← Beranda
Cegah Retinopati Diabetik, Kemenkes Siapkan CKG Diabetes Terintegrasi dengan Skrining Retina
Tazkia Royyan HikmatiarSelasa, 21 Juli 2026 | 00.21 WIB
Ilustrasi mata manusia. (freepik)

JawaPos.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menyiapkan integrasi layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi penyandang diabetes dengan skrining retina di Puskesmas sebagai upaya mencegah retinopati diabetik yang berpotensi menyebabkan kebutaan. Langkah tersebut menjadi bagian dari kolaborasi strategis Kemenkes, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Roche Indonesia melalui Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives (DRIVE).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, pemerintah tidak hanya berfokus pada pengendalian diabetes, tetapi juga pencegahan berbagai komplikasi yang ditimbulkannya, termasuk retinopati diabetik.

"Pemerintah berkomitmen tidak hanya mengendalikan diabetes, tetapi juga mencegah komplikasi turunannya secara menyeluruh. Melalui program CKG, masyarakat sudah bisa memeriksakan gula darah secara berkala. Dan kami sedang mengintegrasikan layanan agar pasien diabetes melitus (DM) juga bisa melakukan skrining retina di Puskesmas demi memperluas akses deteksi dini," ujar Nadia kepada wartawan, Senin (20/7).

Baca Juga: Ramalan Zodiak Gemini Besok Selasa, 21 Juli 2026: Saatnya Menentukan Prioritas, Fokus Anda Akan Membuka Banyak Kesempatan

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat memanfaatkan layanan CKG dan rutin memeriksakan kesehatan agar penyakit dapat dideteksi lebih dini.

"Kami masyarakat Indonesia memanfaatkan program layanan CKG, dan bersama-sama mendorong masyarakat Indonesia agar lebih peduli untuk memeriksakan kesehatannya sejak dini," katanya.

Pentingnya Kontrol Gula Darah

Ketua Umum Pengurus Pusat PERKENI Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD., Subsp.E.M.D.(K) menambahkan, tingginya jumlah penyandang diabetes yang belum terdiagnosis menjadi tantangan besar dalam pencegahan komplikasi.

"Gula darah yang tidak terkendali dengan baik akan membuat kerusakan terus berjalan," tegasnya.

Menurut Prof. Yunir, diabetes juga sering disertai penyakit lain yang memperburuk kerusakan pembuluh darah.

"Sayangnya, diabetes ini tidak datang sendiri, ia membawa 'teman-temannya' seperti kolesterol, obesitas, dan hipertensi yang memperparah kerusakan pembuluh darah—mulai dari memicu retinopati diabetik pada mata, hingga menyumbang 20 hingga 30 persen kasus pasien cuci darah," katanya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pengendalian gula darah dan deteksi dini.

"Kita harus mendobrak stigma sosial yang membuat orang takut periksa karena khawatir penyakitnya ketahuan. Pemeriksaan lebih awal justru penting demi menjaga kualitas hidup pasien dan menunjukkan rasa sayang kita pada keluarga melalui peningkatan awareness serta support system yang kuat," tambahnya.

Retinopati Diabetik Masih Sering Dianggap Wajar

Sementara itu, Dokter Mata Konsultan Vitreoretina UGM Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, Ph.D., M.Epid., Sp.M(K) mengatakan, retinopati diabetik masih kurang mendapat perhatian meski merupakan komplikasi diabetes yang paling sering ditemukan.

"Meskipun merupakan komplikasi yang paling sering dijumpai, retinopati diabetik ironisnya menjadi isu kesehatan yang paling jarang dibahas. Akibatnya, muncul normalisasi yang kurang pas di tengah masyarakat bahwa gangguan fungsi penglihatan di usia tua akibat diabetes dianggap sebagai sesuatu yang wajar, padahal kebutaan ini sebenarnya sangat bisa dicegah," paparnya.

Padahal, ia menjelaskan bahwa kehilangan penglihatan berdampak besar terhadap kehidupan pasien dan keluarganya.

"Kita harus ingat bahwa 85 persen informasi harian kita ditangkap secara visual, sehingga hilangnya kemampuan melihat tidak hanya menurunkan kualitas hidup penderita secara drastis, tetapi juga menjadi beban psikologis dan fisik bagi keluarga yang merawatnya," katanya.

Menurut dr. Bayu, retinopati diabetik berkembang secara perlahan sehingga sering tidak disadari pasien.

"Kerusakan pembuluh darah di belakang bola mata ini terjadi secara bertahap dan membuat sebagian besar pasien sama sekali tidak menyadari ancamannya dalam lima tahun pertama diabetes. Kami mengajak untuk bersama-sama mendobrak normalisasi ini dan terus menyuarakan pentingnya deteksi dini, agar masyarakat tidak lagi takut atau menunda skrining mata untuk mempertahankan aset penglihatan mereka," tuturnya.

Sebagai bagian dari kolaborasi tersebut, Roche Indonesia mendukung pengembangan proyek percontohan tele-ophthalmology, termasuk penyediaan pendanaan riset serta penguatan sistem skrining dan rujukan untuk memperluas deteksi dini retinopati diabetik.

Direktur Akses, Komunikasi, dan Penguatan Sistem Kesehatan Roche Indonesia Lucia Erniawati mengatakan perusahaan ingin memastikan inovasi dapat diakses oleh pasien yang membutuhkan.

"Di Roche Indonesia, kami berkomitmen melawan penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah seperti retinopati diabetik. Kontribusi kami lebih jauh dari sekadar menyediakan obat-obatan yang canggih. Kami bekerja erat dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk para nakes dan pemerintah, untuk memperkuat alur skrining dan rujukan yang krusial bagi deteksi dini penyakit mata akibat diabetes," pungkasnya.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah