← Beranda
Kenali Perbedaan Nyeri Payudara Biasa karena Menyusui dengan Mastitis: Gejala dan Penanganannya
Tazkia Royyan HikmatiarRabu, 3 Juni 2026 | 22.15 WIB
Ilustrasi menyusui (Freepik)

JawaPos.com - Masa menyusui sering kali diwarnai keluhan nyeri payudara yang membuat ibu bingung. Sebab kadang sulit membedakan apakah kondisi tersebut masih tergolong normal akibat bendungan ASI atau sudah berkembang menjadi mastitis yang memerlukan penanganan medis.

Mengenali perbedaannya penting agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan mencegah komplikasi. Nyeri payudara saat menyusui memang umum terjadi, terutama pada masa awal setelah melahirkan. Namun, menurut Dokter Spesialis Bedah Umum di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Natalia Maria Christina, Sp.B, ibu perlu mewaspadai gejala yang tidak sekadar nyeri lokal.

“Ibu perlu memperhatikan apakah keluhan hanya terasa di satu area payudara, atau sudah disertai demam, menggigil, dan rasa tidak enak badan. Gejala sistemik seperti ini dapat mengarah ke mastitis dan perlu pemeriksaan lebih lanjut,” jelas dr. Natalia kepada wartawan, Rabu (3/6).

Baca Juga: Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum

Saluran ASI Tersumbat dan Mastitis dalam Satu Spektrum

Secara klinis, dr. Natalia menerangkan bahsa saluran ASI tersumbat dan mastitis merupakan rangkaian masalah menyusui yang saling berkaitan. Sebab, mastitis umumnya diawali oleh saluran ASI yang tersumbat.

Saluran ASI tersumbat atau clogged duct terjadi ketika ASI terperangkap di jaringan payudara akibat aliran yang tidak lancar atau stasis ASI. Kondisi ini biasanya belum disertai peradangan berat maupun infeksi bakteri.

Sementara itu, mastitis merupakan peradangan pada jaringan payudara yang dapat dipicu bendungan ASI berkepanjangan atau infeksi bakteri yang masuk melalui luka maupun celah pada puting.

Dokter Natalia menyebut bahwa erbedaannya terletak pada tingkat keparahan gejala. Saluran ASI tersumbat umumnya menyebabkan benjolan atau nyeri lokal tanpa disertai demam tinggi. Sedangkan mastitis sering muncul bersama kemerahan pada payudara, rasa panas, nyeri yang lebih hebat, tubuh menggigil, hingga kondisi badan terasa lemas.

Pertolongan Pertama Saat Payudara Bengkak dan Nyeri

Penanganan cepat penting dilakukan agar saluran ASI tersumbat tidak berkembang menjadi mastitis atau bahkan abses payudara.

Langkah awal yang dapat dilakukan di rumah adalah tetap menyusui dan tidak menghentikan pengosongan payudara yang terasa sakit. Pengeluaran ASI secara rutin menjadi kunci utama melancarkan kembali aliran ASI.

Ibu juga dapat menggunakan kompres hangat sebelum menyusui atau memerah ASI untuk membantu melancarkan aliran, kemudian dilanjutkan kompres dingin setelah menyusui guna mengurangi nyeri dan bengkak.

Pijatan pada payudara perlu dilakukan secara lembut, bukan dengan tekanan keras.

“Kekeliruan yang sering terjadi adalah memijat payudara yang bengkak dengan keras demi menghancurkan sumbatan. Secara klinis, tindakan ini berbahaya karena dapat merobek jaringan internal payudara yang meradang, sehingga infeksi justru meluas. Pijatan harus dilakukan dengan sangat lembut, seperti usapan,” ungkap dr. Natalia.

Selain itu, posisi dan perlekatan bayi saat menyusu juga harus diperhatikan agar pengosongan ASI optimal serta mencegah luka pada puting yang berisiko menjadi pintu masuk bakteri. Istirahat cukup dan hidrasi yang baik juga penting karena tubuh yang kelelahan dapat mempercepat berkembangnya infeksi.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika dalam 24 hingga 48 jam keluhan tidak membaik atau justru muncul demam tinggi, kemerahan yang meluas, serta tubuh menggigil, dr. Natalia menyarankan ibu segera mencari bantuan medis.

Pada kondisi mastitis, dokter dapat memberikan obat antiinflamasi dan pereda nyeri yang aman untuk ibu menyusui. Bila ditemukan infeksi bakteri, terapi antibiotik juga diperlukan dan harus dikonsumsi hingga tuntas sesuai anjuran.

Dokter juga akan melakukan evaluasi menyeluruh guna memastikan tidak terjadi komplikasi.

“Jangan remehkan demam tinggi serta payudara yang mengeras dan memerah saat menyusui. Mastitis yang tidak cepat ditangani bisa berkembang menjadi abses atau kantung nanah di dalam payudara. Jika sudah sampai tahap abses, penanganannya tidak cukup dengan obat-obatan, melainkan harus melalui tindakan pembedahan kecil atau drainase untuk mengeluarkan nanah tersebut,” jelas dr. Natalia.

Sementara itu, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, menegaskan pentingnya dukungan medis yang aman dan nyaman bagi ibu menyusui yang mengalami masalah payudara.

Menurutnya, fasilitas layanan kesehatan yang memiliki tim berpengalaman dan sarana yang memadai dapat membantu ibu memperoleh diagnosis yang tepat serta mencegah gangguan menyusui berkepanjangan.

“Di Bethsaida, kami selalu memastikan setiap ibu merasa nyaman, aman, dan didukung sepenuhnya selama proses perawatan. Tim Women’s Health Center kami siap memberikan evaluasi tepat, edukasi, dan dukungan medis yang hangat, sehingga ibu dapat melanjutkan menyusui dengan percaya diri,” tutup dr. Margareth.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah