← Beranda
Nyeri Lutut Saat Naik Tangga Jangan Dianggap Wajar, Bisa Jadi Tanda Gangguan Sendi Serius 
Rian AlfiantoSelasa, 8 September 2026 | 18.52 WIB
Ilustrasi nyeri lutut. (Kansas City Orthopedic Alliance)

JawaPos.com - Nyeri lutut saat naik tangga bukan selalu tanda seseorang mulai menua. Keluhan tersebut bisa berkaitan dengan osteoartritis, cedera meniskus atau ligamen, peradangan, hingga masalah pada otot dan struktur sendi lainnya. 

Keluhan lutut sering kali muncul secara perlahan. Mula-mula hanya terasa ketika menaiki tangga, berdiri dari kursi, berjalan jauh, atau setelah melakukan aktivitas tertentu. Karena masih bisa ditahan, keluhan tersebut kerap dianggap sepele.

Padahal, perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari dapat menjadi petunjuk penting.

Baca Juga: Selalu Cari Jalan Keluar, 5 Shio Ini Disebut Punya Mental Pemenang

Misalnya, seseorang yang sebelumnya terbiasa menggunakan tangga kemudian mulai memilih lift, lebih jarang berjalan jauh, atau menghindari aktivitas tertentu karena takut lutut terasa sakit. Kondisi inilah yang perlu diperhatikan, bukan hanya seberapa tinggi skala nyerinya.

“Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sakit lutut terasa, tetapi apakah keluhan tersebut sudah mulai mengubah cara seseorang bergerak. Kalau sebelumnya bisa naik tangga atau berjalan jauh lalu perlahan mulai menghindarinya, itu sudah menjadi informasi penting bagi dokter untuk mencari tahu penyebabnya,” ujar Prof. Nicolaas C. Budhiparama, MD, PhD (LUMC,NL), PhD (UGM,ID), Sp.OT(K), FICS, dokter spesialis ortopedi konsultan yang berfokus pada penanganan masalah panggul dan lutut di RS Medistra sekaligus President of Asia Pacific Orthopaedic Association (APOA) 2025-2026.

Nyeri lutut tidak selalu berarti pengapuran

Osteoartritis atau pengapuran sendi memang menjadi salah satu penyebab nyeri lutut, terutama pada kelompok usia tertentu. Namun, keluhan tersebut tidak bisa langsung disimpulkan sebagai osteoartritis hanya karena seseorang mengalami nyeri saat bergerak.

Studi yang dipublikasikan pada 2025 terhadap 3.597 orang dewasa di 15 kota di Indonesia menemukan osteoartritis lutut pada sekitar 15 persen peserta. Artinya, masih ada berbagai kemungkinan lain ketika lutut terasa sakit.

Cedera ligamen atau meniskus, peradangan, gangguan otot, serta masalah lain pada struktur lutut juga dapat menimbulkan gejala yang serupa. Karena itu, usia bukan satu-satunya faktor yang menentukan penyebab nyeri.

Pola keluhan menjadi informasi penting bagi dokter. Kapan nyeri muncul, aktivitas apa yang memicunya, apakah sebelumnya pernah mengalami cedera, hingga sejauh mana rasa sakit mengganggu aktivitas sehari-hari perlu diperhatikan.

Pemeriksaan masalah lutut umumnya dimulai dengan memahami riwayat keluhan dan melakukan pemeriksaan fisik. Dokter akan menilai pergerakan serta kestabilan sendi untuk mengetahui bagian mana yang kemungkinan mengalami gangguan.

Jika diperlukan, pemeriksaan dapat dilanjutkan menggunakan rontgen atau MRI.

Namun, hasil pencitraan tidak selalu menggambarkan kondisi pasien secara utuh. Perubahan yang terlihat pada gambar belum tentu sejalan dengan tingkat nyeri yang dirasakan atau seberapa besar aktivitas seseorang telah terganggu.

Karena itu, hasil rontgen maupun MRI perlu dibaca bersama kondisi klinis pasien.

Pendekatan tersebut penting agar penanganan tidak hanya berfokus pada gambar hasil pemeriksaan, tetapi pada masalah yang benar-benar dialami pasien.

Nyeri lutut tidak otomatis harus dioperasi

Kesalahpahaman lain yang sering muncul adalah anggapan bahwa kerusakan sendi pasti berujung pada operasi. Padahal, banyak masalah lutut dapat terlebih dahulu ditangani tanpa pembedahan.

Penanganannya dapat berupa penyesuaian aktivitas, latihan penguatan otot, fisioterapi, pengelolaan berat badan, maupun obat sesuai kebutuhan.

Tujuan utamanya adalah mengurangi keluhan sekaligus mempertahankan kemampuan lutut untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Operasi penggantian sendi lutut atau total knee replacement umumnya baru dipertimbangkan ketika gangguan sendi sudah berat dan berdampak nyata terhadap fungsi.

Beberapa kondisi yang dapat menjadi pertimbangan antara lain nyeri yang muncul setiap hari, kekakuan sendi yang signifikan, lutut terasa tidak stabil saat berjalan, perubahan bentuk kaki menjadi O atau X, hingga rasa sakit yang sudah membatasi aktivitas sehari-hari.

Dengan demikian, usia maupun hasil rontgen saja tidak menjadi penentu tunggal keputusan operasi.

Masyarakat sebaiknya tidak menunggu sampai aktivitas sehari-hari benar-benar terganggu untuk mencari pertolongan.

Pemeriksaan layak dipertimbangkan ketika nyeri lutut terus berulang atau semakin sering muncul. Begitu pula jika disertai pembengkakan, rasa tidak stabil, sendi seperti terkunci, atau keluhan mulai menghambat pekerjaan dan aktivitas rutin.

Menurut Prof. Nicolaas, keputusan mengenai tindakan juga perlu didasarkan pada kondisi masing-masing pasien. Jika operasi mulai menjadi pilihan, pasien perlu memahami alasan tindakan tersebut dianjurkan, alternatif yang masih tersedia, risiko, hasil yang diharapkan, serta proses pemulihan.

Teknologi dapat membantu operasi lebih presisi

Pada pasien yang memang membutuhkan total knee replacement, permukaan sendi yang rusak dipersiapkan untuk dipasangi komponen pengganti. Penempatan komponen perlu mempertimbangkan bentuk tulang, posisi sendi, serta keseimbangan jaringan di sekitar lutut.

Teknologi robotik dapat membantu dokter dalam tahap perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Perencanaan dapat dilakukan secara virtual sebelum pemotongan tulang, termasuk menentukan posisi implan dan menilai keseimbangan ligamen.

Saat operasi berlangsung, dokter juga dapat melakukan verifikasi untuk memastikan hasil pemotongan tulang sesuai dengan rencana.

“Operasi penggantian sendi lutut membutuhkan presisi yang tinggi, tetapi teknologi saja tidak cukup. Dalam penggunaan robotik, kami dapat melakukan perencanaan secara virtual, melihat keseimbangan ligamen, hingga memverifikasi hasil pemotongan ketika operasi berlangsung,” jelas Prof. Nicolaas melalui keterangannya.

Meski demikian, apa pun pilihan penanganannya, pemulihan dan rehabilitasi tetap menjadi bagian penting. Pada pasien yang menjalani operasi penggantian lutut, latihan berdiri dan berjalan umumnya sudah mulai dilakukan secara bertahap sekitar lima jam setelah operasi.

Dalam beberapa hari berikutnya, alat bantu seperti tongkat atau crutches biasanya masih digunakan selama sekitar tiga hingga lima hari, bergantung pada kondisi pasien.

Fisioterapi kemudian dilanjutkan untuk membantu mengembalikan kekuatan, rentang gerak, dan fungsi lutut. Target rehabilitasi disesuaikan dengan kemampuan serta perkembangan masing-masing pasien.

“Perkembangan teknologi ortopedi memberikan lebih banyak informasi kepada dokter ketika merencanakan dan menjalankan tindakan. Namun, yang tetap menjadi dasar adalah keputusan klinis yang tepat, pengalaman dokter, komunikasi yang baik dengan pasien, serta proses rehabilitasi yang konsisten. Teknologi harus mendukung keseluruhan proses tersebut,” ujar Dr. Adhitya Wardhana, MARS, Hospital Director RS Medistra.

Pada akhirnya, nyeri lutut saat naik tangga tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai konsekuensi normal dari bertambahnya usia. Yang lebih penting adalah melihat apakah keluhan tersebut mulai mengubah cara bergerak dan membatasi aktivitas.

Jika hal itu mulai terjadi, pemeriksaan dapat membantu menemukan penyebabnya sekaligus menentukan pilihan penanganan yang sesuai sebelum gangguan fungsi lutut semakin berat.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah