← Beranda
6 Alasan Mengapa Pengkhianatan dalam Hubungan Asmara Terasa Sangat Menyakitkan Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSabtu, 19 September 2026 | 03.37 WIB
seseorang yang mengalami pengkhianatan dalam hubungan / foto: Magnific/jcomp
 
JawaPos.com - Pengkhianatan dalam hubungan asmara sering kali meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada sekadar rasa kecewa. Ketika seseorang mengetahui bahwa pasangan berbohong, berselingkuh, menyembunyikan sesuatu, atau melanggar kesepakatan yang selama ini dianggap penting, dampaknya bisa terasa sangat mengguncang.

Tidak sedikit orang yang setelah mengalami pengkhianatan bertanya-tanya, “Mengapa rasanya sesakit ini?” atau “Mengapa saya sulit sekali melupakannya, padahal kejadian itu sudah berlalu?”

Dari sudut pandang psikologi, reaksi tersebut bukan sesuatu yang aneh. Hubungan romantis bukan hanya tempat seseorang mendapatkan kasih sayang. Di dalamnya terdapat kepercayaan, rasa aman, keterikatan emosional, harapan tentang masa depan, bahkan bagian dari identitas diri seseorang.

Karena itu, ketika kepercayaan tersebut rusak, yang terluka bukan hanya perasaan terhadap pasangan. Banyak aspek psikologis sekaligus dapat ikut terguncang.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (18/9), terdapat enam alasan mengapa pengkhianatan dalam hubungan asmara dapat terasa begitu menyakitkan.

1. Pengkhianatan Menghancurkan Rasa Aman dalam Hubungan

Salah satu fungsi penting hubungan romantis adalah memberikan rasa aman secara emosional.

Ketika seseorang merasa dicintai dan dipercaya oleh pasangannya, ia biasanya memiliki tempat untuk berbagi cerita, menunjukkan kelemahan, mencari dukungan, dan menghadapi berbagai tekanan kehidupan. Pasangan dapat menjadi salah satu figur yang dianggap aman untuk didekati ketika seseorang sedang menghadapi masalah.

Pengkhianatan dapat mengganggu rasa aman tersebut secara drastis.

Misalnya, seseorang mengetahui bahwa pasangannya telah berselingkuh selama berbulan-bulan. Yang menyakitkan bukan hanya fakta bahwa pasangan memiliki hubungan dengan orang lain. Ada pertanyaan yang kemudian muncul:

“Selama ini apa yang sebenarnya terjadi?”

“Apakah semua perkataan pasangan saya selama ini bohong?”

“Apakah saya masih bisa mempercayainya?”

“Kalau dia bisa menyembunyikan hal sebesar ini, apa lagi yang tidak saya ketahui?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pengkhianatan dapat mengubah cara seseorang memandang hubungan secara keseluruhan.

Dalam psikologi, rasa aman dalam hubungan berkaitan erat dengan keterikatan emosional. Ketika seseorang merasa bahwa figur yang selama ini menjadi sumber keamanan justru menjadi sumber ancaman emosional, sistem psikologisnya dapat merespons dengan kewaspadaan yang lebih tinggi.

Akibatnya, seseorang mungkin menjadi lebih mudah curiga, terus memikirkan kejadian yang terjadi, memeriksa perilaku pasangan, atau merasa sulit tenang ketika pasangan tidak memberikan kabar.

Bahkan setelah pasangan meminta maaf, rasa aman tidak selalu langsung kembali.

Kepercayaan bukan sekadar keputusan rasional. Ia juga merupakan pengalaman emosional yang dibangun secara bertahap.

Karena itu, kalimat seperti “kan sudah dimaafkan” tidak otomatis membuat luka menghilang.

2. Otak Berusaha Memahami Sesuatu yang Tidak Sesuai dengan Kenyataan yang Selama Ini Dipercaya

Pengkhianatan sering menimbulkan benturan antara apa yang selama ini seseorang percaya dengan kenyataan yang baru diketahui.

Sebelum mengetahui pengkhianatan, seseorang mungkin memiliki gambaran tertentu tentang pasangannya.

“Dia orang yang jujur.”

“Dia mencintai saya.”

“Hubungan kami baik-baik saja.”

“Kami sedang membangun masa depan bersama.”

