← Beranda
Aturan Obat Hipertensi: Jangan Berhenti Saat Tekanan Darah Menurun Tanpa Anjuran Dokter
Tazkia Royyan HikmatiarRabu, 20 Mei 2026 | 06.30 WIB
Ilustrasi Hipertensi. (Pexels/Thirdman)

 

JawaPos.com – Banyak penderita hipertensi menghentikan konsumsi obat ketika tekanan darah mulai turun dan merasa tubuh kembali sehat. Padahal, kebiasaan tersebut berbahaya karena justru dapat memicu lonjakan tekanan darah hingga meningkatkan risiko stroke maupun serangan jantung.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD-KAI menegaskan, obat antihipertensi pada dasarnya aman selama digunakan sesuai indikasi dan dosis yang tepat berdasarkan anjuran dokter.

“Obat antihipertensi yang diresepkan dokter pada dasarnya aman, selama digunakan sesuai indikasi dan dosis yang tepat,” ujar dr. Sukamto saat dihubungi JawaPos.com, Selasa (19/5).

Ia menjelaskan, terdapat beberapa golongan obat hipertensi yang memiliki fungsi berbeda sesuai kondisi pasien. Ada obat yang lebih cocok untuk penderita diabetes, gangguan jantung, hingga pasien lanjut usia.

Baca Juga: Alasan Sepele Anggota DPRD Jember Main Game Saat Rapat: Khawatir Sapi Virtual Kelaparan

“Pemilihan jenis obat ini sangat individual,” katanya.

Jangan Sembarangan Minum Obat Hipertensi

Oleh karena itu, dr. Sukamto mengingatkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi obat hipertensi tanpa konsultasi medis. Menurutnya, masih banyak pasien yang minum obat milik saudara atau tetangga hanya karena merasa memiliki keluhan serupa.

Padahal, obat yang cocok untuk satu orang belum tentu aman untuk orang lain. Dalam kondisi tertentu, beberapa jenis obat hipertensi justru dapat membahayakan pasien, misalnya pada penderita gangguan ginjal atau ibu hamil.

“Yang sering jadi masalah di masyarakat, jangan sembarangan minum obat hipertensi tanpa konsultasi dokter. Obat yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok untuk Anda,” tegasnya.

Dosis Obat Harus Disesuaikan Bertahap

Di sisi lain, Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) itu menjelaskan pemberian dosis obat hipertensi juga tidak bisa dilakukan sembarangan.

Menurutnya, dokter biasanya memulai pengobatan dengan dosis rendah terlebih dahulu sebelum disesuaikan secara bertahap berdasarkan respons tubuh pasien dan efek samping yang muncul.

“Dosisnya harus dititrasi, artinya mulai dari dosis rendah lalu disesuaikan bertahap berdasarkan respons tubuh dan efek samping yang muncul. Ini hanya bisa dilakukan dengan pemantauan dokter,” jelasnya.

Tekanan Darah Turun Bukan Berarti Sembuh

dr. Sukamto pun menyoroti kebiasaan pasien yang berhenti minum obat setelah tekanan darah turun karena mengira hipertensi sudah sembuh. Padahal kondisi tersebut justru menunjukkan obat bekerja dengan baik.

Ia memperingatkan penghentian obat secara mendadak dapat membuat tekanan darah melonjak kembali, bahkan lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Baca Juga: Bingung Hasil Cek Tekanan Darah Berubah? Ini Penjelasan Dokter Jelasnya

“Saya sering menemui pasien yang berhenti minum obat begitu tensinya turun. Mereka pikir sudah sembuh. Ini bahaya besar,” tuturnya.

Menurutnya, lonjakan tekanan darah akibat penghentian obat mendadak dapat memicu komplikasi serius seperti stroke maupun serangan jantung. Karena itu, penyesuaian dosis maupun penghentian obat harus selalu dilakukan di bawah pengawasan dokter.

dr. Sukamto menegaskan bahwa hipertensi umumnya merupakan penyakit jangka panjang, bahkan bisa berlangsung seumur hidup. Namun, kondisi tersebut tetap dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat dan penerapan gaya hidup sehat.

“Dengan obat yang tepat dan gaya hidup yang baik, penderita hipertensi bisa hidup normal, panjang umur, dan produktif,” pungkasnya.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan