← Beranda
Campak di Indonesia Sebabkan 73 Kematian Sejak 2025, Ini 6 Langkah Pencegahannya Menurut IDAI
Tazkia Royyan HikmatiarRabu, 11 Maret 2026 | 04.17 WIB
Ilustrasi anak terkena campak. (dok. JawaPos.com)

JawaPos.com - Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai peningkatan kasus campak di Indonesia.

Organisasi profesi dokter anak itu juga menyerukan setidaknya 6 langkah untuk melindungi anak-anak dari penyakit menular tersebut.

Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso menegaskan bahwa meningkatnya kasus campak membutuhkan respons cepat dari seluruh pemangku kepentingan.

“Kita harus bertindak cepat untuk melindungi anak-anak Indonesia. Imunisasi adalah hak dasar anak dan kewajiban kita untuk memastikan setiap anak terlindungi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (10/3).

Baca Juga: Inilah 5 Gejala Umum Campak yang Perlu Anda Waspadai

Data IDAI mencatat sepanjang 2025 terdapat 63.769 kasus suspek campak di Indonesia dengan 11.094 kasus terkonfirmasi dan 69 kematian.

Hingga minggu ke-7 tahun 2026, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, serta empat kematian.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) yang dirilis CDC pada Februari 2026, Indonesia bahkan menempati peringkat kedua negara dengan kasus campak tertinggi di dunia dengan 10.744 kasus, berada di bawah Yaman dan di atas India.

Ketua Satgas Imunisasi IDAI Hartono Gunardi mengatakan pandemi COVID-19 sebelumnya menyebabkan gangguan besar terhadap layanan imunisasi rutin sehingga banyak anak tidak mendapatkan vaksin sesuai jadwal.

"Yang perlu dipahami adalah bahwa imunisasi campak rubella aman dan efektif. Isu-isu tentang keamanan vaksin yang beredar di masyarakat tidak berdasar secara ilmiah. Vaksin MR yang digunakan di Indonesia telah melalui proses evaluasi ketat dan mendapatkan izin edar dari BPOM. Kami mengajak masyarakat untuk tidak ragu membawa anaknya imunisasi. Jika ada pertanyaan atau keraguan, silakan konsultasikan dengan tenaga kesehatan terpercaya," paparnya.

Baca Juga: IDAI Ingatkan Campak Bukan Penyakit Ringan, Berisiko Komplikasi Serius

Selain imunisasi, IDAI juga menekankan pentingnya tata laksana pasien serta pengendalian infeksi yang tepat untuk mencegah penularan.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI Edi Hartoyo menjelaskan bahwa penanganan campak bersifat suportif karena belum tersedia antivirus khusus.

Dalam menangani campak, tata laksana bersifat suportif dan simptomatik karena belum ada antivirus spesifik.

Namun ada satu intervensi yang sangat penting dan terbukti menurunkan angka kematian hingga 50%, yaitu pemberian vitamin A sesuai rekomendasi WHO.

“Dosisnya adalah 50.000 unit untuk bayi di bawah 6 bulan, 100.000 unit untuk usia 6 bulan sampai 1 tahun, dan 200.000 unit untuk anak di atas 1 tahun, diberikan selama 2 hari berturut-turut. Untuk anak dengan gizi buruk atau komplikasi mata, dosis tambahan diberikan pada 2 minggu berikutnya," tuturnya.

Baca Juga: 3 Fase Gejala yang Harus Diwaspadai saat Terkena Campak

Selain itu, Edi menerangkan bahwa isolasi pasien sangat penting untuk mencegah penularan. Pasien campak menularkan virus sejak 4 hari sebelum hingga 4 hari setelah ruam muncul.

Di rumah sakit, pasien harus dirawat di ruang isolasi airborne dengan ventilasi baik, dan petugas kesehatan harus menggunakan alat pelindung diri yang sesuai.

Berikut Enam Langkah Pencegahan Campak Menurut IDAI

1. Kejar imunisasi

Melengkapi imunisasi rutin yang tertinggal terutama vaksin campak rubela bagi anak usia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun.

Tenaga kesehatan juga perlu dipastikan telah menerima imunisasi MR atau MMR lengkap.

Baca Juga: Rubella Bukan Campak Biasa! Kenali Gejala, Bahaya Terbesarnya pada Ibu Hamil, dan Cara Mencegahnya

2. Penguatan kapasitas laboratorium

Meningkatkan fasilitas laboratorium diagnostik campak dan rubella untuk mendukung surveilans, serta penegakan diagnosis melalui pemeriksaan seperti deteksi IgM campak dan PCR RNA virus campak.

3. Penguatan tata laksana kasus

Penanganan campak bersifat suportif. Meliputi istirahat cukup, pemenuhan nutrisi dan cairan, pemberian vitamin A sesuai rekomendasi WHO, serta isolasi pasien untuk mencegah penularan.

4. Pengendalian infeksi dan isolasi di fasilitas kesehatan

Pasien yang dicurigai campak perlu diisolasi hingga empat hari setelah ruam muncul. Rumah sakit juga diminta menerapkan kewaspadaan standar dan airborne untuk mencegah penularan.

5. Peningkatan surveilans penyakit

Dokter anak diminta meningkatkan pelaporan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), khususnya campak dan rubella, kepada dinas kesehatan melalui sistem pelaporan berbasis kasus.

6. Edukasi dan komunikasi kepada masyarakat

Tenaga kesehatan didorong aktif memberikan edukasi mengenai bahaya campak dan komplikasinya, baik melalui pelayanan kesehatan maupun media sosial.

Baca Juga: Waspada Campak! Ini Gejala, Penyebab, dan Cara Penanganannya

EDITOR: Bayu Putra