun koneksi, pola komunikasi seperti ini kadang justru membuat orang lain merasa dimanipulasi.

4. Krisis Pribadi yang Dibagikan Secara Dramatis

Beberapa akun media sosial cenderung menjadikan setiap masalah pribadi sebagai tontonan publik. Mulai dari konflik hubungan, kesedihan mendalam, hingga masalah kesehatan dibagikan secara detail.

Psikologi menyebut perilaku ini sebagai bentuk pameran emosi atau emotional exhibitionism.

Dalam beberapa kasus, perhatian dan simpati yang datang dari orang lain dapat memperkuat kebiasaan ini. Semakin banyak respons yang didapat, semakin besar dorongan untuk terus membagikan drama pribadi.

Padahal, tidak semua pengalaman emosional perlu diumumkan kepada publik. Terkadang proses penyembuhan justru lebih sehat ketika dilakukan secara pribadi terlebih dahulu.

5. Reaksi Berlebihan terhadap Kritik

Salah satu ciri khas kecenderungan narsistik adalah kesulitan menerima kritik.

Di media sosial, hal ini sering terlihat melalui komentar defensif, serangan balik terhadap pengkritik, atau unggahan sindiran yang ditujukan kepada orang tertentu.

Psikologi menjelaskan bahwa di balik sikap tersebut sering terdapat citra diri yang sebenarnya rapuh. Kritik kecil saja bisa terasa seperti ancaman besar bagi harga diri mereka.

Akibatnya, respons yang muncul sering berupa kemarahan atau penolakan, bukan refleksi diri.

6. Kebaikan yang Ditampilkan sebagai Pertunjukan

Melakukan hal baik tentu merupakan sesuatu yang positif. Namun ketika setiap tindakan kebaikan selalu disertai dokumentasi dan dipublikasikan secara berulang, motivasinya bisa dipertanyakan.

Psikolog menyebut fenomena ini sebagai virtue signaling atau pencitraan kebajikan.

Dalam konteks narsisisme, seseorang mungkin ingin terlihat sebagai pribadi yang paling peduli, paling etis, atau paling dermawan.

Media sosial kemudian menjadi panggung untuk menunjukkan superioritas moral di hadapan publik.

7. Obsesi pada Status dan Kemewahan

Unggahan yang berfokus pada barang mewah, tempat eksklusif, atau merek mahal juga sering dikaitkan dengan pencarian status.

Menurut penelitian psikologi, individu dengan sifat narsistik cenderung mengaitkan identitas mereka dengan simbol kesuksesan.

Media sosial memberikan ruang ideal untuk menampilkan gaya hidup tersebut. Namun ketika harga diri sangat bergantung pada citra status, rasa puas yang diperoleh sering bersifat sementara.

8. Sindiran Halus dan Perbandingan dengan Orang Lain

Beberapa postingan di media sosial tampak seperti humor atau candaan, tetapi sebenarnya berisi sindiran kepada orang lain.

Caption yang membandingkan diri dengan orang lain atau menyampaikan ejekan secara halus dapat menjadi tanda adanya rasa tidak aman.

Psikologi melihat bahwa sebagian orang menggunakan perbandingan sosial untuk meningkatkan harga diri mereka. Dengan merendahkan orang lain, mereka mencoba merasa lebih unggul.

Namun kebiasaan ini dalam jangka panjang justru dapat merusak hubungan sosial dan kepercayaan.

Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Namun alat ini sering memperkuat karakter yang sudah ada dalam diri seseorang.

Kecenderungan narsistik sendiri berada dalam spektrum. Hampir setiap orang pernah menunjukkan perilaku yang mirip pada suatu titik kehidupan mereka.

Menurut Isabella Chase, langkah pertama untuk memahami perilaku digital adalah kejujuran terhadap diri sendiri.

Sebelum menekan tombol unggah, seseorang bisa berhenti sejenak dan bertanya: kebutuhan apa yang sebenarnya mendorong postingan ini?

Apakah tujuan utamanya untuk terhubung dengan orang lain, atau sekadar mencari validasi?

Perbedaan antara keduanya sangat penting. Koneksi yang tulus dapat memberikan rasa kedekatan dan makna, sementara validasi yang terus-menerus justru sering membuat seseorang merasa semakin lapar akan perhatian.

Dengan kesadaran yang lebih besar, media sosial dapat digunakan secara lebih sehat, tidak hanya sebagai tempat untuk terlihat, tetapi juga sebagai ruang untuk berbagi pengalaman hidup dengan niat yang lebih jujur dan membumi.

 
 
EDITOR: Setyo Adi Nugroho