JawaPos.com - Tidur berlebihan sering menjadi cara seseorang menghindari kenyataan sulit yang sedang dihadapinya dalam kehidupan.
Tidur memang penting saat tubuh lelah, namun menjadi masalah ketika dijadikan pelarian dari tekanan hidup.
Kebiasaan tidur berlebihan yang terus berulang bisa menjadi tanda bahwa seseorang membutuhkan cara mengatasi masalah yang lebih sehat.
Dilansir dari laman YourTango pada Kamis (17/9), berikut delapan kondisi psikologi tersembunyi yang biasa mendorong seseorang tidur berlebihan sebagai cara menghindari kenyataan.
1. Pengalaman yang menyakitkan secara emosional
Menghadapi perpisahan atau kehilangan pekerjaan sering memicu tubuh merespons dengan menutup diri sepenuhnya.
Terdapat kaitan kuat antara depresi dengan kebiasaan tidur berlebihan yang dialami sebagian orang.
Sebagian penderita depresi memilih menghabiskan lebih banyak waktu di tempat tidur akibat masalah emosional yang kompleks.
Seseorang mungkin tidak menyadari dirinya sedang mengalami depresi karena tubuhnya justru memberi sinyal lewat tidur berlebihan.
2. Tekanan dan kelelahan akibat stres berkepanjangan
Stres dan kelelahan berkepanjangan dapat berkembang menjadi kondisi kelelahan kronis yang sulit disembuhkan.
Seseorang bisa begitu terbebani oleh masalahnya hingga merasa lelah tanpa menyadari penyebab sebenarnya.
Tubuh yang sedang stres mengalami kesulitan memasuki fase tidur nyenyak sehingga membuat seseorang mudah mengantuk.
Stres juga dapat mengganggu proses tidur, membuat seseorang berbaring lebih lama demi mengganti waktu tidur yang hilang.
3. Rasa tidak aman dan pandangan negatif terhadap diri
Rasa percaya diri yang rendah dapat memicu dua jenis respons tidur yang berbeda pada seseorang.
Sebagian orang mengalami tidur terputus yang justru membuat mereka merasa semakin pesimis saat terbangun.
Sebagian lainnya kesulitan bangun karena rasa tidak cukup baik membuat mereka enggan bertemu orang lain.
Mereka lebih memilih tetap di tempat tidur sebagai cara menghindari situasi sosial yang membuatnya tidak nyaman.
4. Perasaan duka dan kehilangan yang belum terselesaikan
Menjalani hidup terasa berat ketika seseorang sedang menghadapi kehilangan besar dalam hidupnya.
Duka memengaruhi setiap orang secara berbeda, namun bagi sebagian orang, energinya benar-benar terkuras habis.
Tubuh kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan besar yang muncul akibat rasa kehilangan tersebut.
Kehilangan seseorang atau sesuatu dapat mengubah hidup secara drastis, terlihat lewat kebiasaan tidur berlebihan.
5. Perasaan kesepian yang mendalam
Seseorang yang sedang berjuang sering memilih tetap berada di tempat tidur untuk menghindari kesulitan.
Kesulitan bersosialisasi membuat sebagian orang mencoba melarikan diri dari perasaan tersebut lewat tidur.
Perasaan terisolasi dari lingkungan sekitar dapat memicu depresi dan gejala kelelahan yang terus-menerus.
Fokus pada tidur justru dapat membantu seseorang merasa kurang kesepian dan lebih terbuka terhadap koneksi sosial.
6. Rasa bersalah yang terus dipendam
Rasa bersalah membuat seseorang ingin melarikan diri dari perasaan yang sedang dihadapinya.
Mereka tidak ingin terus dibayangi kesalahan yang telah dilakukannya di masa lalu.
Kepekaan terhadap rasa mengecewakan orang lain dapat memengaruhi setiap reaksi yang ditunjukkan seseorang.
Menghindari orang dan situasi sosial menjadi cara meredakan tekanan akibat rasa bersalah yang dirasakan.
7. Rasa sakit atau masalah kesehatan tertentu
Berbagai kondisi medis dapat membuat seseorang terbaring lama akibat gejala kelelahan yang dialaminya.
Mulai dari gangguan mental hingga penyakit fisik tertentu, tidur berlebihan bisa menjadi gejala serius yang muncul.
Kondisi tersebut membuat tubuh terasa lelah dan terkuras habis sepanjang waktu.
Rasa sakit kronis juga dapat memicu seseorang tidur berlebihan sebagai satu-satunya cara meredakan penderitaan tersebut.
8. Kekecewaan yang terus berulang
Kekecewaan yang terjadi berulang kali dapat memengaruhi cara kerja otak seseorang secara mendalam.
Hidup terasa sulit dijalani ketika seseorang kehilangan motivasi akibat kekecewaan yang terus dialaminya.
Semangat yang biasa mendorong seseorang untuk terus maju perlahan menghilang akibat kekecewaan tersebut.
Kekecewaan sering dikaitkan dengan depresi yang kemudian memicu kelelahan dan kebiasaan tidur berlebihan.