JawaPos.com–Tingginya angka perokok di Indonesia membuat upaya berhenti merokok secara total masih menjadi tantangan bagi banyak orang. Di tengah kondisi tersebut, pendekatan tobacco harm reduction atau pengurangan bahaya tembakau mulai banyak dibahas sebagai salah satu opsi untuk menekan risiko Kesehatan. Terutama bagi perokok dewasa yang sulit berhenti secara instan.
Pendekatan ini mendorong perokok dewasa beralih dari rokok konvensional ke produk alternatif seperti rokok elektronik (vape), produk tembakau yang dipanaskan, maupun kantong nikotin. Sejumlah penelitian internasional menyebut produk tersebut memiliki tingkat paparan zat berbahaya lebih rendah dibandingkan rokok biasa, meski tetap tidak sepenuhnya bebas risiko.
Salah satu rujukan yang kerap digunakan dalam diskursus pengurangan bahaya tembakau berasal dari kajian Public Health England, yang kini menjadi bagian dari UK Health Security Agency, berjudul Evidence Review of E-Cigarettes and Heated Tobacco Products. Kajian tersebut menyebutkan rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan dapat mengurangi paparan zat berbahaya hingga sekitar 90–95 persen dibandingkan rokok konvensional.
Baca Juga: Dari Sampah Plastik Jadi Produk Bernilai, Begini Strategi PGN Terapkan Ekonomi Sirkular
Meski demikian, berbagai otoritas kesehatan dunia juga tetap mengingatkan bahwa produk alternatif nikotin bukan produk aman dan tidak direkomendasikan bagi non-perokok, anak-anak, maupun remaja. Pendekatan harm reduction lebih ditujukan untuk perokok dewasa yang belum berhasil berhenti merokok sepenuhnya.
Fenomena peralihan ini juga dialami Aldi, seorang kreator konten yang dikenal melalui akun Instagram @vapeducation. Dia mengaku mulai beralih dari rokok ke vape pada 2016–2017 setelah mencari berbagai referensi ilmiah terkait risiko kesehatan rokok elektronik.
”Saya riset dulu dan akhirnya menemukan beberapa informasi. Pada 2015 sudah ada jurnal dari Public Health England yang menyebutkan vape 95 persen lebih tidak berbahaya dibanding rokok. Dari situ saya memutuskan mencoba setelah yakin dari hasil riset,” ujar Aldi di sebuah diskusi di Jakarta.
Menurut Aldi, keputusan tersebut tidak diambil secara impulsif. Dia mengaku membandingkan berbagai sumber sebelum akhirnya mencoba vape sebagai pengganti rokok.
Setelah beberapa bulan beralih, Aldi mengaku mulai merasakan perubahan pada kondisi tubuhnya. Dia menyebut pernapasan terasa lebih lega dan kebiasaan merokok perlahan bisa ditinggalkan.
”Dari sisi pernapasan terasa lebih panjang dan lega. Selera makan juga meningkat. Sekitar satu sampai dua bulan kemudian, saya akhirnya berhenti total merokok,” ungkap Aldi.
Pengalaman itu kemudian mendorong Aldi membuat platform edukasi terkait vape dan pengurangan bahaya tembakau. Dia menegaskan tidak pernah mengklaim vape sepenuhnya aman.
”Kita berhak mendapatkan informasi yang benar. Kalau ada sisi negatif vape tetap saya sampaikan. Saya tidak pernah bilang vape sepenuhnya aman, tapi lebih rendah risiko dibanding rokok berdasarkan kajian Public Health England,” ujar Aldi.
Cerita serupa datang dari Hanif, 31, karyawan swasta di Jakarta Selatan, yang mulai menggunakan rokok elektronik beberapa bulan terakhir sebagai bagian dari upaya mengurangi kebiasaan merokok. Proses adaptasi tidak mudah karena sensasi rokok dan vape berbeda. Namun seiring waktu, dia mulai menemukan pola penggunaan yang membuatnya nyaman.
Baca Juga: 5 Mitos Tentang Sakit Punggung yang Masih Dipercaya Banyak Orang dan Membuat Kondisi Semakin Parah
”Dulu agak sulit menyesuaikan, karena karakter rokok sama vape beda, jadi masih terasa ada yang kurang. Tapi lama-lama saya lebih nyaman pakai vape karena tidak bau seperti rokok,” kata Hanif.
Dia menambahkan, dukungan keluarga menjadi faktor penting yang membuat bertahan menggunakan vape dibanding kembali ke rokok konvensional. Lingkungan rumah yang tidak lagi dipenuhi asap rokok juga menjadi alasan tambahan.
”Keluarga senang karena sekarang rumah jadi tidak bau asap rokok. Itu yang bikin saya makin yakin lanjut,” ujar Hanif.
Di Indonesia, diskusi mengenai tobacco harm reduction masih memunculkan pro dan kontra. Sebagian pihak menilai pendekatan ini dapat membantu menekan risiko bagi perokok dewasa, sementara pihak lain menyoroti potensi munculnya pengguna baru, terutama di kalangan remaja.
Karena itu, para ahli kesehatan menilai edukasi berbasis riset, pengawasan ketat, serta pembatasan akses bagi anak di bawah umur tetap menjadi hal penting dalam pembahasan produk tembakau alternatif di Indonesia.