← Beranda
Diabetes Serang Usia Produktif, Deteksi Dini Perlu Dilakukan Sejak Dini guna Cegah Komplikasi Serius
Nurul Adriyana SalbiahSelasa, 21 April 2026 | 06.05 WIB
ilustrasi diabetes

JawaPos.com – Indonesia dihadapkan dengan masalah diabetes yang terus meningkat tiap tahunnya. Pada 2024, penderita diabetes mencapai 20,4 juta orang dan menempatkan Indonesia di posisi kelima dunia. 

Tak hanya itu, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada 2023, prevalensi diabetes pada usia lebih dari 15 tahun mencapai 11,7 persen. Artinya, ada 30 juta penderita diabetes di Indonesia tetapi yang baru terdiagnosis antara 10-15 juta pasien DM.

Sehingga, peningkatan penderita diabetes tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut. Tapi mulai  mulai menyerang orang berusia produktif hingga anak-anak. Disamping pola makan yang tidak seimbang, kurangnya aktivitas fisik dapat memperburuk risiko.

Baca Juga: Jepang Cabut Peringatan Tsunami Pasca Gempa M 7,7, Warga Tetap Diminta Siaga 'Megaquake'

Berdasarkan data di atas, hal ini menjadikan diabetes sebagai salah satu tantangan masalah kesehatan terbesar. Kondisi ini menunjukkan, penanganan diabetes membutuhkan perhatian serius, bukan hanya dari pemerintah dan pelaku kesehatan tapi juga berbagai pihak. 

Diungkapkan, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, dengan kasus yang terus meningkat, deteksi dini penting untuk dilakukan karena masih banyak kasus diabetes yang tidak terdiagnosis sejak awal. 

Para pembicara dalam diskusi Kalbe Dukung Penanganan Diabetes melalui Kolaborasi Strategis baru-baru ini di Jakarta. (ist)
Para pembicara dalam diskusi Kalbe Dukung Penanganan Diabetes melalui Kolaborasi Strategis baru-baru ini di Jakarta. (ist)

 

Caranya, ungkap Siti Nadia, lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Ini bisa menjadi langkah penting dalam pencegahan. Risiko komplikasi pun dapat ditekan secara signifikan. 

“Deteksi dini merupakan langkah penting dalam pengendalian diabetes. Dengan diagnosis yang lebih cepat, intervensi dapat dilakukan lebih optimal. Hal ini juga dapat mencegah komplikasi yang lebih serius. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan harus terus dilakukan,” ungkapnya dalam diskusi Kalbe Dukung Penanganan Diabetes melalui Kolaborasi Strategis baru-baru ini di Jakarta.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM., menyampaikan, selain deteksi dini, pemahaman masyarakat terhadap penyakit diabetes masih minim. Dikatakannya, diabetes bukan hanya tentang kadar gula darah, tetapi juga berkaitan dengan risiko komplikasi jangka panjang. 

Oleh karena itu, penanganan harus dilakukan secara menyeluruh. Pasien perlu memahami pentingnya pola hidup sehat dan kepatuhan terhadap pengobatan. Edukasi menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan terapi. Dengan pengelolaan yang baik, pasien dapat tetap produktif.

“Pencegahan diabetes harus dimulai sejak dini dengan membangun kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko. Skrining rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi kondisi sejak awal,” ujar Prof. Yunir.

Beban Kesehatan

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi menyampaikan, diabetes memberikan dampak signifikan terhadap sistem kesehatan nasional. Karena, diabetes bisa menjadi komplikasi dan menyebabkan penyakit lainnya seperti hipertensi. Bahkan bila tidak diobati dengan baik akan berakibat menjadi penyakit ginjal, jantung, katarak dan penyakit lainnya.

Jika dilihat, adanya peningkatan kasus diabetes berbanding lurus dengan meningkatnya beban pembiayaan kesehatan. Data BPJS menunjukkan, peningkatan kasus Diabetes Melitus sekitar 40 persen dan peningkatan biaya gagal ginjal sebesar 476 persen. 

Sehingga, penanganan diabetes membutuhkan pendekatan dari hulu ke hilir. Mulai dari faktor resikonya, deteksi dini dan pengobatan. Pemerintah terus mendorong penguatan layanan kesehatan, khususnya pada aspek promotif dan preventif.  

“Edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu kunci utama dalam pengendalian diabetes. Selain itu, kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan untuk memperluas jangkauan program. Dengan sinergi yang baik, kita dapat menekan angka prevalensi diabetes di Indonesia,” tutur dr. Nadia.

Sementara itu, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) mendukung kolaborasi strategis antara pemerintah, industri kesehatan, akademisi dan tenaga kesehatan serta masyarakat dalam penanganan diabetes di Indonesia, melalui pendekatan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen Kalbe dalam menghadapi tantangan terhadap meningkatnya prevalensi diabetes di Indonesia sebesar 10.9 persen sesuai data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018.

Diungkapkan Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Mulialie, salah satu bentuk dukungan Kalbe terhadap penanganan diabetes yang terintegrasi yaitu Kalbe Diabetes Total Solution, yakni pendekatan terintegrasi mulai pencegahan, deteksi dini, terapi, nutrisi, dan edukasi berkelanjutan dalam suatu ekosistem kesehatan. 

Menurut Mulialie, penanganan diabetes membutuhkan solusi yang menyeluruh, tidak hanya berfokus pada terapi, tetapi juga edukasi dan pencegahan. Langkah ini juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang menekankan pentingnya kolaborasi dalam mendukung pengendalian penyakit tidak menular. 

“Kalbe secara konsisten mendukung perluasan akses kesehatan, peningkatan kemandirian dan ketahanan kesehatan di Indonesia. Penanganan diabetes tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, industri, dan masyarakat. Untuk itu, Kami terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan,” ujar Mulialie.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah