JawaPos.com - Fenomena El Nino Godzilla yang diperkirakan terjadi tahun 2026 dinilai dapat membuat nyamuk penyebab demam berdarah semakin agresif. Dokter mengingatkan masyarakat untuk segera melakukan langkah antisipasi seperti menutup tempat penampungan air, melakukan pemberantasan sarang nyamuk, serta memanfaatkan larvasida guna menekan risiko penularan DBD.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, dr. Sukamto Koesnoe, mengatakan peningkatan suhu akibat fenomena iklim ekstrem dapat mempercepat perkembangan nyamuk Aedes aegypti sekaligus meningkatkan potensi penyebaran virus dengue.
"Dengan meningkatnya suhu bumi, nyamuk menjadi lebih mudah berkembang. Akibatnya kejadian demam berdarah akan meningkat. Bahkan negara-negara yang sebelumnya tidak memiliki kasus dengue mulai melaporkan kemunculan kasus karena wilayah yang cocok bagi nyamuk semakin meluas," ujarnya, Sabtu (20/6).
Data Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan peluang terbentuknya El Niño mencapai 80 persen pada periode Juni-Agustus 2026 dan berpotensi berlanjut hingga akhir tahun dengan intensitas sedang hingga kuat.
Baca Juga: KPK Tak Akan Ambil Alih Kasus Korupsi MBG, Fokus Lakukan Monitoring Program Prioritas Presiden
dr. Sukamto menjelaskan, kenaikan suhu tidak hanya meningkatkan populasi nyamuk, tetapi juga mengubah perilaku Aedes aegypti. Pada suhu normal sekitar 28 derajat Celsius, nyamuk biasanya menghisap darah setiap lima hari sekali. Namun saat suhu meningkat, periode tersebut dapat memendek menjadi dua hari sekali.
"Semakin meningkat suhu, periode menghisap darah menjadi lebih pendek," katanya.
Ia menerangkan, kondisi tersebut membuat peluang penularan virus dengue menjadi lebih besar karena frekuensi kontak nyamuk dengan manusia meningkat.
Selain perubahan perilaku nyamuk, musim kemarau panjang akibat El Nino juga dapat mendorong masyarakat menyimpan air dalam berbagai wadah. Apabila tidak dikelola dengan baik, tempat penampungan air tersebut berpotensi menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk.
Oleh karena itu, dr. Sukamto mengimbau masyarakat untuk menutup rapat tempat penyimpanan air dan secara berkala menaburkan larvasida sesuai anjuran petugas kesehatan. Larvasida atau bubuk abate diketahui mampu membunuh jentik nyamuk dan memberikan perlindungan hingga tiga bulan.
Sementara itu, Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr. Budi Setiawan, juga memprediksi adanya peningkatan kasus dengue pada akhir 2026 hingga awal 2027.
Menurut Budi, kawasan perkotaan seperti Jakarta memiliki tantangan tersendiri karena banyak bangunan kosong atau area yang tidak berpenghuni yang kerap menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk.
Baca Juga: Transformasi Digital Jadi Penentu Persaingan BPR di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
"Kita sering fokus pada rumah masing-masing, tetapi lupa memperhatikan lingkungan sekitar. Padahal banyak tempat yang tidak berpenghuni justru menjadi lokasi berkembangnya nyamuk," ujarnya.
Di sisi lain, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan DBD masih menjadi ancaman serius di Indonesia dan jumlah kasusnya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
"Takeda berkomitmen untuk terus mendukung upaya pencegahan DBD melalui edukasi yang menjangkau masyarakat luas, perluasan akses terhadap perlindungan yang inovatif, serta kemitraan yang erat dengan pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, dan seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya edukasi, Takeda bersama Kementerian Kesehatan dan sejumlah organisasi profesi menggelar kegiatan "ABCD Land – Ayo Bersama Cegah DBD!" di Urban Forest, Jakarta, pada 20-21 Juni 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai aktivitas edukatif, konsultasi kesehatan, permainan keluarga, serta sesi berbagi informasi mengenai pencegahan demam berdarah.