← Beranda
In this Economy, Ahli Gizi Beberkan Tips Makan Padat Gizi dengan Budget Minim
Tazkia Royyan HikmatiarJumat, 28 Agustus 2026 | 04.54 WIB
Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani, S.Gz., M.Sc. (Istimewa)

 

JawaPos.com – In this economy, memenuhi kebutuhan gizi keluarga tidak selalu membutuhkan biaya besar. Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani, S.Gz., M.Sc., mengatakan masyarakat dapat tetap menyusun menu bergizi dengan memanfaatkan bahan pangan lokal dan sumber protein yang lebih ekonomis.

Tara mengingatkan, makanan sehat tidak harus identik dengan bahan pangan mahal seperti ikan salmon. Menurutnya, yang terpenting adalah memastikan makanan yang dikonsumsi beragam dan mengandung zat gizi yang dibutuhkan tubuh.

“Makanan sehat itu tidak harus mahal. Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan tertentu misalnya ikan salmon,” ungkap Tara, Kamis (27/8).

Ia mengatakan, rata-rata penduduk Indonesia sebenarnya sudah mencukupi kebutuhan kalori harian.

“Namun, masih didominasi oleh karbohidrat,” ucapnya.

Menurut Tara, konsumsi karbohidrat bukan sesuatu yang keliru karena memang menempati sekitar 50–60 persen dari asupan pangan harian. Hanya saja, sumber karbohidrat perlu dibuat lebih beragam.

Masyarakat dapat memanfaatkan berbagai pangan lokal, termasuk umbi-umbian. Salah satunya kimpul yang belakangan mulai banyak dikonsumsi. Pilihan juga dapat diperluas dengan mengonsumsi beras dengan beragam warna dan jenis, bukan hanya nasi putih.

Untuk memenuhi kebutuhan protein, Tara menyarankan masyarakat tidak hanya mengandalkan daging. Tempe dan tahu dapat menjadi sumber protein nabati yang relatif ekonomis. Namun, protein hewani tetap penting karena lebih mudah dicerna dan diserap tubuh.

“Kita punya sumber protein nabati yang sangat baik yaitu tempe dan tahu, yang memang lebih ekonomis. Tapi jangan lupakan protein hewani yang sebenarnya lebih mudah dicerna dan diserap,” kata Tara.

Kebutuhan protein hewani juga menjadi perhatian khusus untuk anak-anak. Protein hewani mengandung asam lemak esensial yang lengkap dan dibutuhkan untuk menunjang tumbuh kembang.

Di sisi lain, Tara menyoroti masih rendahnya pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang memenuhi standar Minimum Acceptable Diet. Berdasarkan data yang disampaikannya, hanya 43 persen balita usia 6–23 bulan di Indonesia yang mendapatkan MPASI bergizi dan beragam, terutama yang mengandung telur dan daging.

Di tengah keterbatasan anggaran, ikan dan telur dapat menjadi alternatif sumber protein hewani yang lebih ekonomis dibandingkan daging.

“Apalagi, Indonesia negara kepulauan; keanekaragaman ikan sangat tinggi. Ikan juga mengandung lemak tak jenuh yang sehat,” jelasnya.

Susu juga dapat menjadi pelengkap asupan gizi karena mengandung beragam zat gizi dalam setiap porsinya. Tara menjelaskan, susu memiliki skor DIAAS tinggi pada protein hewani. DIAAS atau Digestible Indispensable Amino Acid Score merupakan metode untuk mengukur kualitas protein berdasarkan kemampuan tubuh mencerna dan menyerap asam amino esensial.

Semakin tinggi skor DIAAS, semakin baik kualitas protein tersebut untuk diserap tubuh. Tara menyebut susu sapi memiliki nilai DIAAS di atas 100 persen.

Dalam menyusun menu keluarga, Tara menyarankan masyarakat tetap berpedoman pada konsep Tumpeng Gizi dan Isi Piringku. Komposisi makanan perlu mencakup karbohidrat, sayuran, protein, serta buah dengan proporsi yang seimbang.

Namun, ia memahami kondisi ekonomi dapat membuat masyarakat harus lebih cermat menentukan pilihan makanan. Karena itu, menurut Tara, setiap pembelian lauk sebaiknya mempertimbangkan kandungan gizinya, bukan hanya kemampuan makanan tersebut membuat kenyang.

“Kita harus pintar mengatur strategi makanan yang padat gizi. Saat membeli lauk misalnya, perhitungkan apa saja kandungan gizinya? Jangan asal kenyang tapi minim gizi,” tandasnya.

Sementara itu, Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia Andrew F. Saputro mengatakan kondisi ekonomi saat ini membuat masyarakat perlu kembali mengevaluasi prioritas pengeluaran, termasuk untuk memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga.

“Kami melihat masyarakat Indonesia saat ini berada dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk terus mengecek ulang prioritas dalam pengeluaran. Karena itu, menurut kami, pengetahuan mengenai nutrisi menjadi semakin penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya,” ujarnya.

Melalui kampanye nasional “Temani Langkahmu Kini dan Nanti”, Frisian Flag Indonesia menyatakan berkomitmen mendampingi keluarga Indonesia dalam memenuhi kebutuhan nutrisi di berbagai tahap kehidupan.

Andrew mengatakan pihaknya berupaya mendukung kesehatan keluarga melalui asupan susu yang kaya gizi sebagai bagian dari fondasi kesehatan sehari-hari.

Selain menyediakan produk bernutrisi, Frisian Flag Indonesia juga menggelar edukasi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konsumsi susu sejak dini serta membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat.

“Kami tidak hanya ingin menghadirkan produk yang bernutrisi, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki pengetahuan yang baik untuk mengoptimalkan manfaatnya,” pungkas Andrew.

EDITOR: Estu Suryowati