JawaPos.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti perbedaan angka harapan hidup masyarakat Indonesia dengan Denmark yang mencapai sekitar 10 tahun. Menurutnya, salah satu faktor utama yang memengaruhinya adalah tingkat obesitas dan pola hidup sehat masyarakat.
Budi mengatakan rata-rata angka harapan hidup masyarakat Denmark berada di kisaran 82 hingga 83 tahun, sedangkan Indonesia masih sekitar 72 hingga 73 tahun.
“Saya tadi baru lihat average life expectancy dari Danish itu antara 82 sampai 83 tahun. Average life expectancy Indonesian itu 72-73 lah. Jadi kita ada 10 years difference,” kata Budi dalam talkshow Kampanye Pencegahan dan Pengendalian Obesitas, Kamis (7/5).
Ia mengaku iri karena masyarakat Denmark memiliki peluang hidup lebih lama dibanding masyarakat Indonesia. Menurutnya, salah satu indikator yang terlihat jelas adalah ukuran tubuh dan indeks massa tubuh atau Body Mass Index (BMI).
BMI ideal adalah di bawah 24. Selain itu, ukuran pinggang ideal untuk pria adalah kurang dari 90 cm sementara untuk perempuan di bawah 80 cm.
Budi menjelaskan obesitas berkaitan erat dengan risiko penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi. Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar menjaga lingkar perut dan berat badan ideal demi meningkatkan peluang hidup lebih panjang.
"Ini bukan masalah fisik, ini masalah kesehatan,” tegasnya.
Menurut Budi, menjaga berat badan bukan hanya soal penampilan, tetapi juga upaya mencegah penyakit tidak menular agar masyarakat dapat hidup lebih lama dan sehat hingga usia lanjut.
Nutri-Level Disebut Bisa Tekan Risiko Obesitas
Dalam kesempatan itu, Budi menyinggung peluncuran Nutri-Level atau Nutri-Grade sebagai bagian edukasi masyarakat untuk memilih makanan dan minuman yang lebih sehat.
Menurutnya, sistem label tersebut dibuat sederhana agar mudah dipahami masyarakat tanpa harus menghitung kalori atau kandungan gizi secara rinci.
“Itulah alasan mengapa kita meluncurkan Nutri-Level atau Nutri-Grade. Karena itu adalah salah satu penyebab obesitas,” katanya.
Ia menjelaskan masyarakat cukup memperhatikan kategori warna atau tingkatan pada produk makanan dan minuman. Produk dengan label A dinilai lebih sehat dibanding label D.
“Kita tidak perlu reinvent the wheel. Kita tiru saja Singapura yang sukses menerapkannya,” ucap Budi.
Ia berharap label nutrisi tersebut dapat menjadi bagian gaya hidup masyarakat, termasuk menciptakan tren memilih produk yang lebih sehat.
Menkes Dorong Gerakan Olahraga Rutin
Selain pola makan, Menkes juga menekankan pentingnya aktivitas fisik rutin untuk menekan angka obesitas. Ia menyebut olahraga dapat membantu menurunkan hormon stres kortisol dan meningkatkan endorfin.
“Pedoman WHO adalah minimal 30 menit sehari, 5 hari seminggu di zona 2. Ini harus diedukasi,” ujarnya.
Budi mengatakan sejumlah duta besar negara Eropa yang dikenalnya memiliki kebiasaan rutin berolahraga seperti bersepeda dan berlari. Menurutnya, kebiasaan tersebut turut memengaruhi kondisi kesehatan mereka.
Ia juga mengungkapkan dirinya baru menyelesaikan London Marathon bersama istrinya. Karena itu, ia ingin olahraga menjadi gerakan bersama di masyarakat.
“Kesehatan itu tidak bisa hanya berupa program kesehatan, tapi harus menjadi gerakan hidup sehat,” katanya.
Menurut Budi, olahraga seperti lari menjadi pilihan paling mudah dan murah untuk menjaga kesehatan masyarakat.
“Lari adalah olahraga termurah,” tandasnya.