← Beranda
Keracunan Makanan Bisa Picu Gangguan Otak, Ini Penjelasan Dokter
Tazkia Royyan HikmatiarKamis, 10 September 2026 | 04.28 WIB
Ilustrasi keracunan makanan. (Gemini AI)

JawaPos.com - Keracunan makanan dan minuman yang terkontaminasi kuman maupun toksin tertentu dapat memicu gangguan pada otak.

Dokter spesialis saraf Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K) menjelaskan, salah satu contohnya adalah makanan yang menjadi media penularan kuman tifoid.

Bahkan, jenis toksin tertentu diketahui dapat secara langsung mengganggu fungsi memori di otak.

“Makanan yang dapat menularkan kuman tifoid (Salmonella Typhi), atau kuman lainnya prinsipnya bukan jenis makanannya semata, tetapi makanan/minuman yang terkontaminasi kotoran atau tangan orang yang membawa bakteri,” ujar Prof. Yuda saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (9/9).

Baca Juga: 289 Siswa di Berastagi Sumut Keracunan Massal Usai Santap MBG

Menurut Prof. Yuda, terdapat sejumlah makanan dan minuman yang lebih berisiko menjadi media penularan apabila pengolahan, penyajian, atau sanitasinya tidak terjaga.

Salah satunya adalah air minum atau es batu yang berasal dari sumber tidak higienis. Air yang tercemar dapat menjadi media masuknya bakteri ke dalam tubuh.

Risiko juga terdapat pada makanan siap santap yang disentuh oleh orang yang sedang terinfeksi atau berstatus carrier bakteri, tanpa mencuci tangan dengan baik.

Sayur Mentah hingga Sambal Bisa Berisiko

Sayuran dan buah yang dikonsumsi mentah, lanjut Prof. Yuda, juga perlu diperhatikan apabila dicuci menggunakan air yang telah tercemar.

Hal serupa berlaku pada berbagai makanan lain yang tidak melalui proses pemasakan.

Baca Juga: BGN Suspend Dapur dan Copot Kepala SPPG Imbas Keracunan di Berastagi

Prof. Yuda menyebut sambal, lalapan, salad, atau makanan lain yang tidak dimasak lalu dibiarkan pada suhu ruang sebagai kelompok yang perlu diwaspadai, jika kebersihan dan penyimpanannya tidak terjaga.

“Yang paling berisiko: air minum atau es dari sumber yang tidak higienis, makanan siap santap yang disentuh oleh orang yang terinfeksi atau carrier tanpa mencuci tangan dengan baik,” jelasnya.

Selain itu, makanan yang sebenarnya telah dimasak juga tetap dapat terkontaminasi kembali setelah proses pemasakan.

Kontaminasi ulang bisa terjadi ketika makanan ditangani atau disajikan dengan cara yang tidak higienis.

“Makanan yang dimasak tetapi kemudian terkontaminasi kembali saat penyajian,” lanjut Prof. Yuda.

Baca Juga: Siswa SMAN 1 Berastagi Trauma Makan MBG Imbas Keracunan

Karena itu, kondisi sanitasi tempat pengolahan makanan dan kebersihan tangan orang yang menangani makanan menjadi faktor penting dalam mencegah penularan kuman.

Ada Keracunan yang Langsung Ganggu Pusat Memori

Selain infeksi akibat kuman yang terbawa makanan, Prof. Yuda mengungkapkan terdapat jenis food poisoning tertentu yang memang dikenal dapat menyebabkan gangguan memori secara langsung.

“Ada jenis food poisoning tertentu yang memang secara langsung terkenal menyebabkan gangguan memori, yaitu keracunan domoic acid dari kerang/mussels yang terkontaminasi,” ungkap Prof. Yuda.

Toksin tersebut diketahui dapat memberikan dampak terhadap bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan dan penyimpanan memori.

Ia menjelaskan, pernah terjadi wabah di Kanada yang mengakibatkan korban mengalami memory impairment atau gangguan kemampuan mengingat, setelah mengonsumsi kerang yang terkontaminasi domoic acid.

Baca Juga: Kepala SMAN 1 Berastagi Hentikan Sementara Kegiatan Belajar Imbas Siswa Keracunan MBG

“Toksin ini bersifat excitotoxic terhadap hipokampus, pusat memori di otak,” jelasnya.

Hipokampus merupakan salah satu bagian penting otak yang berperan dalam proses pembentukan memori.

Ketika bagian tersebut mengalami gangguan akibat toksin, kemampuan seseorang untuk mengingat dapat ikut terdampak.

Namun, Prof. Yuda menegaskan bahwa pada kasus gangguan ingatan setelah keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Berastagi, penyebabnya tetap perlu ditelusuri secara medis.

Tidak semua gangguan memori setelah keracunan disebabkan oleh toksin yang secara langsung menyerang pusat memori.

Baca Juga: Ingatan Korban Keracunan MBG Berastagi Diduga Turun 70 Persen, Kini Alami Kejang

Gangguan tersebut juga dapat berkaitan dengan kondisi berat yang menyertai keracunan.

Mulai dari dehidrasi, gangguan elektrolit, tekanan darah rendah, kadar gula darah rendah, demam tinggi, hingga gangguan fungsi organ.

Karena itu, pemeriksaan terhadap pasien diperlukan untuk mengetahui apakah gangguan otak berkaitan dengan toksin, infeksi kuman tertentu, atau komplikasi metabolik akibat keracunan.

 

EDITOR: Bayu Putra