Namun kemudian muncul informasi yang bertentangan dengan keyakinan tersebut.

Benturan semacam ini dapat menciptakan tekanan psikologis yang kuat. Seseorang kemudian berusaha menyusun kembali cerita tentang hubungannya.

Ia mungkin mengingat kembali percakapan beberapa bulan sebelumnya.

“Mengapa waktu itu dia pulang terlambat?”

“Apakah saat itu dia sedang bersama orang lain?”

“Apakah perubahan sikapnya waktu itu sebenarnya sudah menjadi tanda?”

“Bagaimana saya tidak menyadarinya?”

Inilah salah satu alasan mengapa orang yang mengalami pengkhianatan sering melakukan apa yang disebut sebagai rumination, yaitu memikirkan kembali suatu kejadian secara berulang-ulang.

Pikiran seolah-olah mencoba menemukan jawaban yang dapat membuat seluruh cerita masuk akal.

Masalahnya, semakin seseorang mencoba menemukan penjelasan untuk setiap detail masa lalu, semakin banyak pertanyaan baru yang dapat muncul.

Akibatnya, kejadian yang sebenarnya sudah berlalu tetap terasa “hidup” di dalam pikiran.

Bukan karena orang tersebut sengaja ingin menyiksa dirinya sendiri, melainkan karena pikirannya sedang berusaha memahami perubahan besar dalam realitas yang sebelumnya ia yakini.

3. Yang Hilang Bukan Hanya Pasangan, tetapi Juga Masa Depan yang Pernah Dibayangkan

Salah satu aspek paling menyakitkan dari pengkhianatan adalah hilangnya masa depan yang sebelumnya dibayangkan.

Dalam hubungan serius, seseorang biasanya tidak hanya hidup untuk saat ini. Ia mungkin memiliki berbagai rencana bersama pasangan.

Mungkin ada impian untuk menikah.

Membangun rumah.

Memiliki anak.

Bepergian bersama.

Menjadi tua bersama.

Atau sekadar membayangkan bahwa pasangan tersebut akan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

Ketika terjadi pengkhianatan, semua bayangan tersebut dapat ikut runtuh.

Itulah sebabnya seseorang bisa merasa sangat kehilangan bahkan ketika hubungan secara teknis belum berakhir.

Ia bukan hanya sedang menghadapi pertanyaan, “Apakah saya masih mencintai orang ini?”

Tetapi juga:

“Apakah masa depan yang saya bayangkan selama ini masih mungkin terjadi?”

Dalam konteks psikologi, kehilangan seperti ini dapat menyerupai proses berduka. Seseorang mungkin berduka atas hubungan yang dulu ia kenal, kepercayaan yang telah hilang, versi pasangan yang selama ini ia percayai, dan masa depan yang sebelumnya dianggap hampir pasti.

Karena itu, jangan heran jika seseorang yang dikhianati dapat mengalami kesedihan yang sangat dalam meskipun orang lain menganggap masalahnya “hanya soal perselingkuhan”.

Bagi orang yang mengalaminya, yang hilang bisa jauh lebih besar daripada satu kejadian.

Yang hilang adalah sebuah cerita tentang kehidupan yang selama ini ia yakini.

4. Pengkhianatan Dapat Menyerang Harga Diri dan Membuat Seseorang Mempertanyakan Dirinya Sendiri

Setelah mengetahui pengkhianatan, sebagian orang tidak hanya marah kepada pasangan.

Mereka juga mulai menyalahkan diri sendiri.

“Apakah saya kurang menarik?”

“Apakah saya tidak cukup baik?”

“Apakah saya terlalu sibuk?”

“Apakah saya kurang memberikan perhatian?”

“Apakah ada yang salah dengan diri saya?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat muncul meskipun keputusan untuk berkhianat sepenuhnya merupakan tanggung jawab orang yang melakukannya.

Pengkhianatan sering kali membuat seseorang membandingkan dirinya dengan orang ketiga.

Hal ini dapat menjadi sangat menyakitkan jika orang ketiga dianggap memiliki kualitas tertentu yang tidak dimiliki oleh korban.

Misalnya, seseorang mulai membandingkan penampilan, pekerjaan, usia, kemampuan sosial, atau berbagai aspek lain dari dirinya.

