Indonesia sendiri masih menempati peringkat kelima dunia dengan lebih dari 20 juta penyandang diabetes berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF). Namun sayangnya, berdasarkan survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, kepatuhan menjalani pengobatan dan pemeriksaan ulang masih rendah, terutama pada kelompok usia produktif.
Dengan kata lain, tantangan bukan hanya soal menekan angka diabetes tapi juga setelah seseorang diketahui menderita diabetes. Diungkapkan Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dr. Ida Ayu Made Kshanti, Sp.PD-KEMD, keberhasilan pengelolaan diabetes tak hanya ditentukan oleh obat. Tapi kesadaran pasien itu sendiri untuk menjalani tata laksana medis secara konsisten.
Baca Juga: Punya Bakat Jadi Pengusaha! Ini 6 Shio yang Berpotensi Hidup Makmur
Agar penyandang diabetes bisa sadar dan paham, edukasi berkelanjutan dengan pendampingan tentu diperlukan. Baginya, ini penting guna mencegah pasien tidak patuh minum obat yang berujung pada komplikasi. Bisa dengan pendekatan End-to-End Diabetes Ecosystem Support.
Pendekatan ini menitikberatkan pada pengelolaan diabetes yang berkesinambungan. Mulai dari dari edukasi, deteksi dini, terapi, pemantauan, hingga perubahan gaya hidup. Seluruh tahapan tersebut perlu saling terhubung agar pasien tidak terputus dari layanan kesehatan.
“Penyandang diabetes tidak menjalani perjalanan penyakitnya sendiri, tetapi didampingi untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik,” ujar dr. Ida dalam Media Discussion bertajuk End-to-End Diabetes Ecosystem Support: Dari Pencegahan hingga Manajemen Jangka Panjang di Jakarta baru-baru ini.
Dalam kesempatan yang sama, Pharma Director PT Kalbe Farma Tbk, dr. Selvinna, M.Biomed mengungkapkan, diabetes bukan penyakit yang dapat dikelola dengan terapi sesaat. Penyandang diabetes membutuhkan pendampingan bukan hanya saat minum obat. Tapi sejak memahami faktor risiko, menjalani deteksi dini, memulai terapi, hingga mengelola penyakit dalam jangka panjang.
“Melalui pendekatan End-to-End Diabetes Ecosystem Support, Kalbe berupaya menghadirkan ekosistem yang menghubungkan setiap tahapan tersebut agar pasien memperoleh dukungan yang berkesinambungan,” ujar Pharma Director PT Kalbe Farma Tbk, dr. Selvinna, M.Biomed.
Komplikasi Muncul Ketika Terapi tidak Konsisten
Diungkapkan Ketua Cabang PERSADIA Jakarta Barat, dr. Marshell Tendean, Sp.PD, Subsp. E.M.D., FINASIM, tidak sedikit pasien yang memang sulit mempertahankan kepatuhan terapi. Bahkan keadaan ini makin sulit ketika perubahan gaya hidup dalam jangka panjang tidak dilakukan.
Dalam praktik sehari-hari, ia melihat banyak pasien datang ketika komplikasi sudah mulai muncul. Kondisi tersebut sering terjadi karena diabetes terlambat terdeteksi atau terapi tidak dijalankan secara konsisten.
“Padahal, kepatuhan terhadap tata laksana medis merupakan kunci untuk mengendalikan kadar gula darah dan mencegah komplikasi. Pendekatan End-to-End Diabetes Ecosystem Support membantu memastikan pasien memperoleh pendampingan sejak deteksi dini hingga pengelolaan jangka panjang,” jelas dr. Marshell.
Pengakuan Penyandang Diabetes
Tantangan ketika divonis memiliki diabetes diakui Epie Suryono. Sebagai penyandang diabetes, disiplin untuk terus meminum obat sesuai dengan tata laksana medis itu tidak mudah.
Untuk itu, diperlukan dukungan keluarga, komunitas, dan tenaga kesehatan membantunya tetap termotivasi menjalani terapi. Terutama dukungan dengan informasi yang bisa dipercaya. Karena memperoleh informasi yang benar sangat penting untuk pengambilan keputusan kesehatan yang tepat.
“Sebagai penyandang diabetes, saya belajar bahwa menjalani terapi merupakan komitmen seumur hidup. Oleh karena itu, saya berharap semakin banyak penyandang diabetes memperoleh pendampingan yang menyeluruh pada setiap tahap perjalanan penyakitnya. Tidak ada penyandang diabetes yang seharusnya menghadapi perjalanan ini sendirian," tutup Epie Suryono.