← Beranda
Obesitas Bukan Sekadar Soal Penampilan, Ini Penyakit Kronis yang Perlu Penanganan Serius
Nanda PrayogaSabtu, 11 April 2026 | 02.01 WIB
Ilustrasi obesitas. (Pinterest)

 

JawaPos.com - Obesitas kerap dipandang sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup, padahal secara medis kondisi ini termasuk penyakit kronis yang kompleks.

Memahami obesitas sebagai penyakit menjadi langkah krusial untuk mengubah pendekatan penanganannya. Bukan lagi sekadar diet atau olahraga sesaat, melainkan intervensi menyeluruh yang mencakup aspek metabolisme, nutrisi, perilaku, hingga dukungan medis yang terukur dan berkelanjutan.

Dengan perspektif yang tepat, penanganan obesitas dapat dilakukan lebih dini dan efektif, sehingga risiko komplikasi dapat ditekan. Selain itu, kesadaran ini juga membantu mengurangi stigma terhadap penderita obesitas, sekaligus mendorong hadirnya sistem layanan kesehatan yang lebih komprehensif dan berbasis bukti.

Febrina Fajria, koordinator tim medis Sirka, menekankan, bahwa pemahaman obesitas sebagai penyakit merupakan dasar utama dalam seluruh pendekatan yang dijalankan.

“Obesitas bukan sekadar masalah penampilan atau kurangnya disiplin. Ini adalah kondisi medis kronis yang menyebabkan gangguan metabolik kompleks serta meningkatkan risiko diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung koroner, hingga beberapa jenis kanker,” kata Febrina dalam keterangannya, Jumat (10/4).

Baca Juga: Tak Banyak Yang Tahu, 11 Kebiasaan Kebersihan Yang Bikin Bau Badan Makin Menyengat

“Yang sering kami temukan di lapangan, banyak pasien baru datang ketika komplikasi sudah mulai muncul. Penanganan yang efektif harus dimulai lebih awal, bersifat menyeluruh, dan didukung oleh tim medis yang benar-benar memahami interaksi antara metabolisme, nutrisi, dan gaya hidup pasien,” imbuhnya.

Sementara itu, di tengah meningkatnya angka obesitas dan penyakit metabolik di Indonesia, Sirka memiliki pendekatan perawatan yang mengintegrasikan teknologi digital di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Sebagai klinik metabolik pertama di Indonesia, Sirka memandang obesitas dan gangguan metabolik sebagai kondisi medis yang memerlukan penanganan menyeluruh dan berkelanjutan. Metode yang diterapkan pun menggabungkan perubahan gaya hidup yang terarah dengan terapi obat berbasis bukti ilmiah, guna menghasilkan perbaikan klinis yang aman serta terukur.

Co-Founder dan CEO Sirka, Rifanditto Adhikara, menegaskan bahwa seluruh keputusan medis pada metode ini mengikuti protokol klinis yang ketat, bukan sekadar preferensi.

Setiap pasien menjalani evaluasi komprehensif, mulai dari analisis komposisi tubuh hingga pemeriksaan panel metabolik. Hasil asesmen ini menjadi dasar dalam menentukan intervensi yang paling sesuai, dengan perubahan gaya hidup sebagai fondasi utama dan terapi farmakologis sebagai pendukung bila diperlukan.

“Platform digital ini bukan sekadar aplikasi pencatat kalori atau buku harian kesehatan. Ini adalah sistem yang menghubungkan pasien dengan tim medis secara langsung dan berkelanjutan,” ujar Rifanditto.

Baca Juga: Sabtu, 11 April 2026 Jadi Hari Penuh Peluang: 6 Zodiak Ini Diprediksi Kebanjiran Keberuntungan

Melalui sistem tersebut, pasien dapat melaporkan perkembangan harian, berkonsultasi, hingga mendapatkan penyesuaian terapi secara real-time tanpa harus menunggu jadwal kunjungan berikutnya. Pendekatan ini menciptakan continuum of care, sehingga proses perawatan tetap berjalan meskipun pasien tidak berada di fasilitas klinik.

Implementasi berbasis data ini tercermin dari capaian yang terukur. Data internal menunjukkan sekitar 90 persen pasien mengalami penurunan berat badan signifikan, 37 persen mengalami penurunan kadar kolesterol, serta 57 persen mengalami penurunan tekanan darah.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan terapi tidak hanya dilihat dari penurunan berat badan, tetapi juga dari perbaikan indikator metabolik secara keseluruhan.

EDITOR: Sabik Aji Taufan