JawaPos.com – Meninggalnya seorang dokter internship di Cipanas, Kabupaten Cianjur, yang diduga akibat campak dengan komplikasi pneumonia memicu sorotan terhadap pentingnya vaksinasi campak. Khususnya bagi tenaga kesehatan.
Seorang dokter muda berinisial AMW, 26, dilaporkan meninggal dunia pada 26 Maret 2026 setelah mengalami gejala berat yang mengarah pada infeksi campak.
Peristiwa ini memunculkan keprihatinan mendalam, sekaligus menjadi pengingat bahwa penyakit campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga berisiko fatal pada orang dewasa.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, menyampaikan bahwa kasus ini menjadi peringatan pentingnya vaksinasi campak untuk orang dewasa, khususnya nakes.
Baca Juga: Dokter Internship di Cianjur Disebut Meninggal karena Campak, Dinkes Tunggu Hasil Lab
"Prioritas vaksinasi campak pada dewasa antara lain pada petugas kesehatan, ini perlu jadi perhatian pemerintah," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (28/4).
Terkait vaksinasi ini, Prof. Tjandra menjelaskan, Centers for Disease Control and Prevention menyebutkan bahwa orang dewasa tetap memerlukan vaksin campak, terutama bagi kelompok berisiko tinggi seperti tenaga kesehatan.
Dalam rekomendasinya, vaksin campak dapat diberikan satu dosis atau dua dosis dalam kondisi tertentu, tergantung faktor risiko.
Menurut dia, ada sejumlah hal penting yang perlu menjadi perhatian. Pertama, campak pada orang dewasa yang disertai pneumonia merupakan kondisi serius yang dapat berujung fatal.
Pneumonia sendiri di kalangan medis sudah jamak diketahui menjadi penyebab utama kematian pada kasus infeksi campak berat.
Baca Juga: Bercak Koplik jadi Ciri Khas Campak, Ketahui Gejala lainnya serta Cara Pencegahannya
Kedua, tingkat keparahan penyakit biasanya ditandai dengan gejala seperti demam tinggi, peradangan paru, hingga gagal napas.
Kondisi ini membutuhkan penanganan intensif karena dapat memburuk dengan cepat.
Ketiga, pengobatan campak pada dasarnya bersifat suportif, seperti pemberian oksigen dan vitamin A dosis tinggi.
Sementara penggunaan obat antivirus seperti Ribavirin masih belum memiliki dasar ilmiah yang kuat untuk dijadikan terapi standar.
Prof. Tjandra menegaskan bahwa kasus meninggalnya dokter internship diduga karena campak ini menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap tenaga kesehatan perlu diperkuat.
Baca Juga: Kemenkes Sebut Kasus Campak Sudah Menurun Sejak Akhir Januari, Tapi Masih Ada 8.716 Kasus
Termasuk melalui kebijakan vaksinasi yang lebih optimal. Hal ini dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
“Kita amat sedih dan berduka dengan wafatnya sejawat dokter di usia yang amat muda ini. Penyakit campak masih menjadi masalah kesehatan penting di negara kita,” pungkasnya.