← Beranda
Pakar Unair Ingatkan Fatalitas Hantavirus Bisa Capai 50 Persen Jika Terlambat Ditangani
R. Nurul Fitriana PutriJumat, 8 Mei 2026 | 23.26 WIB
Ilustrasi Hantavirus. (AI)

JawaPos.com - Kasus Hantavirus kembali menjadi sorotan setelah wabah di kapal pesiar MV Hondius menewaskan tiga orang. Penyakit zoonosis ini disebut memiliki tingkat fatalitas hingga 50 persen.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menyebut sepanjang 2024 - 2026, tercatat 251 kasus suspek Hantavirus. Dari jumlah tersebut, 23 orang terkonfirmasi positif tersebar di 9 provinsi, paling banyak di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta 

Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, menjelaskan hantavirus umumnya tidak muncul secara tiba-tiba di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar.

Baca Juga: Ramalan Kesehatan Zodiak Besok Sabtu 9 Mei 2026: Libra, Scorpio, Sagitarius, Capricorn, Aquarius dan Pisces

Menurutnya, penularan lebih mungkin terjadi akibat paparan sebelumnya, baik sebelum perjalanan maupun saat seseorang berada di wilayah dengan reservoir hewan pengerat pembawa virus, seperti tikus.

“Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu, sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi, tetapi umumnya tak menyebar di ruang tertutup," ujar Laura di Surabaya, Jumat (8/6).

Ia menyebut perjalanan lintas negara melalui jalur laut berpotensi memperluas temuan kasus hantavirus. Namun, kondisi ini belum tentu menunjukkan lokasi awal terjadinya penularan virus secara langsung.

Laura menjelaskan hantavirus dapat menular melalui paparan partikel dari urin, feses, maupun air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi lewat inhalasi partikel yang terkontaminasi.

Baca Juga: Silang Pendapat Putusan MK soal Lembaga Penghitung Kerugian Keuangan Negara, Siapa Paling Berwenang?

Menurutnya, lingkungan dengan populasi hewan pengerat yang tinggi memiliki risiko lebih besar terhadap penyebaran hantavirus. Aktivitas di area tersebut dinilai dapat meningkatkan potensi paparan virus kepada manusia.

Sebagian besar hantavirus tidak menular antarmanusia, namun beberapa strain seperti Andes virus memiliki kemampuan penularan terbatas sehingga investigasi epidemiologi dan analisis genomik tetap diperlukan.

"Perubahan iklim dan pergeseran habitat hewan juga bisa memengaruhi penyebaran reservoir. Aktivitas manusia di wilayah baru, meningkatnya ekowisata, turut memperbesar risiko paparan penyakit zoonosis," lanjutnya.

Dari sisi klinis, Laura menyebut Hantavirus umumnya diawali gejala tidak spesifik, seperti demam, tubuh lemas, dan gangguan gastrointestinal yang kerap sulit dikenali pada tahap awal.

Kondisi tersebut dapat berkembang cepat menjadi pneumonia berat hingga Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dan syok, sehingga pasien memerlukan penanganan intensif di fasilitas kesehatan.

Baca Juga: Alasan Bareskrim Polri Limpahkan Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus ke Polda Metro Jaya

"Bentuk berat infeksi hantavirus yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi 30 - 50 persen. Terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat,” ujar Laura.

Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) UNAIR tersebut menegaskan bahwa penguatan sanitasi, pemantauan gejala, serta komunikasi risiko yang efektif menjadi kunci dalam mencegah penyebaran Hantavirus. 

EDITOR: Bintang Pradewo