JawaPos.com-Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang menewaskan 3 penumpangnya, memicu perhatian dunia terhadap virus langka yang dibawa oleh tikus tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memastikan risiko penyebaran ke masyarakat umum masih rendah, namun investigasi terkait sumber penularan terus dilakukan.
Kasus terbaru terjadi di kapal pesiar berbasis Belanda yang berlayar di Samudera Atlantik. Sejmlah penumpang dilaporkan jatuh sakit akibat dugaan infeksi hantavirus, penyakit yang dikenal memiliki tingkat kematian cukup tinggi pada kasus tertentu.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus merupakan kelompok virus yang dapat menyebabkan dua jenis penyakit serius pada manusia, yakni hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.
Jenis HPS menjadi perhatian utama karena memiliki tingkat kematian sekitar 40 persen. Sementara HFRS memiliki tingkat fatalitas bervariasi antara 1 hingga 15 persen, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).
Hingga kini, otoritas kesehatan belum memastikan jenis hantavirus yang menyebar di kapal MV Hondius. Namun sejumlah laporan media internasional menduga kasus tersebut berkaitan dengan hantavirus tipe pulmonary syndrome.
Mengutip beberapa jurnal kesehatan, nama hantavirus sendiri berasal dari wilayah Sungai Hantan di Korea Selatan, tempat virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1970-an.
Bagaimana Hantavirus Menular?
Virus ini paling sering menyebar melalui hewan pengerat yang terinfeksi, terutama tikus. Hantavirus dapat ditemukan pada urine, air liur, maupun kotoran tikus.
Ketika sisa kotoran atau urine tersebut mengering lalu bercampur di udara, manusia dapat terinfeksi setelah menghirup partikel yang terkontaminasi.
WHO menyebut penularan antarmanusia memang mungkin terjadi, namun kasusnya sangat jarang.
Sementara itu, mengutip New York Times, dalam kasus di MV Hondius, WHO menyatakan kemungkinan penularan antarmanusia belum bisa dikesampingkan karena beberapa pasien diketahui memiliki kontak sangat dekat satu sama lain.
Gejala Hantavirus Mirip Flu
Gejala awal hantavirus sering kali menyerupai flu biasa sehingga sulit dikenali pada tahap awal infeksi.
Menurut CDC, hantavirus pulmonary syndrome umumnya diawali dengan demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan mual dalam satu hingga delapan minggu setelah paparan.
Beberapa hari kemudian, penderita mulai mengalami batuk, sesak napas, dan penumpukan cairan di paru-paru yang dapat berujung fatal.
Sementara HFRS biasanya berkembang dalam satu hingga dua minggu setelah terpapar virus dan lebih banyak menyerang fungsi ginjal.
Karena gejalanya mirip influenza, diagnosis dalam 72 jam pertama sering kali sulit dilakukan.
Belum Ada Obat Khusus
Hingga kini belum ada terapi khusus untuk mengobati infeksi hantavirus. Penanganan medis umumnya berfokus pada perawatan suportif seperti pemberian cairan, istirahat, hingga bantuan pernapasan menggunakan ventilator pada kasus berat.
Para ahli juga menekankan pentingnya pencegahan dengan mengurangi paparan terhadap hewan pengerat di lingkungan manusia.
Membersihkan kotoran tikus menggunakan penyedot debu atau disapu langsung juga tidak disarankan karena dapat membuat partikel virus beterbangan di udara.
Seberapa Besar Risiko bagi Publik?
WHO menegaskan wabah hantavirus di kapal pesiar tersebut belum menjadi ancaman besar bagi masyarakat luas.
“Risiko terhadap masyarakat umum tetap rendah. Tidak perlu panik atau menerapkan pembatasan perjalanan,” kata Direktur Regional WHO untuk Eropa, Dr. Hans Henri P. Kluge dinukil via Al-Jazeera.
Secara global, kasus hantavirus tergolong langka. Pemerintah Kanada memperkirakan hanya sekitar 200 kasus hantavirus pulmonary illness terjadi setiap tahun di seluruh dunia.
Virus ini lebih banyak ditemukan di wilayah Amerika Utara dan Selatan, sementara jenis HFRS lebih umum terjadi di Asia dan Eropa.
Perhatian terhadap hantavirus kembali meningkat setelah wabah di MV Hondius menyebabkan tiga kematian dan sejumlah penumpang lainnya masih dalam pemantauan kesehatan. (*)
Rubrik/Kanal: Kesehatan