JawaPos.com - Pes ternyata belum benar-benar hilang dari dunia modern. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat hampir 4 ribu kejadian suspek dan terkonfirmasi pes sepanjang 2019 hingga 2025. Laporan kasus itu tersebar di sejumlah wilayah Afrika, Asia, dan Amerika Selatan.
Data tersebut kembali menjadi perhatian setelah muncul laporan dugaan kasus pes di Rusia. Seorang pekerja lembaga penelitian pes di dekat Irkutsk, Siberia, dilaporkan meninggal setelah mengalami pneumonia berat. Namun, hingga kini otoritas Rusia belum mengkonfirmasi bahwa pes menjadi penyebab kematiannya.
Di luar kasus tersebut, data WHO menunjukkan bahwa pes masih menjadi penyakit yang perlu diwaspadai di wilayah tertentu. Penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis ini tidak hanya tercatat sebagai bagian dari sejarah wabah besar, tetapi masih ditemukan pada manusia dan hewan hingga saat ini.
Dilansir via Newsweek, peta yang dirilis WHO dan diperbarui pada 29 September memperlihatkan keberadaan kasus pes dalam beberapa tahun terakhir. WHO mencatat negara-negara dengan kasus suspek maupun terkonfirmasi selama periode 2019-2025.
Secara geografis, epidemi pes dalam beberapa tahun terakhir masih berkaitan terutama dengan Afrika, Asia, dan Amerika Selatan.
WHO menjelaskan bahwa sebagai penyakit pada hewan, pes ditemukan di semua benua kecuali Oseania. Risiko muncul ketika bakteri Yersinia pestis dan populasi manusia hidup berdampingan dalam lingkungan yang memungkinkan terjadinya penularan.
Artinya, keberadaan pes tidak semata-mata ditentukan oleh ada atau tidaknya kasus manusia. Bakterinya dapat bertahan dalam siklus penularan pada hewan, kemudian berpindah ke manusia dalam kondisi tertentu.
Afrika Disorot
Jika melihat perkembangan kasus sejak 1990-an, WHO mencatat sebagian besar kasus pes pada manusia berasal dari Afrika. Dua negara yang paling sering disebut dalam konteks tersebut adalah Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pes masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di sejumlah wilayah. Terutama ketika lingkungan memungkinkan bakteri bertahan pada populasi hewan dan kemudian menular kepada manusia.
Karena itu, munculnya kasus pes tidak selalu berarti penyakit tersebut datang dari luar wilayah. Dalam daerah endemis, bakteri dapat terus berada dalam ekosistem dan sewaktu-waktu menyebabkan kasus baru pada manusia
WHO sendiri mengelompokkan infeksi pes ke dalam tiga bentuk klinis utama, yakni pes bubonik, pes pneumonik, dan pes septikemik.
Pes bubonik merupakan bentuk yang paling umum. Infeksi biasanya menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening yang dikenal sebagai bubo. Kondisi tersebut dapat muncul setelah seseorang terinfeksi melalui gigitan kutu yang membawa bakteri.
Berbeda dengan pes bubonik, pes pneumonik menyerang paru-paru. Bentuk ini menjadi perhatian khusus karena dapat menular langsung dari manusia ke manusia melalui partikel pernapasan.
Sementara itu, pes septikemik terjadi ketika bakteri menginfeksi aliran darah. Bentuk ini dapat berkembang sebagai komplikasi dari pes bubonik atau pneumonik, tetapi juga dapat terjadi sebagai infeksi primer.
Pes Pneumonik Paling Ganas
Dari tiga bentuk tersebut, pes pneumonik memiliki karakter yang paling mengkhawatirkan dalam konteks penularan antarmanusia. WHO menyebut pes pneumonik sebagai bentuk penyakit yang paling virulen. Bakteri menginfeksi paru-paru dan dapat berpindah melalui droplet atau partikel pernapasan dari penderita kepada orang lain.
Perbedaan cara penularan ini penting untuk memahami mengapa sebuah kasus pes pneumonik dapat memicu tindakan isolasi dan pengawasan terhadap orang-orang yang melakukan kontak dengan pasien.
Namun, keberadaan kasus pes di suatu wilayah tidak otomatis berarti sedang terjadi wabah besar. Investigasi epidemiologis diperlukan untuk menentukan sumber infeksi, rantai penularan, serta jumlah orang yang benar-benar terinfeksi.
Pes sendiri sering dianggap sebagai penyakit masa lalu karena sejarah wabah besar yang pernah menewaskan jutaan orang. Namun, bakteri penyebabnya tidak pernah benar-benar menghilang.
Yersinia pestis dapat bertahan dalam siklus alami pada hewan. Dalam kondisi tertentu, manusia dapat masuk ke dalam siklus tersebut dan terinfeksi.
WHO menjelaskan bahwa risiko pes muncul di tempat terdapat bakteri Yersinia pestis sekaligus populasi manusia. Faktor lingkungan dan keberadaan hewan yang menjadi bagian dari siklus bakteri ikut menentukan kemungkinan terjadinya kasus.
Karena itu, pemberantasan pes tidak cukup hanya dengan mengobati pasien. Pengawasan terhadap penyakit pada hewan, identifikasi kasus secara cepat, serta pengendalian penularan tetap menjadi bagian penting dari pencegahan.
Kasus Rusia kembali mengingatkan pes belum menjadi penyakit masa lalu. Laporan dari Siberia menjadi pengingat bahwa pes masih dapat muncul bahkan di luar wilayah yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan penyakit tersebut.
Dalam kasus Rusia, sejumlah media melaporkan seorang pekerja laboratorium mengalami pneumonia berat setelah diduga mengalami insiden saat menangani sampel bakteri. Sedikitnya 197 orang yang disebut mungkin melakukan kontak dengannya kemudian ditempatkan dalam isolasi medis.
Namun, otoritas Rusia belum mengonfirmasi bahwa kematian tersebut disebabkan oleh pes. Rospotrebnadzor juga menyatakan tidak terdapat kecelakaan yang melibatkan mikroorganisme patogen di lembaga penelitian terkait.
Karena itu, kasus Rusia dan data WHO perlu dibedakan. Kasus Rusia masih berupa dugaan yang menunggu konfirmasi, sedangkan hampir 4 ribu kejadian yang tercatat WHO merupakan kumpulan laporan suspek dan terkonfirmasi dari berbagai negara sepanjang 2019-2025.
Data tersebut menunjukkan satu hal penting, pes memang jauh lebih jarang dibandingkan penyakit infeksi modern lainnya. Tetapi bakteri penyebabnya masih beredar di alam dan penyakitnya masih ditemukan pada manusia.
Dengan kata lain, pes bukan penyakit yang hanya hidup dalam buku sejarah. Selama Yersinia pestis masih bertahan dalam lingkungan dan siklus hewan, risiko kemunculan kasus pada manusia tetap ada.