Jawapos.com - Banyaknya tahapan pengolahan makanan tidak serta merta menurunkan kualitas gizi maupun membuatnya berbahaya untuk dikonsumsi.
Pakar Gizi Masyarakat dari IPB University, Prof. Ali Khomsan, menjelaskan, penilaian terhadap suatu produk makanan tidak boleh hanya diukur dari seberapa kompleks tingkat pengolahannya saja. Hal yang jauh lebih krusial untuk dicermati oleh konsumen adalah profil nutrisi, keamanan, serta peran makanan tersebut dalam pola makan gizi seimbang.
"Penilaian pangan tidak bisa hanya dilihat dari tingkat pengolahannya. Yang lebih penting adalah kandungan zat gizi, keamanan, serta bagaimana pangan tersebut dikonsumsi dalam pola makan yang seimbang," ujar Prof. Ali Khomsan dalam keterangan tertulis, baru-baru ini.
Baca Juga: Prediksi Skor Swedia vs Polandia di UEFA Nations League: Blagult Pesta Gol di Strawberry Arena
Proses Pengolahan untuk Menjaga dan Meningkatkan Gizi
Menanggapi persepsi masyarakat mengenai pengolahan pangan, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University, Prof. Purwiyatno Hariyadi, menegaskan tidak ada dasar ilmiah yang menyimpulkan bahwa makin banyak tahapan proses pengolahan membuat kualitas makanan makin buruk.
Sebaliknya, berbagai teknik pengolahan seperti pemanasan, sterilisasi UHT, pendinginan, hingga fermentasi dilakukan untuk menjaga keamanan bahan makanan, memperpanjang masa simpan, serta meningkatkan daya cerna nutrisi oleh tubuh.
Bahkan melalui teknologi pangan, produsen dapat melakukan intervensi penting berupa fortifikasi, yaitu penambahan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral ke dalam produk pangan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Selain itu, pengolahan terukur juga memungkinkan reformulasi produk untuk mengurangi komponen berisiko seperti kadar gula, garam, atau lemak jenuh.
"Pengolahan pangan memungkinkan penambahan zat gizi mikro tertentu (fortifikasi) untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral masyarakat. Yang kita perlukan bukan label yang semakin sederhana, tetapi informasi yang semakin spesifik dan terukur," jelas Prof. Purwiyatno.
Solusi Nutrisi Bagi Kelompok Kebutuhan Khusus
Proses pengolahan yang ketat dan terukur sangat dibutuhkan untuk menciptakan produk dengan formula gizi khusus.
Sebagai contoh, bayi dan anak usia dini, ibu hamil, hingga individu dengan kondisi medis tertentu membutuhkan produk makanan yang tekstur, tingkat higienitas, serta kandungan gizinya dikontrol secara presisi.
Produk susu fortifikasi, yoghurt fermentasi, maupun formula gizi khusus sering kali melewati beberapa tahapan proses pengolahan demi memastikan kecukupan nutrisinya aman dan sesuai standar kesehatan.
Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk tidak menolak semua produk olahan secara mentah-mentah. Konsumen disarankan untuk lebih cermat membaca informasi nilai gizi pada kemasan serta menerapkan prinsip Cek KLIK dari BPOM (Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kadaluarsa) dalam memilih produk pangan harian yang aman dan bernutrisi.