← Beranda
7 Tanda Orang yang Gemar Scrolling Larut Malam, Salah Satunya Sulit Mengontrol Diri
Mohammad Maulana Iqbal• Jumat, 25 September 2026 | 21.26 WIB
ciri kepribadian orang kecanduan scrolling hingga larut malam kata psikologi. (Freepik/ freepik)

JawaPos.com – Kebiasaan bermain ponsel sebelum tidur sering dianggap sebagai aktivitas sederhana untuk mengisi waktu luang. Namun, ketika seseorang terus menggulir media sosial hingga melewati waktu tidur, kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan berbagai faktor psikologis dan pola perilaku.

Dorongan untuk terus melihat video, membaca unggahan, mengecek notifikasi, atau mencari informasi terbaru bisa muncul karena beragam alasan. Mulai dari keinginan mendapatkan hiburan instan, kesulitan mengendalikan diri saat malam hari, hingga upaya mengalihkan perhatian dari emosi yang tidak menyenangkan.

Dilansir dari Geediting.com, terdapat sejumlah karakteristik dan pola perilaku yang kerap dikaitkan dengan orang yang terbiasa scrolling hingga larut malam. Berikut tujuh di antaranya:

Baca Juga: 8 Perilaku yang Tak Ditoleransi Orang Baik dari Teman yang Toxic, Mereka Lebih Suka Jaga Jarak Sehat

1. Lebih tertarik pada kepuasan instan

Salah satu pola yang dapat terlihat adalah kecenderungan mencari kesenangan yang bisa diperoleh dengan cepat. Saat malam tiba dan aktivitas harian mulai berkurang, membuka media sosial menjadi cara mudah untuk mendapatkan hiburan tanpa membutuhkan banyak usaha.

Video menarik, komentar, tanda suka, atau notifikasi baru dapat memberikan rangsangan yang membuat seseorang ingin terus melihat konten berikutnya. Akibatnya, muncul pola berpikir seperti, “satu video lagi,” yang akhirnya membuat waktu tidur semakin mundur.

Untuk menguranginya, seseorang dapat menetapkan batas waktu penggunaan aplikasi sebelum tidur. Notifikasi yang tidak penting juga bisa dimatikan agar tidak terus memicu keinginan membuka ponsel.

2. Sulit mengendalikan diri ketika malam tiba

Seseorang mungkin mampu mengatur aktivitas dengan baik sepanjang hari, tetapi justru kehilangan kendali ketika malam datang. Kondisi tersebut dapat membuat waktu tidur terus ditunda meski tubuh sebenarnya sudah membutuhkan istirahat.

Kebiasaan menunda tidur juga dapat berkaitan dengan durasi tidur yang lebih pendek dan rasa lelah pada keesokan harinya. Karena itu, mengandalkan kemauan semata terkadang tidak cukup.

Membuat rutinitas sebelum tidur dapat membantu. Misalnya, menentukan waktu berhenti menggunakan ponsel, mencuci muka, melakukan peregangan ringan, kemudian membaca buku selama beberapa menit.

3. Memiliki kecenderungan lebih aktif pada malam hari

Tidak semua orang mempunyai pola aktivitas dan rasa kantuk yang sama. Sebagian individu memang cenderung lebih aktif pada malam hari dan baru merasa benar-benar berenergi ketika suasana sudah sepi.

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah tergoda membuka media sosial ketika orang lain sudah tidur. Meski demikian, kecenderungan aktif pada malam hari berbeda dengan keputusan sengaja menunda tidur.

Menyesuaikan aktivitas dengan waktu ketika tubuh terasa paling produktif dapat membantu. Namun, tetap diperlukan rutinitas yang membuat tubuh perlahan bersiap memasuki waktu istirahat.

4. Menjadikan malam sebagai waktu untuk diri sendiri

Kesibukan sepanjang hari terkadang membuat seseorang merasa tidak mempunyai cukup waktu untuk melakukan hal yang disukai. Akibatnya, waktu malam dipandang sebagai kesempatan untuk menikmati hiburan secara bebas.

Keinginan mengambil kembali waktu pribadi tersebut dapat membuat seseorang sengaja menunda tidur. Media sosial kemudian menjadi salah satu pilihan paling mudah untuk mendapatkan hiburan dan merasa memiliki waktu sendiri.

Agar pola tersebut tidak berlangsung hingga dini hari, waktu untuk bersantai bisa dialokasikan lebih awal. Menyediakan waktu khusus untuk menonton, membaca, atau sekadar bersantai sebelum jam tidur dapat mengurangi dorongan untuk “mencuri waktu” pada tengah malam.

5. Mudah merasa takut tertinggal informasi

Fear of Missing Out atau FoMO juga dapat membuat seseorang sulit meletakkan ponsel. Ada kekhawatiran bahwa ketika berhenti scrolling, mungkin ada informasi, percakapan, berita, atau unggahan penting yang terlewat.

Dorongan tersebut dapat membuat seseorang terus memeriksa media sosial meski sebenarnya sudah mengantuk. Semakin banyak informasi yang dicari, semakin besar pula kemungkinan muncul rasa penasaran terhadap hal lain.

Salah satu cara mengatasinya adalah membuat daftar sederhana mengenai hal yang perlu diperiksa keesokan harinya. Dengan begitu, seseorang tidak harus menyelesaikan semua informasi pada malam yang sama.

6. Mudah terstimulasi oleh layar pada malam hari

Penggunaan ponsel menjelang tidur bukan hanya berkaitan dengan isi kontennya. Cahaya dari perangkat elektronik juga dapat memengaruhi tubuh ketika digunakan dalam waktu lama pada malam hari.

Paparan cahaya dari layar dapat mengganggu proses biologis yang berkaitan dengan rasa kantuk dan membuat seseorang lebih sulit memasuki waktu tidur. Kondisi ini semakin berpotensi terjadi ketika ponsel digunakan terus-menerus di tempat tidur.

Mengurangi tingkat kecerahan layar, mengaktifkan fitur malam, serta menjauhkan perangkat dari tempat tidur dapat menjadi langkah sederhana. Pilihan lainnya adalah mengganti aktivitas menggunakan ponsel dengan membaca buku fisik sebelum tidur.

7. Menjadikan scrolling sebagai pelarian dari emosi

Ada kalanya seseorang membuka media sosial bukan semata-mata karena ingin mencari hiburan, tetapi karena sedang berusaha menghindari perasaan tertentu. Rasa kesepian, cemas, gelisah, atau stres dapat membuat scrolling terasa seperti cara cepat untuk mengalihkan perhatian.

Masalahnya, konsumsi media sosial secara berlebihan tidak selalu membuat emosi tersebut hilang. Dalam kasus tertentu, terutama ketika seseorang terus mengonsumsi konten negatif, kondisi emosional justru dapat semakin buruk dan mengganggu waktu tidur.

Karena itu, penting untuk mengenali perasaan yang muncul sebelum membuka aplikasi. Ketika menyadari sedang gelisah atau tegang, seseorang bisa mencoba alternatif lain seperti latihan pernapasan, mandi air hangat, menulis jurnal, atau melakukan aktivitas menenangkan selama beberapa menit.

 
 
EDITOR: Setyo Adi Nugroho