← Beranda
Vape Bukan untuk Dicoba-coba, Pakar dan Pengguna Ingatkan Produk Ini Hanya untuk Perokok Dewasa
Rian AlfiantoSabtu, 27 Juni 2026 | 20.43 WIB
Ilustrasi pengguna Vape. (istimewa)

 

JawaPos.com - Penggunaan produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik (vape), produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantong nikotin terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik tren tersebut, muncul satu pesan yang terus ditekankan berbagai pihak, yakni produk tersebut bukan untuk anak-anak, remaja, maupun orang yang sebelumnya tidak merokok.

Dari perspektif kesehatan masyarakat, langkah terbaik untuk mengurangi risiko penyakit akibat tembakau tetap berhenti menggunakan seluruh produk tembakau dan nikotin. Sementara itu, produk tembakau alternatif diposisikan sebagai pilihan bagi perokok dewasa yang telah memiliki kebiasaan merokok, bukan sebagai produk untuk memulai konsumsi nikotin.

Influencer sekaligus konsumen produk tembakau alternatif Jessica Rima Rahmayanti atau @jee_vanka menegaskan, persepsi publik mengenai vape perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Baca Juga: Produksi Beras Indonesia Naik, KASAI Soroti Harga yang Belum Turun

"Kalau produk tembakau alternatif dikaitkan khusus dengan anak muda, ini tidak tepat. Yang jelas, saya tidak ada toleransi untuk penggunaan produk tembakau alternatif oleh anak di bawah umur," kata Jessica.

Edukasi Dinilai Penting untuk Mencegah Penyalahgunaan

Jessica mengatakan edukasi mengenai produk tembakau alternatif perlu terus dilakukan agar masyarakat memahami siapa yang menjadi sasaran pengguna produk tersebut. Menurut dia, edukasi bukan bertujuan mengajak orang mulai menggunakan vape, melainkan menjelaskan penggunaan yang bertanggung jawab bagi perokok dewasa.

Dia mengaku secara rutin menyampaikan materi edukasi melalui konten digital, diskusi, hingga kegiatan komunitas dengan konsep Vape with Attitude. Materi yang dibahas meliputi pengenalan produk, tujuan penggunaan, etika, hingga cara penggunaan secara bertanggung jawab.

Baca Juga: Prospek Fisioterapi Cerah, Indonesia Membutuhkan 26.000 Fisioterapis

"Biasanya kami menyebutnya Vape with Attitude. Edukasi seperti ini rutin dilakukan melalui konten, talkshow, maupun kegiatan komunitas. Karena vape merupakan produk inovasi yang relatif baru, edukasi menjadi sangat penting," lanjut Jessica.

Jessica mengungkapkan tidak sedikit orang yang bertanya kepadanya sebelum mencoba produk tembakau alternatif. Dalam kondisi seperti itu, dia selalu mencari tahu apakah orang tersebut merupakan perokok atau bukan.

Apabila yang bertanya ternyata belum pernah merokok, Jessica justru menyarankan agar tidak mencoba produk tersebut. Menurut Jessica, komunikasi mengenai produk tembakau alternatif juga harus dilakukan secara bertanggung jawab agar tidak menarik minat remaja maupun anak di bawah umur.

Karena itu, dia mengaku selalu membatasi sasaran audiens pada kelompok usia dewasa, termasuk dalam berbagai kegiatan edukasi maupun konten yang dipublikasikan.

"Kami berusaha memastikan edukasi mengenai produk tembakau alternatif tetap tepat dan bijak, misalnya dengan mengatur target audiens 21 tahun ke atas dan tidak membuat ajakan yang ditujukan kepada mereka yang bukan konsumen," jelas Jessica.

Disebut Menjadi Pilihan bagi Perokok Dewasa yang Ingin Beralih

Jessica menilai keberadaan produk tembakau alternatif dapat menjadi salah satu opsi bagi perokok dewasa yang ingin meninggalkan kebiasaan merokok konvensional. Dia mengibaratkannya seperti seseorang yang secara bertahap mengurangi konsumsi gula dengan memilih minuman yang memiliki kadar gula lebih rendah.

Baca Juga: Melalui Konten Kreatif, Komdigi Dorong Masyarakat Hapus Stigma Tuberkulosis

Meski demikian, dia menegaskan bahwa pilihan tersebut hanya relevan bagi perokok dewasa yang memang sudah memiliki kebiasaan merokok, bukan sebagai alasan bagi masyarakat untuk mulai menggunakan produk yang mengandung nikotin.

"Pada akhirnya semua kembali kepada pilihan konsumen. Yang terpenting adalah adanya opsi bagi perokok dewasa untuk menentukan pilihan yang lebih rendah risikonya dan paling sesuai bagi mereka," ujar Jessica.

Jessica menambahkan, pengalaman sebagian konsumen yang merasa terbantu setelah beralih dari rokok konvensional memang ada. Namun menurut dia, hal tersebut tidak boleh dimaknai sebagai ajakan bagi masyarakat yang sebelumnya tidak merokok.

Baca Juga: BPOM Pastikan Galon Guna Ulang Berizin BPOM dan SNI Aman

Di sisi lain, dari sudut pandang kesehatan, berbagai organisasi kesehatan menegaskan bahwa pilihan paling baik untuk menurunkan risiko penyakit akibat konsumsi tembakau adalah berhenti menggunakan seluruh produk tembakau dan nikotin.

Karena itu, edukasi mengenai batas usia, sasaran pengguna, serta pencegahan penggunaan pada anak-anak dan remaja dinilai menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak kesehatan masyarakat sekaligus mencegah penyalahgunaan produk yang mengandung nikotin.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah