JawaPos.com - Psikologi menjelaskan bahwa tumbuh sebagai anak tunggal membawa pengalaman unik yang membentuk cara seseorang berperilaku.
Pengalaman tersebut turut memengaruhi cara mereka berinteraksi serta memandang dunia di sekitarnya saat dewasa.
Meski ciri-cirinya terkadang halus, sejumlah tanda tertentu dapat mengungkap latar belakang masa kecil tanpa saudara kandung.
Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (26/9), berikut sembilan ciri khas yang biasa dimiliki orang yang tumbuh sebagai anak tunggal dalam keluarganya.
Baca Juga: 7 Alasan Anak Perlu Lebih Banyak Bermain dan Lebih Sedikit Kegiatan Terstruktur Menurut Psikologi
1. Menikmati waktu sendiri tanpa merasa kesepian
Anak tunggal terbiasa menghabiskan waktu sendirian karena tidak memiliki saudara untuk diajak bermain.
Pengalaman awal dengan kesendirian ini membuat mereka lebih nyaman berada sendiri saat dewasa.
Baik menikmati malam tenang di rumah maupun mengerjakan proyek sendiri, mereka tetap merasa nyaman.
Rasa puas terhadap kebersamaan dengan diri sendiri menjadi ciri khas utama dari pengalaman anak tunggal.
2. Memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik
Salah satu ciri menonjol anak tunggal adalah kemudahan mereka berinteraksi dengan orang dewasa.
Karena lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tua, keterampilan komunikasi mereka berkembang melebihi teman sebayanya.
Sebuah penelitian menemukan bahwa anak tunggal memiliki keunggulan ketika berbicara dengan orang dewasa di sekitarnya.
Peneliti menduga hal ini berkaitan dengan akses sosial dan pendidikan yang lebih luas dalam keluarganya.
3. Berbagi menjadi hal yang terasa cukup menantang
Ketika diminta memotong kue ulang tahun, anak tunggal sering kesulitan membaginya secara merata.
Mereka mungkin tidak langsung mengenali potongan yang lebih besar atau ragu menentukan bagian yang tepat.
Tanpa saudara kandung, mereka tidak memiliki latihan membagi atau bernegosiasi soal makanan bersama.
Orang tua perlu mengisi peran tersebut dengan memberikan contoh agar keterampilan berbagi dapat dipelajari anak.
4. Kesulitan menyelesaikan konflik dengan orang lain
Banyak anak tunggal mengalami dinamika yang berbeda ketika harus menghadapi sebuah konflik.
Tanpa saudara di rumah, mereka jarang terpapar perselisihan kecil yang mengajarkan cara mengelola ketegangan.
Mereka hanya terbiasa melihat perselisihan besar sehingga menganggap semua konflik selalu berlangsung seperti itu.
Penelitian menunjukkan anak tunggal lebih kesulitan menghadapi lingkungan kompetitif bersama teman-teman sebayanya.
5. Terbiasa makan dengan tempo yang lebih lambat
Anak tunggal cenderung makan lebih lambat dibanding teman-teman sebayanya saat berada di meja makan.
Tanpa tekanan harus buru-buru menghabiskan makanan, gaya makan mereka berkembang menjadi lebih santai.
Mereka dapat benar-benar menikmati makanan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk menghabiskannya.
Penelitian menemukan bahwa ketiadaan kompetisi di meja makan menghasilkan pola makan yang jauh lebih santai.
6. Kesulitan dalam kemampuan menyelesaikan masalah
Ketiadaan saudara kandung membuat anak tunggal kurang berpengalaman dengan permainan fisik yang cukup kasar.
Permainan kasar semacam ini sebenarnya mengajarkan berbagai keterampilan, termasuk penyelesaian masalah dan kesadaran diri.
Anak tunggal sering terlihat menghindar atau tampak kaku dalam situasi yang melibatkan permainan fisik.
Menurut terapis berlisensi, permainan kasar sebenarnya mendorong ekspresi emosional yang sehat bagi anak-anak.
7. Lebih suka menghabiskan waktu bersama orang dewasa
Anak tunggal cenderung mendekat kepada orang dewasa karena terbiasa berada di lingkungan orang dewasa.
Kecenderungan ini sering terbawa hingga dewasa sehingga mereka lebih mudah terhubung dengan orang yang lebih tua.
Kemampuan berbicara secara nyaman dengan orang dewasa membuat mereka terlihat lebih matang dari usianya.
Meski demikian, kecenderungan ini tidak berlaku bagi semua anak tunggal karena setiap anak tetap unik.
8. Tidak memberi tahu ketika meninggalkan ruangan
Kebiasaan ini terlihat sepele, namun menjadi indikator kuat tentang cara seseorang dibesarkan sejak kecil.
Anak tunggal terbiasa memiliki ruang untuk dirinya sendiri sehingga tidak merasa perlu memberi tahu keberadaannya.
Mereka sering meninggalkan ruangan tanpa berkata apa pun karena tidak dibiasakan berkomunikasi soal pergerakannya.
Sebaliknya, anak dengan saudara kandung biasanya terbiasa memberi tahu ketika akan meninggalkan suatu ruangan.
9. Terkadang menunjukkan sikap yang cukup melekat
Anak tunggal terkadang menunjukkan sikap ekstrem dalam menjalani hubungan dengan orang di sekitarnya.
Mereka bisa menjadi sangat dekat dengan orang tua atau teman demi memenuhi kebutuhan koneksi tersebut.
Menurut psikolog klinis, fase melekat ini tidak perlu dikhawatirkan selama orang tua mengajarkan kemandirian.
Sebaliknya, sebagian anak tunggal justru tumbuh menjadi sangat mandiri karena terbiasa melakukan segalanya sendiri.
JawaPos.com - Psikologi menjelaskan bahwa tumbuh sebagai anak tunggal membawa pengalaman unik yang membentuk cara seseorang berperilaku.
Pengalaman tersebut turut memengaruhi cara mereka berinteraksi serta memandang dunia di sekitarnya saat dewasa.
Meski ciri-cirinya terkadang halus, sejumlah tanda tertentu dapat mengungkap latar belakang masa kecil tanpa saudara kandung.
Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (26/9), berikut sembilan ciri khas yang biasa dimiliki orang yang tumbuh sebagai anak tunggal dalam keluarganya.
1. Menikmati waktu sendiri tanpa merasa kesepian
Anak tunggal terbiasa menghabiskan waktu sendirian karena tidak memiliki saudara untuk diajak bermain.
Pengalaman awal dengan kesendirian ini membuat mereka lebih nyaman berada sendiri saat dewasa.
Baik menikmati malam tenang di rumah maupun mengerjakan proyek sendiri, mereka tetap merasa nyaman.
Rasa puas terhadap kebersamaan dengan diri sendiri menjadi ciri khas utama dari pengalaman anak tunggal.
2. Memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik
Salah satu ciri menonjol anak tunggal adalah kemudahan mereka berinteraksi dengan orang dewasa.
Karena lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tua, keterampilan komunikasi mereka berkembang melebihi teman sebayanya.
Sebuah penelitian menemukan bahwa anak tunggal memiliki keunggulan ketika berbicara dengan orang dewasa di sekitarnya.
Peneliti menduga hal ini berkaitan dengan akses sosial dan pendidikan yang lebih luas dalam keluarganya.
3. Berbagi menjadi hal yang terasa cukup menantang
Ketika diminta memotong kue ulang tahun, anak tunggal sering kesulitan membaginya secara merata.
Mereka mungkin tidak langsung mengenali potongan yang lebih besar atau ragu menentukan bagian yang tepat.
Tanpa saudara kandung, mereka tidak memiliki latihan membagi atau bernegosiasi soal makanan bersama.
Orang tua perlu mengisi peran tersebut dengan memberikan contoh agar keterampilan berbagi dapat dipelajari anak.
4. Kesulitan menyelesaikan konflik dengan orang lain
Banyak anak tunggal mengalami dinamika yang berbeda ketika harus menghadapi sebuah konflik.
Tanpa saudara di rumah, mereka jarang terpapar perselisihan kecil yang mengajarkan cara mengelola ketegangan.
Mereka hanya terbiasa melihat perselisihan besar sehingga menganggap semua konflik selalu berlangsung seperti itu.
Penelitian menunjukkan anak tunggal lebih kesulitan menghadapi lingkungan kompetitif bersama teman-teman sebayanya.
5. Terbiasa makan dengan tempo yang lebih lambat
Anak tunggal cenderung makan lebih lambat dibanding teman-teman sebayanya saat berada di meja makan.
Tanpa tekanan harus buru-buru menghabiskan makanan, gaya makan mereka berkembang menjadi lebih santai.
Mereka dapat benar-benar menikmati makanan dan membutuhkan waktu lebih lama untuk menghabiskannya.
Penelitian menemukan bahwa ketiadaan kompetisi di meja makan menghasilkan pola makan yang jauh lebih santai.
6. Kesulitan dalam kemampuan menyelesaikan masalah
Ketiadaan saudara kandung membuat anak tunggal kurang berpengalaman dengan permainan fisik yang cukup kasar.
Permainan kasar semacam ini sebenarnya mengajarkan berbagai keterampilan, termasuk penyelesaian masalah dan kesadaran diri.
Anak tunggal sering terlihat menghindar atau tampak kaku dalam situasi yang melibatkan permainan fisik.
Menurut terapis berlisensi, permainan kasar sebenarnya mendorong ekspresi emosional yang sehat bagi anak-anak.
7. Lebih suka menghabiskan waktu bersama orang dewasa
Anak tunggal cenderung mendekat kepada orang dewasa karena terbiasa berada di lingkungan orang dewasa.
Kecenderungan ini sering terbawa hingga dewasa sehingga mereka lebih mudah terhubung dengan orang yang lebih tua.
Kemampuan berbicara secara nyaman dengan orang dewasa membuat mereka terlihat lebih matang dari usianya.
Meski demikian, kecenderungan ini tidak berlaku bagi semua anak tunggal karena setiap anak tetap unik.
8. Tidak memberi tahu ketika meninggalkan ruangan
Kebiasaan ini terlihat sepele, namun menjadi indikator kuat tentang cara seseorang dibesarkan sejak kecil.
Anak tunggal terbiasa memiliki ruang untuk dirinya sendiri sehingga tidak merasa perlu memberi tahu keberadaannya.
Mereka sering meninggalkan ruangan tanpa berkata apa pun karena tidak dibiasakan berkomunikasi soal pergerakannya.
Sebaliknya, anak dengan saudara kandung biasanya terbiasa memberi tahu ketika akan meninggalkan suatu ruangan.
9. Terkadang menunjukkan sikap yang cukup melekat
Anak tunggal terkadang menunjukkan sikap ekstrem dalam menjalani hubungan dengan orang di sekitarnya.
Mereka bisa menjadi sangat dekat dengan orang tua atau teman demi memenuhi kebutuhan koneksi tersebut.
Menurut psikolog klinis, fase melekat ini tidak perlu dikhawatirkan selama orang tua mengajarkan kemandirian.
Sebaliknya, sebagian anak tunggal justru tumbuh menjadi sangat mandiri karena terbiasa melakukan segalanya sendiri.