← Beranda
Khorkhog hingga Khuushuur, Cita Rasa Mongolia Autentik Hadir di Restoran Seoul Nomad
Leni Setya Wati• Senin, 13 Juli 2026 | 16.06 WIB
makanan khas mongolia khorkhog (sumber pinterest)

 

 

JawaPos.com – Mengenal budaya Mongolia lewat makanan, khorkhog adalah hidangan yang wajib dicoba. Dikutip dari Korea Joongang Daily, sajian khas berbahan daging domba ini menjadi simbol kehidupan masyarakat nomaden Mongolia selama berabad-abad.

Di Seoul, cita rasa autentiknya bisa ditemukan di restoran Seoul Nomad yang berada di Distrik Jungnang dan dikenal menyajikan resep tradisional dengan sentuhan asli Mongolia.

Khorkhog dimasak menggunakan teknik unik yang telah diwariskan turun-temurun. Batu sungai berukuran besar dipanaskan di atas bara api hingga membara, lalu dimasukkan ke dalam panci logam bersama potongan daging domba, kentang, dan wortel.

Seluruh bahan kemudian dimasak perlahan selama sekitar satu jam. Karena prosesnya memakan waktu cukup lama, restoran hanya menyiapkan hidangan ini sekali setiap pagi. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk dengan cita rasa alami tanpa aroma prengus yang berlebihan.

Khorkhog mencerminkan gaya hidup masyarakat Mongolia yang berpindah-pindah mengikuti ternak mereka. Dengan peralatan sederhana, api, batu panas, dan daging menjadi bekal utama yang mudah dibawa selama perjalanan.

Hingga kini, khorkhog tetap identik sebagai hidangan kebersamaan yang biasa dinikmati bersama keluarga atau teman, terutama saat musim panas untuk memulihkan energi.

Selain itu, restoran ini juga menawarkan khuushuur, pangsit goreng khas Mongolia yang menjadi salah satu makanan favorit masyarakat setempat. Isinya didominasi daging sapi cincang, daun kucai, dan bawang, dibungkus kulit renyah berwarna keemasan.

Berbeda dengan versi tradisional yang lebih berminyak, Seoul Nomad sedikit menyesuaikan resepnya agar lebih sesuai dengan selera pelanggan Korea tanpa menghilangkan cita rasa aslinya.

Ada menu lain yang tak kalah menarik adalah huitsai, sup khas Mongolia yang dipengaruhi kuliner Tiongkok. Hidangan ini dibuat melalui proses panjang dengan kaldu sapi yang direbus hingga delapan jam sebelum dipadukan dengan bakso, sayuran, bihun kaca, serta roti kukus khas Mongolia.

Berbeda dari kebanyakan masakan Mongolia yang hanya menggunakan garam sebagai bumbu utama, huitsai juga diberi kecap asin sehingga menghasilkan rasa gurih yang lebih kaya.

Dibangun oleh Uchral, warga Mongolia yang telah menetap di Korea Selatan selama sekitar satu dekade, Seoul Nomad hadir dengan memperkenalkan budaya dan kuliner Mongolia kepada masyarakat Korea.

Nama restoran tersebut merupakan perpaduan antara "Seoul" yang mewakili Korea dan "Nomad" yang melambangkan identitas Mongolia.

Berkat keaslian cita rasa dan proses memasak yang tetap mempertahankan tradisi, restoran ini kini menjadi destinasi favorit, tidak hanya bagi warga Mongolia, tetapi juga masyarakat Korea yang ingin mencicipi pengalaman kuliner berbeda.

 

***

EDITOR: Novia Tri Astuti