JawaPos.com – Penyandang vitiligo kerap menghadapi stigma dan pandangan keliru dari masyarakat. Tak sedikit penderita yang justru lebih terbebani oleh mitos dan diskriminasi dibandingkan kondisi penyakitnya sendiri.
Vitiligo adalah penyakit kulit autoimun yang ditandai dengan munculnya bercak putih pada kulit akibat hilangnya pigmen. Sehingga, banyak penyandangnya yang mengalami kulit belang pada tubuh.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi-Imunologi Klinik Dr. dr. Sukamto Koesno, Sp.PD-KAI, FINASIM, menegaskan bahwa berbagai anggapan yang beredar mengenai vitiligo selama ini perlu diluruskan karena dapat memengaruhi kondisi psikologis dan rasa percaya diri pasien.
"Ini bagian yang penting sekali untuk diluruskan karena banyak penyandang vitiligo lebih menderita oleh stigma daripada oleh penyakitnya sendiri," ujar dr. Sukamto kepada JawaPos.com, Sabtu (20/6).
Mitos 1: Vitiligo Menular
Salah satu anggapan yang paling sering ditemui adalah bahwa vitiligo dapat menular melalui kontak fisik atau penggunaan barang bersama. Padahal, hal tersebut tidak benar.
"Vitiligo menular itu sama sekali tidak. Vitiligo bukan infeksi; tidak menular lewat sentuhan, berbagi alat makan, atau hidup bersama," kata dr. Sukamto.
Ia menegaskan bahwa vitiligo merupakan penyakit autoimun yang terjadi akibat gangguan pada sistem kekebalan tubuh dan bukan disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur.
Mitos 2: Vitiligo Sama dengan Kusta
Bercak putih pada kulit sering membuat sebagian masyarakat mengaitkan vitiligo dengan penyakit kusta atau lepra. Menurut dr. Sukamto, anggapan tersebut sangat keliru.
"Keduanya penyakit yang sama sekali berbeda. Vitiligo tidak merusak saraf dan tidak menular," tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa kusta merupakan penyakit infeksi yang dapat menyerang saraf, sedangkan vitiligo terjadi karena hilangnya pigmen pada kulit.
Mitos 3: Disebabkan Kombinasi Makanan Tertentu
Mitos lain yang masih banyak dipercaya adalah bahwa vitiligo muncul akibat mengonsumsi makanan tertentu, seperti makan ikan lalu minum susu.
"Akibat makanan tertentu, misalnya makan ikan lalu minum susu. Tidak ada dasar ilmiahnya," kata dr. Sukamto.
Menurutnya, hingga saat ini tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa kombinasi makanan tertentu dapat menyebabkan vitiligo.
Mitos 4: Akibat Kutukan atau Hal Mistis
Sebagian masyarakat masih mengaitkan vitiligo dengan unsur mistis, seperti guna-guna, kutukan, atau akibat dosa. dr. Sukamto menyebut mitos ini sebagai salah satu yang paling menyakitkan bagi pasien.
"Karena guna-guna, kutukan, atau dosa. Ini mitos yang paling menyakitkan dan harus kita hapus. Vitiligo murni soal proses biologis tubuh, bukan kutukan," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa vitiligo merupakan kondisi medis yang berkaitan dengan sistem imun dan faktor biologis tubuh.
Mitos 5: Terjadi karena Kurang Menjaga Kebersihan
Tak sedikit pula yang menganggap vitiligo muncul karena seseorang kurang menjaga kebersihan diri. Anggapan tersebut juga tidak benar karena tak ada hubungannya.
"Karena kurang menjaga kebersihan. Tidak benar; kebersihan tidak ada hubungannya dengan vitiligo," ucap Dr. Sukamto.
Menurutnya, vitiligo bukan penyakit akibat kebersihan yang buruk sehingga pasien tidak seharusnya menerima stigma atau perlakuan diskriminatif.
Stigma Sama Beratnya dengan Penyakit
dr. Sukamto menekankan bahwa meluruskan berbagai mitos tentang vitiligo sama pentingnya dengan pengobatan medis. Sebab, dampak psikologis akibat stigma dapat memengaruhi kualitas hidup pasien.
"Meluruskan mitos ini sama pentingnya dengan mengobati, karena yang kita rawat bukan hanya kulit, tetapi juga martabat dan rasa percaya diri pasien," pungkasnya.