← Beranda
Tipe Kepribadian MBTI Dapat Menunjukkan Cara Seseorang Memahami Emosi Orang Lain, Simak Penjelasannya di Sini!
Mega KhaeraniSabtu, 9 November 2024 | 19.52 WIB
Ilustrasi cara tipe kepribadian MBTI menunjukkan empati pada orang lain.

JawaPos.com - Ketika berbicara tentang empati, banyak orang yang menganggap sebagai kemampuan untuk memahami emosi orang lain. Beberapa orang nampaknya lebih baik dalam hal ini daripada yang lain.

Padahal empati lebih seperti kecerdasan yang hadir dalam berbagai bentuk. Jadi ini, bukan tentang seberapa baik atau buruk empati seseorang.

Melainkan mencari tahu empati apa yang muncul secara alami dalam diri seseorang dan di mana bagian yang perlu ditingkatkan.

Dilansir dari True You Journal, inilah cara tipe kepribadian MBTI menunjukkan empati pada orang lain.

1. Teori: Empati kognitif

Para ahli teori yaitu ENTJ, ENTP, INTJ, dan INTP memiliki pikiran dan tindakan yang rasional dan logis. Hal ini tidak hanya berpengaruh pada cara mereka melihat dunia, tetapi juga dari caranya yaitu menggunakan lebih banyak pikiran daripada hati.

Dengan kata lain, mereka memiliki empati kognitif. Mereka hebat dalam menganalisis dinamika interpersonal dan menyimpulkan bagaimana perasaan seseorang berdasarkan konteks dan perilaku orang tersebut.

Seorang yang ahli secara teori tidak akan sekedar mendengarkan, tetapi juga memahami konteks situasi yang lebih luas. Mereka mungkin akan berkata, "Jangan terlalu menganggapnya serius. Itu tidak berarti dia tidak peduli. Maksudku, dia sedang banyak urusan sekarang—dengan pekerjaan barunya dan sebagainya."

Meskipun ini dapat membantu temannya untuk melihat segala sesuatu dari perspektif yang tepat, namun mungkin itu bukan yang mereka cari saat itu. Kemungkinan orang tersebut telah mengetahui jauh di lubuk hati, tetapi tetap merasa kesal dan ingin seseorang mengakui dan memvalidasinya.

Dengan kata lain, temannya mencari empati emosional yang bukan merupakan ahli seorang teoritikus. Itulah sebabnya, banyak orang yang menganggap mereka bukan orang yang peka dan tidak peduli secara emosional.

Empati yang penuh kasih sayang bukan menjadi kelebihan mereka. Meskipun mereka memahami apa yang sedang dialami seseorang secara emosional dan apa yang mungkin membantu, mereka bukanlah tipe yang akan benar-benar melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

2. Responden: Empati emosional

Responden seperti ESTP, ESFP, ISTP, dan ISFP selalu hidup di masa sekarang. Mereka sangat peka terhadap detail sensorik dan emosional dari lingkungan terdekatnya. Dalam hal empati, mereka adalah orang yang sangat alami dalam menangkap emosi orang lain dan meresponnya secara langsung.

Namun, mereka tidak memikirkannya. Mereka merasakan emosi orang lain hampir di tingkat naluri. Mereka secara alami mungkin akan bertanya sesuatu seperti, "Hai, apakah semuanya baik-baik saja di sini?" atau memberikan komentar ringan untuk meredakan ketegangan.

Karena terlalu fokus pada apa yang terjadi, responder mungkin akan mengabaikan konteks yang lebih dalam dari situasi yang lebih kompleks. Jika seorang teman merasa sedih, responder mungkin hanya mencoba menghibur dengan mengalihkan perhatian atau menawarkan bahu untuk menangis.

Mereka bukanlah tipe orang yang akan terjun langsung ke dalam percakapan yang lebih serius untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun membuat orang lain merasa lebih baik, terkadal hal ini terlihat seolah memberi plester luka tanpa benar-benar mengobati.

Bagi tipe responder, kekuatan mereka terletak pada penanganan apa yang dapat mereka lihat dan rasakan saat ini. Bukannya mereka tidak peduli, hanya saja mereka tidak punya cukup daya pikir untuk membantu.

3. Pelestari: Empati penuh kasih sayang

Pelestasi seperti ESTJ, ESFJ,ISTJ, dan ISFJ adalah tipe orang yang benar-benar hidup dengan motto "tindakan lebih berarti daripada kata-kata. Jadi tidak mengherankan jika mereka cenderung memiliki gaya empati yang penuh kasih sayang.

Bagi mereka, yang terpenting adalah hadir dan memastikan segala sesuatunya terurus. Mereka seringkali dapat merasakan emosi seseorang bahkan sebelum orang tersebut menyadarinya.

Namun, tipe pelestasi ini kurang memiliki empati emosional. Mereka tidak benar-benar melihat pentingnya curahan emosi atau percakapan yang menyentuh hati. Selain itu, mereka juga terlalu fokus pada memperbaiki masalah sehingga tidak melihat sisi emosionalnya.

Jadi, alih-alih hanya berada di sana untuk seseorang sebagai pendengar yang simpatik dan tempat menangis, mereka mungkin akan langsung masuk ke mode penyelesaian. Mereka mungkin akan berkata, "Mengapa kamu tidak langsung mengonfrontasinya saja?" Meskipun praktis, mungkin bukan yang dibutuhkan orang tersebut saat itu.

4. Empati: Kognitif, emosional, dan penuh kasih sayang

MBTI Empati seperti ENFJ, ENFP, INFJ, dan INFP unggul dalam empati emosional. Mereka benar-benar dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain pada tingkat yang sama sekali berbeda. Mereka seperti memiliki indera keenam untuk memahami keadaan emosional orang lain tanpa berpikir dua kali.

Namun, mereka nggak hanya merasakan emosi yang sama, tetapi juga pandai dalam empati kognitif. Mereka tidak hanya dapat menawarkan telinga yang simpak ketika seseorang merasa kesal, tetapi juga meluangkan waktu untuk menggali lebih dalam dan memahami gambaran yang lebih besar.

Mereka juga sangat pandai dalam mengatur waktu. Mereka tahu kapan harus mendengarkan dan menganggukkan, kapan harus memberi nasihat, dan kapan lelucon yang tepat akan bermanfaat daripada kata-kata bijak.

Dalam hal empati kasih sayang, mereka juga tidak kekurangan. Orang dengan MBTI ini tidak hanya merasakan dan memahami apa yang dialami seseorang, tetapi mereka siap turun tangan dan benar-benar melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

Meskipun memiliki hampir semua jenis empati, beberapa MBTI ini juga memiliki sisi negatif. Jika mereka tidak berhati-hati, mereka bisa jadi terlalu sibuk dengan masalah orang lain.

Akibatnya, mereka jadi terlalu memaksakan diri dan melupakan tujuan serta rutinitas perawatan dirinya. Jika tidak dikendalikan, kekuatan empati mereka yang tinggi dapat membuatnya kelelahan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho