← Beranda
Bukan Hanya Dehidrasi, Ini Fakta di Balik Perubahan Warna Urine
Zalfa Hanifatul WafaMinggu, 14 September 2025 | 15.40 WIB
Ilustrasi perbedaan warna urine. (Freepik)

JawaPos.com - Kamu mungkin pernah memperhatikan urine kadang tampak lebih pekat daripada biasanya, terutama di pagi hari atau setelah aktivitas berat. Namun, tahukah kamu bahwa perubahan warna urine tidak hanya sebatas kuning pekat atau jernih saja. Faktanya, urine dapat menampilkan berbagai perubahan warna yang disebabkan oleh berbagai kondisi kesehatan yang mungkin perlu mendapat perhatian lebih.

Urine atau air seni sebenarnya merupakan produk limbah yang dihasilkan oleh ginjal melalui proses penyaringan darah. Ketika kondisi normal, urine memiliki warna kuning muda atau kuning jerami yang berasal dari pigmen urochrome. Konsentrasi pigmen ini juga dapat berubah tergantung pada tingkat hidrasi tubuh, konsumsi makanan tertentu, obat-obatan, dan kondisi kesehatan seseorang.

Untuk itu, Hello Sehat memberikan penjelasan terkait perubahan warna urine. Setiap perubahan warna bisa menjadi indikasi tentang kondisi kesehatan individu, mulai dari dehidrasi ringan hingga gangguan fungsi organ.

1. Kuning Pekat

Urine yang berwarna kuning pekat umumnya mengindikasi dehidrasi ringan hingga sedang, di mana tubuh kekurangan cairan sehingga konsentrasi pigmen urochrome meningkat.

Selain itu, warna kuning pekat juga dapat disebabkan oleh konsumsi antibiotik tertentu yang mengubah komposisi kimia urine. Adapun dalam beberapa kasus, kondisi medis seperti klamidia atau gangguan fungsi hati juga dapat menyebabkan urine tampak lebih pekat dari biasanya.

2. Merah Muda atau Merah

Urine berwarna merah muda hingga merah biasanya terjadi karena adanya darah yang tercampur dalam urine. Meskipun terlihat mengerikan dan mengkhawatirkan, penyebab munculnya darah dalam urine tidak selalu serius dan dapat berasal dari berbagai kondisi.

Kondisi seperti infeksi saluran kemih, batu ginjal, atau batu kandung kemih dapat menjadi salah satu penyebabnya. Namun, kondisi ini masih dapat diatasi dengan pengobatan yang tepat.

Walaupun begitu, tetap ada beberapa kasus di mana darah dalam urine menjadi indikasi pembesaran prostat atau bahkan tumor, sehingga memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut.

3. Oranye

Urine yang berwarna oranye seringkali berkaitan dengan konsumsi obat-obatan tertentu. Obat antiinflamasi seperti phenazopyridine dan sulfasalazine, obat pencahar, serta obat kemoterapi dapat mengubah warna urine menjadi oranye.

Selain faktor obat-obatan, warna oranye juga dapat menjadi indikasi adanya gangguan fungsi hati atau dehidrasi yang sudah cukup parah.

4. Cokelat Gelap

Urine yang berwarna cokelat gelap merupakan tanda bahaya yang mengindikasikan dehidrasi dengan tingkat yang sangat parah. Kondisi ini terjadi ketika kandungan air dalam urine sangat sedikit, sehingga konsentrasi pigmen pewarna urine menjadi sangat tinggi.

Selain itu, adapun kondisi lain yang menyebabkan warna urine menjadi cokelat gelap, seperti gagal ginjal, cedera otot, dan mengonsumsi obat antimalaria seperti chloroquine dan primaquine.

5. Biru atau Hijau

Urine berwarna biru atau hijau biasanya disebabkan oleh konsumsi makanan atau minuman yang mengandung pewarna buatan. Selain itu, prosedur tes media untuk fungsi ginjal dan kandung kemih juga menggunakan zat pewarna yang dapat mengubah warna urine sementara.

Adapun beberapa jenis obat-obatan seperti amitriptyline, indomethacin, dan propofol yang dapat menyebabkan perubahan warna urine menjadi biru kehijauan.

6. Keruh

Urine yang tampak keruh biasanya merupakan indikasi dehidrasi ringan yang mana masih bisa diatasi dengan meningkatkan jumlah asupan cairan. Namun, jika urine keruh disertai dengan sensasi nyeri atau panas saat buang air kecil, maka kondisi ini merupakan indikasi adanya masalah kesehatan yang lebih serius.

Gejala tersebut merupakan tanda infeksi menular seksual, infeksi saluran kemih, atau bahkan batu ginjal yang memerlukan penangan medis.

Walaupun perubahan warna urine kebanyakan disebabkan oleh kurangnya asupan cairan, makanan, atau obat-obatan, tetap ada beberapa faktor lainnya. Mayo Clinic turut menjelaskan adanya faktor seperti usia, riwayat keluar, serta aktivitas fisik yang berat juga dapat meningkatkan risiko kemungkinan seseorang mengalami perubahan warna urine.

Usia menjadi salah satu faktor utama karena tumor kandung kemih dan ginjal yang dapat menyebabkan darah dalam urine biasanya lebih sering terjadi pada orang lanjut usia. Selain itu, pria berusia di atas 50 tahun juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami darah dalam urine akibat pembesaran kelenjar prostat.

Adapun riwayat keluarga yang memainkan peran penting dalam menentukan risiko seseorang mengalami perubahan warna urine. Jika ada anggota keluarga dekat seperti orang tua, saudara kandung, atau kakek nenek yang memiliki riwayat penyakit ginjal atau batu ginjal, maka risiko kamu mengalami kondisi serupa juga meningkat.

Tidak hanya itu, aktivitas fisik yang berat seperti lari jarak jauh juga dapat meningkatkan risiko munculnya darah dalam urine. Meskipun kondisi ini paling sering terjadi pada pelari maraton, tetapi siapa pun yang melakukan olahraga berat dapat mengalami kondisi ini.

Walaupun kebanyakan perubahan warna urine tidak berbahaya, kamu harus tetap lebih peduli dengan kondisi tubuh. Oleh karena itu, jika kamu mengalami perubahan warna urine yang disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, sebaiknya segeralah berkonsultasi dengan tenaga medis. (*)

EDITOR: Siti Nur Qasanah