← Beranda
Menkes Budi Sadikin Dorong Industri Plasma Farmasi Nasional Tumbuh
Tazkia Royyan HikmatiarSelasa, 14 Juli 2026 | 01.00 WIB
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan paparan saat mengikuti rapat kerja bersama Komisi

 

JawaPos.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendukung pembangunan industri plasma farmasi nasional sebagai langkah memperkuat ekosistem kesehatan di Indonesia. Menurutnya, kolaborasi pemerintah dengan perusahaan biofarmasi diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap terapi berbasis plasma sekaligus memperkuat ketahanan kesehatan nasional.

Budi mengatakan, pembangunan industri plasma nasional merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam membangun industri strategis di sektor kesehatan. Melalui kerja sama tersebut, Indonesia juga berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor produk obat derivat plasma (PODP).

"Inisiatif ini mencerminkan komitmen Pemerintah Indonesia untuk membangun industri strategis di sektor kesehatan dan memastikan masyarakat memiliki akses yang lebih baik terhadap pengobatan penting dan inovatif," ujar Budi dalam keterangannya, Senin (13/7).

Ia menambahkan, kemitraan dengan Takeda sebagai investor industri ini diharapkan mampu memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan pada masa mendatang.

"Melalui kemitraan dengan Takeda, kami berharap dapat memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan," katanya.

Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, Kementerian Kesehatan menetapkan Takeda sebagai industri farmasi yang dapat menyelenggarakan fraksionasi plasma. Penetapan itu memungkinkan perusahaan mengembangkan kegiatan pengumpulan plasma dan fraksionasi secara bertahap sebagai fondasi pembangunan industri plasma nasional.

Pada tahap awal, Takeda akan menginvestasikan hingga US$ 30 juta atau sekitar Rp 539 miliar dalam kurun dua tahun untuk membangun sejumlah bank plasma di Indonesia. Fasilitas tersebut akan menjadi dasar evaluasi sebelum dikembangkan menjadi jaringan bank plasma nasional.

Seluruh bank plasma akan mengadopsi standar mutu internasional dengan memanfaatkan pengalaman global Takeda dalam pengelolaan donor plasma. Program tersebut juga diharapkan membuka lapangan kerja bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium sekaligus mendorong transfer pengetahuan.

Presiden Plasma-Derived Therapies Takeda, Ramy Riad, mengatakan investasi itu merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk memperluas akses masyarakat terhadap PODP sekaligus mendukung pembangunan ekosistem plasma nasional.

Selain membangun jaringan bank plasma, Takeda juga akan mengkaji kelayakan pembangunan fasilitas manufaktur PODP berteknologi tinggi di Indonesia. Jika terealisasi, fasilitas tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga berpotensi memasok pasar internasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok biofarmasi global.

Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menilai investasi tersebut sejalan dengan agenda hilirisasi industri kesehatan nasional. Menurutnya, investasi ini tidak hanya menghadirkan modal baru, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan penciptaan lapangan kerja.

Pemerintah berharap kemitraan tersebut dapat membangun pasokan plasma yang lebih andal di tengah meningkatnya permintaan global terhadap PODP dan masih terbatasnya pasokan di kawasan Asia Tenggara. Takeda menargetkan bank plasma pertama di Indonesia mulai beroperasi pada 2027 sebagai bagian dari jaringan BioLife. Selama fasilitas fraksionasi di Indonesia masih dalam tahap pengkajian, plasma yang dikumpulkan akan diproses melalui jaringan manufaktur global Takeda dengan tetap memprioritaskan kebutuhan pasien di Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.

EDITOR: Estu Suryowati