JawaPos.com - Vaginismus menjadi gangguan kesehatan reproduksi perempuan yang masih sering disalahpahami masyarakat. Kondisi ini membuat pasangan suami istri tidak bisa melakukan hubungan seksual meski sama-sama ingin melakukannya.
Dokter yang menangani vaginismus secara komprehensif, dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG, menjelaskan bahwa vaginismus masuk dalam klasifikasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan kode N94.2.
“Vaginismus itu adalah sebuah penyakit pada organ vagina berupa kekakuan otot vagina yang tidak bisa dikendalikan,” ujarnya saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (13/5).
Ia menegaskan kondisi tersebut bukan karena perempuan tidak mau berhubungan intim atau sengaja menolak pasangan. Melainkan karena spasme atau kekakuan otot vagina yang menyebabkan penetrasi sulit bahkan tidak bisa terjadi.
Baca Juga: Kasus Vaginismus di Surabaya Meningkat, Atasi dengan Latihan Dilatasi Mandiri
Penis Tidak Bisa Masuk Jadi Gejala Paling Umum
Menurut dr. Robbi, sekitar 88 hingga 90 persen kasus vaginismus ditandai dengan kegagalan penetrasi saat berhubungan seksual.
“Yang terbanyak itu adalah kegagalan penetrasi. Jadi penis tidak bisa masuk ke vagina,” katanya.
Sebagian kecil pasien masih bisa mengalami penetrasi, tetapi dengan rasa sakit yang sangat hebat. Selain saat berhubungan seksual, vaginismus juga dikenali dari beberapa kondisi lain seperti kesulitan menggunakan tampon haid atau menstrual cup.
Rasa nyeri hebat juga muncul saat pemeriksaan organ reproduksi di fasilitas kesehatan.
“Nah, hal tersebut juga tidak bisa dilakukan, atau kalau pun bisa terjadi pasiennya sangat menderita kesakitan,” tutur dr. Robbi.
Disebut Penyakit Idiopatik, Penyebab Pastinya Belum Diketahui
dr. Robbi mengatakan hingga kini dunia medis belum menemukan penyebab pasti vaginismus. Karena itu, kondisi ini digolongkan sebagai penyakit idiopatik atau belum diketahui penyebab langsungnya.
Meski begitu, ia menilai masih banyak anggapan keliru yang menyebut vaginismus semata-mata disebabkan faktor psikologis atau trauma.
“Data menunjukkan orang dengan vaginismus itu dia memang mau berhubungan seks, dia berminat, dia juga menunjukkan respons rangsang seksual yang normal,” jelasnya.
Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Limijaiti itu menyebut penderita vaginismus tetap mengalami lubrikasi vagina normal sebagai tanda adanya gairah seksual. Karena itu, anggapan bahwa pasien vaginismus tidak rileks atau tidak ingin melayani pasangan tidak sesuai fakta medis.
Ada Vaginismus Primer dan Sekunder
Dalam dunia medis, vaginismus dibagi jadi dua jenis, yakni primer dan sekunder.
Vaginismus primer terjadi sejak pertama kali seseorang mencoba penetrasi. Sementara vaginismus sekunder muncul setelah pasien sebelumnya dapat melakukan penetrasi tanpa masalah.
Menurut dr. Robbi, kasus sekunder jumlahnya lebih sedikit, sekitar 10 hingga 20 persen dari total pasien. “Sekitar 60 persen itu terjadinya setelah melahirkan,” katanya.
Selain setelah persalinan normal, vaginismus sekunder juga ditemukan pada pasien pasca operasi sesar maupun setelah menopause.
Baca Juga: Kasus Vaginismus di Surabaya Naik, Tidak Bisa ML dengan Pasangan
Trauma Bukan Penyebab Utama
dr. Robbi menyoroti anggapan bahwa vaginismus selalu dipicu trauma kekerasan seksual atau hal lain. Berdasarkan data pasien yang ia tangani sejak 2017, kasus dengan riwayat trauma sangat kecil.
“Orang yang kami hadapi vaginismus yang dulunya dia pernah mengalami kejadian traumatik, itu jumlahnya kecil sekali, di bawah setengah persen,” ujarnya.
Ia justru menemukan banyak pasien mengalami tekanan psikologis akibat stigma, penghakiman, dan perlakuan buruk dari lingkungan sekitar setelah menderita vaginismus.
“Justru karena dia mengalami vaginismus, dia menjadi mengalami trauma selama bertahun-tahun,” katanya.
Penanganan Dilakukan Bertahap dan Tidak Lewat Operasi
Terkait pengobatan, dr. Robbi menjelaskan penanganan vaginismus dilakukan melalui serangkaian tindakan medis berbasis bukti. Penanganan tidak cukup hanya dengan satu metode sederhana.
Menurutnya, penanganan dapat melibatkan pembiusan, pemasangan alat tertentu, penyuntikan obat, dan fisioterapi dilatasi vagina untuk mengurangi kekakuan otot.
“Untuk menghilangkan kekakuan itu diperlukan proses fisioterapi dilatasi terhadap vagina tersebut,” jelasnya.
Ia menambah vaginismus bukan kondisi yang perlu dioperasi. Penanganan tepat memiliki tingkat keberhasilan tinggi dengan rata-rata terapi dua hingga tiga bulan.
Karena itu, pasien disarankan mencari bantuan tenaga medis yang memahami penanganan vaginismus agar tidak salah diagnosis dan penghakiman saat berobat.