Mahesa mengatakan, layanan kesehatan digital memiliki peran penting dalam memperluas akses kesehatan selama tetap mengutamakan keselamatan pasien.
“Telemedicine dapat menjadi solusi untuk membantu masyarakat mendapatkan akses layanan kesehatan dengan lebih cepat dan praktis, terutama bagi pasien dengan kondisi non-darurat," ujarnya, Selasa (26/5).
Baca Juga: Langsung Keok di Singapore Open 2026, Tiwi/Fadia Alihkan Fokus ke Indonesia Open 2026
Namun begitu, ia menegaskan bahwa layanan telemedicine tetap harus mengedepankan keselamatan pasien, penggunaan obat yang bertanggung jawab, serta hak pasien untuk memilih pengobatan.
"Sesuai kebutuhan dan kesanggupan masing-masing,” tegas dr. Mahesa.
Tantangan Akses Kesehatan dan Pembelian Obat Online
Sebagai negara kepulauan, Indonesia masih menghadapi tantangan pemerataan layanan kesehatan. Di sisi lain, meningkatnya aktivitas pembelian obat secara online juga memunculkan persoalan terkait keamanan serta penggunaan obat yang tepat.
Baca Juga: Render Galaxy S26 FE Bocor, Desain Mirip Flagship dan Dukung Qi2
Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI sepanjang 2025 menemukan 197.725 tautan penjualan obat dan makanan ilegal di platform digital. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengawasan dan pendampingan medis dalam pembelian obat secara daring.
Transformasi digital kesehatan dinilai menjadi salah satu upaya untuk menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan layanan yang lebih mudah diakses, terjangkau, dan berkualitas.