Padahal, perselingkuhan tidak dapat secara sederhana dijelaskan sebagai bukti bahwa pasangan menemukan orang lain yang “lebih baik”.

Perilaku pengkhianatan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam diri pelaku dan dinamika hubungan. Namun bagi orang yang dikhianati, sangat mudah untuk mengubah peristiwa tersebut menjadi penilaian terhadap harga dirinya sendiri.

Di sinilah pentingnya membedakan antara:

“Pasangan saya melakukan sesuatu yang menyakiti saya”

dan

“Saya disakiti karena saya tidak cukup baik.”

Kedua pernyataan tersebut memiliki makna psikologis yang sangat berbeda.

Yang pertama menggambarkan tindakan seseorang.

Yang kedua merupakan kesimpulan negatif tentang diri sendiri.

Jika kesimpulan kedua terus berkembang, luka emosional dapat menjadi lebih panjang karena seseorang tidak hanya berusaha memproses pengkhianatan, tetapi juga berusaha memulihkan cara ia memandang dirinya sendiri.

5. Pengkhianatan Membuat Kepercayaan terhadap Orang Lain Ikut Dipertanyakan

Salah satu dampak pengkhianatan yang sering tidak disadari adalah meluasnya rasa tidak percaya.

Awalnya, masalah mungkin hanya berkaitan dengan satu pasangan.

Namun kemudian muncul generalisasi:

“Kalau pasangan saya saja bisa berbohong, bagaimana saya bisa mempercayai orang lain?”

Seseorang mungkin menjadi lebih sulit percaya kepada pasangan berikutnya.

Ketika orang baru terlambat membalas pesan, muncul kecurigaan.

Ketika pasangan baru terlihat dekat dengan seseorang, muncul kecemasan.

Ketika ada perubahan kecil dalam perilaku, pikiran langsung menghubungkannya dengan kemungkinan pengkhianatan.

Pengalaman masa lalu akhirnya menjadi semacam “alarm” yang terus menyala.

Secara psikologis, hal tersebut dapat dipahami sebagai bentuk kewaspadaan terhadap kemungkinan ancaman yang pernah dialami sebelumnya.

Masalahnya, pasangan baru tidak selalu sama dengan pasangan sebelumnya.

Namun otak manusia dapat belajar dari pengalaman negatif. Jika suatu situasi tertentu pernah diikuti oleh rasa sakit yang besar, situasi serupa di masa depan dapat memicu kewaspadaan.

Inilah mengapa seseorang yang pernah dikhianati mungkin membutuhkan waktu untuk kembali merasa aman dalam hubungan baru.

Kepercayaan tidak selalu kembali hanya karena seseorang bertemu dengan pasangan yang baik.

Ia perlu dibangun melalui pengalaman yang konsisten.

6. Pengkhianatan Mengubah Cara Seseorang Melihat Masa Lalu

Ini adalah salah satu aspek yang membuat pengkhianatan terasa sangat unik dan menyakitkan.

Ketika seseorang mengetahui bahwa pasangan telah berbohong, masa lalu yang sebelumnya terasa indah dapat tiba-tiba memiliki makna baru.

Foto-foto lama mungkin tidak lagi terasa sama.

Pesan romantis dari beberapa bulan lalu bisa dibaca dengan kecurigaan.

Kenangan tentang liburan bersama dapat membuat seseorang bertanya-tanya apakah pasangan saat itu benar-benar bahagia.

Bahkan momen yang sebelumnya dianggap sebagai bukti cinta dapat dipertanyakan kembali.

“Apakah dia benar-benar mencintai saya saat itu?”

Pertanyaan tersebut sangat berat karena tidak ada cara mudah untuk kembali ke masa lalu dan mendapatkan kepastian.

Akibatnya, seseorang bisa mengalami semacam konflik antara dua versi cerita.

Versi pertama mengatakan:

“Kami pernah memiliki hubungan yang indah.”

Versi kedua mengatakan:

“Ternyata ada kebohongan yang saya tidak ketahui.”

Keduanya dapat terasa benar pada saat yang sama.

Hubungan tersebut mungkin memang pernah memiliki momen yang tulus, tetapi pada saat yang sama juga terdapat perilaku yang melanggar kepercayaan.

Menerima kenyataan yang kompleks seperti ini merupakan bagian penting dari proses pemulihan.

Tidak semua kenangan indah harus dianggap palsu hanya karena hubungan akhirnya mengalami pengkhianatan.

Demikian pula, seseorang tidak harus menghapus seluruh kebaikan yang pernah terjadi hanya untuk mengakui bahwa dirinya telah disakiti.

Mengapa Luka Pengkhianatan Bisa Bertahan Lama?

Salah satu kesalahpahaman yang umum adalah menganggap bahwa rasa sakit seharusnya hilang begitu seseorang mengetahui kebenaran atau menerima permintaan maaf.

Padahal, proses psikologis tidak bekerja sesederhana itu.

Luka emosional dapat bertahan karena beberapa hal terjadi sekaligus: kehilangan rasa aman, hilangnya kepercayaan, perubahan pandangan terhadap masa lalu, kecemasan mengenai masa depan, dan pertanyaan tentang harga diri.

Selain itu, proses pemulihan setiap orang berbeda.

Ada orang yang mampu menerima kenyataan dengan relatif cepat. Ada pula yang membutuhkan waktu jauh lebih lama.

Keduanya tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang lemah atau terlalu sensitif.

Pemulihan emosional memang membutuhkan proses.

Yang penting adalah seseorang tidak terus-menerus terjebak dalam pola yang membuat dirinya semakin terluka.

Pengkhianatan Tidak Selalu Berarti Hubungan Harus Berakhir, tetapi Kepercayaan Harus Dibangun Kembali

Dalam beberapa hubungan, pasangan memilih berpisah setelah pengkhianatan.

Dalam hubungan lain, pasangan memilih mencoba memperbaiki hubungan.

Tidak ada satu respons yang berlaku untuk semua orang.

Namun jika sebuah hubungan ingin dilanjutkan setelah pengkhianatan, salah satu tantangan terbesar adalah membangun kembali kepercayaan.

Permintaan maaf dapat menjadi awal, tetapi biasanya bukan akhir dari proses.

Kepercayaan lebih banyak dibangun melalui perilaku yang konsisten dari waktu ke waktu.

Keterbukaan, kejujuran, kesediaan bertanggung jawab, penghormatan terhadap batasan, dan perubahan perilaku dapat menjadi bagian dari proses tersebut.

Di sisi lain, orang yang terluka juga membutuhkan ruang untuk memproses emosinya.

Memaksa seseorang untuk “segera move on” justru dapat membuat pengalaman emosionalnya terasa tidak valid.

Penutup

Pengkhianatan dalam hubungan asmara terasa sangat menyakitkan bukan semata-mata karena seseorang mengetahui bahwa pasangannya melakukan sesuatu yang salah.

Rasa sakit tersebut dapat muncul karena pengkhianatan menyentuh berbagai kebutuhan psikologis yang sangat mendasar: rasa aman, kepercayaan, keterikatan, harga diri, dan harapan mengenai masa depan.

Enam alasan tersebut menunjukkan mengapa dampak pengkhianatan bisa jauh lebih kompleks daripada sekadar rasa marah atau cemburu.

Seseorang mungkin sedang berusaha menerima kenyataan baru, memahami masa lalu, menghadapi kehilangan, sekaligus membangun kembali rasa aman dalam dirinya.

Karena itu, proses penyembuhan tidak harus berlangsung dengan cepat.

Terkadang, langkah pertama bukan melupakan apa yang terjadi, melainkan memahami bahwa rasa sakit yang muncul memiliki alasan psikologis.

Dan dari pemahaman tersebut, seseorang dapat mulai menentukan apa yang sebenarnya ia butuhkan: memperbaiki hubungan, mengambil jarak, mengakhiri hubungan, atau terlebih dahulu memulihkan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, pengkhianatan mungkin mengubah cara seseorang memandang sebuah hubungan. Namun pengalaman tersebut tidak harus menentukan seluruh nilai dirinya.

Seseorang dapat kehilangan kepercayaan kepada orang lain untuk sementara waktu tanpa kehilangan kemampuan untuk mempercayai kembali.

Ia dapat kehilangan sebuah hubungan tanpa kehilangan masa depannya.

Dan ia dapat terluka sangat dalam tanpa berarti dirinya tidak akan pulih.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho