JawaPos.com – Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terhirup bisa menyebabkan peradangan apabila terhirup hingga ke saluran napas kecil.
Diungkapkan dr. Sondang Ruth Angelia Sirait, M.Ked.(Paru), Sp.P, Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Gading Serpong, secara umum, semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh partikel dapat masuk ke saluran pernapasan. Termasuk debu abu vulkanik.
Perlu diketahui, abu vulkanik terdiri dari campuran partikel dengan ukuran dan komposisi yang beragam. Sebagian fraksi abu yang tersuspensi di udara dapat berada dalam rentang particulate matter (PM).
Baca Juga: Tak Hanya Berwibawa, 9 Weton Ini Konon Punya Jalan Rezeki yang Lebar
PM10 adalah partikel dengan diameter aerodinamik 10 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Sementara itu, PM2.5 memiliki diameter aerodinamik 2,5 mikrometer atau lebih kecil dan dapat menembus lebih dalam hingga ke saluran napas kecil di paru.
“Sebagian partikel yang sangat halus dapat mencapai saluran napas kecil yang disebut alveolus yang akan menyebabkan peradangan dan stres oksidatif,” jelas dr. Sondang dalam keterangannya baru-baru ini.
Ukuran Partikel Bukan Faktor Tunggal Pengganggu Kesehatan
Dampak abu vulkanik memang bisa berdampak buruk pada kesehatan. Tapi bukan hanya ukuran partikel yang masuk ke saluran napas, yang bisa menyebabkan perburukan kesehatan seseorang. Tetapi juga konsentrasi Abu vulkanik di udara, lama paparan, komposisi mineral dan kimia abu, serta kondisi kesehatan individu juga memengaruhi.
Dipaparkan dr. Sondang, paparan abu vulkanik dalam jangka pendek dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, rasa tidak nyaman di dada, mengi, hingga sesak napas. Selain pada saluran napas dapat menyebabkan gangguan pada mata dan kulit.
Pada penderita asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), atau penyakit paru kronik lainnya, paparan abu dapat memicu atau memperberat gejala.
“Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit paru atau kardiovaskular perlu lebih berhati-hati karena dapat lebih rentan terhadap dampak paparan partikel di udara,” sambungnya.
Paparan abu juga dapat menyebabkan tenggorokan terasa kering atau teriritasi. Minum air putih yang cukup dapat membantu menjaga hidrasi dan mengurangi rasa tidak nyaman pada tenggorokan, meskipun tidak menggantikan upaya utama untuk menghindari paparan abu.
Pemeriksaan Medis
Dokter Sondang menyarankan pemeriksaan medis apabila setelah terpapar abu vulkanik muncul batuk atau sesak napas yang menetap atau semakin berat. Tentunya kondisi ini dibarengi mengi, rasa berat atau tidak nyaman di dada, penurunan toleransi aktivitas, atau penyakit paru yang sebelumnya terkontrol menjadi lebih sering kambuh.
Sebagian keluhan akibat paparan abu dapat bersifat sementara dan membaik setelah paparan dihentikan.
“Namun, apabila keluhan menetap, semakin berat, atau terjadi pada seseorang yang memiliki penyakit paru sebelumnya, pemeriksaan diperlukan untuk menentukan apakah terdapat gangguan saluran napas atau fungsi paru yang membutuhkan penanganan lebih lanjut,” ujar dr. Sondang.
Umumnya, evaluasi dilakukan berdasarkan gejala dan indikasi klinis pasien serta dapat didukung oleh pemeriksaan seperti spirometri, rontgen dada, CT Scan thorax, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang lainnya sesuai kebutuhan.
Dokter Sondang pun untuk keadaan darurat. Segera cari pertolongan medis apabila terjadi sesak napas berat, kesulitan berbicara karena sesak, nyeri dada berat, bibir atau ujung jari tampak kebiruan, kebingungan, atau penurunan kesadaran.
“Paparan abu vulkanik mengingatkan kita bahwa kondisi lingkungan dapat berdampak langsung terhadap kesehatan paru. Bethsaida Hospital Gading Serpong berkomitmen menghadirkan layanan paru terintegrasi, mulai dari konsultasi dan pemeriksaan diagnostik hingga penanganan sesuai kondisi pasien. Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan keluhan pernapasan yang menetap atau memburuk dan segera melakukan pemeriksaan bila diperlukan,” tutup dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong.