JawaPos.com–Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengingatkan potensi wabah dapat terjadi apabila hantavirus mengalami mutasi hingga mampu menular dari manusia ke manusia secara lebih luas. Kondisi tersebut dinilai berbahaya karena manusia belum memiliki kekebalan terhadap virus yang berasal dari hewan tersebut.
”Kalau dia bisa berkembang biak di dalam tubuh manusia dan bisa menularkan dari manusia ke manusia, apakah lewat pernapasan, apakah lewat air seni, apakah lewat yang lainnya, nah itu potensial mewabah,” ujar Pandu Riono kepada wartawan, Jumat (8/5).
Dia menjelaskan, virus dari hewan memiliki potensi besar untuk bermutasi. Kondisi yang paling dikhawatirkan adalah ketika virus yang awalnya menular dari hewan ke manusia kemudian mampu menyebar antarmanusia.
Baca Juga: Sejak 2024, 6 Warga Jakarta Positif Hantavirus, Kenali Cara Cegah Penularan dari Tikus di Rumah!
”Yang kita takuti adalah dia jumping to species, dari hewan ke manusia. Dan manusia tidak punya daya tahan terhadap virus yang ada di hewan,” kata Pandu Riono.
Menurut dia, apabila mutasi terus berkembang hingga penularan antar manusia terjadi secara luas, situasi dapat menjadi sulit dikendalikan. ”Kalau sudah terjadi penularan pada manusia dan manusia, wah itu kita out of control. Menyeramkan kan? Kita harus siap dengan kemungkinan terburuk,” tegas Pandu Riono.
Lakukan Antisipasi di Kapal-kapal
Pandu menilai, Indonesia saat ini belum sepenuhnya siap menghadapi kemungkinan penyebaran hantavirus antar manusia. Karena itu, langkah antisipasi perlu diperkuat terutama di area transportasi publik seperti kapal.
Baca Juga: Kemenkes Catat 23 Kasus Positif Hantavirus dari 2024-2026, Tersebar di 9 Provinsi
”Nggak, kita nggak siap. Makanya kita masih punya usaha untuk mengamankan semua tempat-tempat publik, terutama transportasi,” tandas Pandu Riono.
Dia menyoroti keberadaan tikus di kapal yang berpotensi menjadi sumber penularan penyakit kepada penumpang selama perjalanan panjang. ”Di kapal tuh dia nggak bisa ke mana-mana, tidur bersama dengan tikus di kapal itu berhari-hari. Kalau tikusnya sakit bawa penyakit, ya pasti ditularkan ke penumpang di kapal itu,” ujar papar Pandu Riono.
Meski demikian, Pandu menilai peluang pencegahan masih terbuka selama pemerintah dan masyarakat memiliki respons cepat terhadap ancaman penyakit menular. ”Masih punya kesempatan untuk mencegah, asal kita mempunyai respons yang cepat,” ungkap Pandu Riono.
Hantavirus di Kapal MV Hondius Menyebar dari Manusia ke Manusia
Sementara itu, Direktur Jendral WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan, adanya klaster kasus hantavirus yang terkait dengan kapal pesiar MV Hondius. WHO melaporkan sejauh ini terdapat delapan kasus, termasuk tiga kematian. Lima kasus di antaranya telah terkonfirmasi sebagai hantavirus.
Virus yang terlibat adalah virus Andes yang diketahui menjadi satu-satunya spesies hantavirus yang dapat menular secara terbatas dari manusia ke manusia melalui kontak dekat dan berkepanjangan. ”Meskipun ini adalah insiden serius, WHO menilai risiko kesehatan masyarakatnya rendah,” kata Tedros.
WHO juga menyebut masih ada kemungkinan tambahan kasus mengingat masa inkubasi penyakit tersebut. Saat ini WHO berkoordinasi dengan berbagai negara melalui Peraturan Kesehatan Internasional atau International Health Regulations (IHR) untuk menangani situasi tersebut. Organisasi itu juga telah menempatkan seorang ahli di atas kapal guna mendukung penilaian medis terhadap penumpang dan awak kapal.
Baca Juga: 2 Kasus Suspek Hantavirus Ada di Indonesia, Berikut Cara Pencegahannya agar Tak Tertular!
Selain itu, WHO mengirimkan 2.500 alat diagnostik dari Argentina ke laboratorium di lima negara guna memperkuat kapasitas pengujian hantavirus. WHO juga tengah menyusun panduan operasional terkait proses turun kapal dan perjalanan lanjutan yang aman bagi penumpang dan awak kapal.