Bukan sedang mengalami gangguan internet. Bukan server yang down selama beberapa jam. Media sosial benar-benar hilang.
Pada awalnya, mungkin kita akan menganggapnya sebagai masalah teknologi. Namun, jika kondisi tersebut berlangsung berhari-hari, dampaknya kemungkinan akan jauh lebih dalam. Media sosial bukan sekadar tempat untuk melihat foto, menonton video pendek, atau membaca komentar. Bagi banyak orang, media sosial telah menjadi bagian dari rutinitas, sumber informasi, sarana berkomunikasi, tempat mencari hiburan, bahkan salah satu cara untuk membangun identitas diri.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (14/9), jika media sosial menghilang secara tiba-tiba, yang berubah bukan hanya perilaku kita terhadap teknologi. Pola perhatian, kebiasaan, hubungan sosial, emosi, dan cara kita memandang diri sendiri juga dapat ikut berubah.
Lalu, apa saja yang mungkin terjadi?
1. Kita mungkin merasa gelisah karena kehilangan rutinitas yang sudah otomatis
Hal pertama yang kemungkinan muncul adalah rasa “ada sesuatu yang hilang.”
Coba perhatikan kebiasaan sehari-hari. Banyak orang membuka media sosial ketika baru bangun tidur, saat sedang makan, ketika menunggu kendaraan, ketika bosan, sebelum tidur, atau bahkan ketika sedang bekerja tetapi kehilangan konsentrasi.
Sering kali kita tidak benar-benar memutuskan untuk membuka aplikasi tersebut.
Tangan bergerak.
Ponsel dibuka.
Aplikasi ditekan.
Kemudian kita menggulir layar.
Perilaku seperti ini dapat menjadi kebiasaan yang sangat otomatis. Dalam psikologi perilaku, kebiasaan terbentuk ketika suatu perilaku berulang kali dikaitkan dengan konteks atau pemicu tertentu.
Misalnya:
Bosan → membuka media sosial.
Menunggu → membuka media sosial.
Bangun tidur → mengecek notifikasi.
Merasa cemas → mencari distraksi.
Jika media sosial tiba-tiba hilang, rangkaian tersebut terputus.
Masalahnya, otak kita masih memiliki “ekspektasi” terhadap kebiasaan lama.
Itulah sebabnya seseorang mungkin tetap mengambil ponsel meskipun sudah tahu tidak ada media sosial yang bisa dibuka.
Ia mungkin membuka layar berkali-kali.
Mencari aplikasi yang sudah tidak ada.
Atau merasa bosan tanpa mengetahui harus melakukan apa.
Ini tidak selalu berarti seseorang mengalami “kecanduan” dalam pengertian klinis. Istilah kecanduan sering digunakan terlalu longgar dalam percakapan sehari-hari. Namun, hilangnya sebuah kebiasaan yang sangat sering dilakukan memang dapat menimbulkan ketidaknyamanan sementara.
Dan justru dari sinilah sesuatu yang menarik mungkin terjadi.
Kita dipaksa menyadari seberapa sering kita sebenarnya menggunakan media sosial tanpa benar-benar membutuhkannya.
2. Pada awalnya, kita mungkin mengalami semacam “kekosongan perhatian”
Media sosial memiliki karakteristik yang sangat efektif dalam menarik perhatian.
Satu video selesai, muncul video lain.
Satu unggahan selesai dibaca, ada unggahan berikutnya.
Satu notifikasi diperiksa, muncul kemungkinan adanya notifikasi lain.
Akibatnya, kita jarang berada dalam situasi ketika tidak ada rangsangan baru.
Jika media sosial menghilang, sumber rangsangan tersebut mendadak berkurang.
Bagi sebagian orang, kondisi ini mungkin terasa seperti kebosanan yang sangat besar.
Menariknya, kebosanan bukan sekadar tidak memiliki kegiatan.
Kebosanan juga berkaitan dengan kesulitan mempertahankan perhatian pada sesuatu ketika rangsangan yang tersedia tidak cukup menarik.
Bayangkan seseorang yang terbiasa mengisi setiap jeda lima menit dengan scrolling.
Di lift? Scrolling.
Menunggu kopi? Scrolling.
Menunggu rapat dimulai? Scrolling.
Menunggu teman datang? Scrolling.
Ketika aktivitas tersebut hilang, lima menit yang sebelumnya “tidak terasa” tiba-tiba menjadi sangat panjang.
Namun, setelah beberapa waktu, sesuatu yang berbeda mungkin terjadi.
Otak mulai beradaptasi.
Kita mungkin kembali belajar bahwa tidak setiap detik harus diisi dengan stimulasi.
Kita mulai memperhatikan lingkungan sekitar.
Memperhatikan suara.
Memikirkan sesuatu tanpa harus langsung mencari informasi.
Atau sekadar duduk tanpa melakukan apa pun.
Dalam jangka panjang, hilangnya media sosial bahkan bisa memberikan kesempatan untuk melatih kembali toleransi terhadap kebosanan.
Dan kemampuan tersebut sebenarnya cukup berharga.
Sebab tidak semua momen kosong harus segera dihilangkan.
Kadang-kadang, justru ketika kita tidak sedang menerima rangsangan baru, pikiran mulai mengembara, memproses pengalaman, atau menghasilkan ide.
3. Kita mungkin merasa lebih kesepian—tetapi sekaligus lebih terdorong mencari hubungan nyata
Ini adalah salah satu konsekuensi paling kompleks.
Jika media sosial menghilang, komunikasi sosial tentu ikut berubah.
Orang yang selama ini kita lihat setiap hari melalui unggahan mungkin tiba-tiba “menghilang” dari kehidupan kita.
Kita tidak lagi tahu teman lama sedang makan apa.
Tidak tahu teman sekolah baru saja menikah.
Tidak tahu rekan kerja sedang berlibur.
Tidak tahu kehidupan orang yang biasanya kita ikuti.
Akibatnya, sebagian orang mungkin mengalami rasa kehilangan koneksi sosial.
Hal ini terutama mungkin dirasakan oleh orang yang menggunakan media sosial sebagai sarana utama untuk mempertahankan hubungan.
Namun ada sisi lainnya.
Media sosial memang memungkinkan kita terhubung dengan banyak orang, tetapi jumlah koneksi tidak selalu sama dengan kualitas hubungan.
Melihat kehidupan seseorang melalui layar tidak selalu memberikan pengalaman sosial yang sama dengan berbicara secara langsung.
Jika media sosial menghilang, manusia mungkin kembali mencari cara lain untuk berhubungan.
Telepon.
Pesan langsung.
Pertemuan tatap muka.
Komunitas lokal.
Kegiatan bersama.
Bahkan percakapan sederhana dengan tetangga.
Dengan kata lain, kita mungkin mengalami paradoks:
Dalam jangka pendek, kita merasa lebih terputus.
Dalam jangka panjang, sebagian orang justru mungkin membangun hubungan yang lebih langsung dan lebih disengaja.
Kita tidak lagi bisa sekadar “mengetahui kabar” seseorang dengan melihat unggahannya.
Jika ingin tahu, kita harus bertanya.
Jika ingin berbicara, kita harus menghubungi.
Jika ingin bertemu, kita harus benar-benar datang.
Dan mungkin di situlah hubungan menjadi lebih aktif.
4. Tekanan untuk membandingkan diri dengan orang lain kemungkinan berkurang
Salah satu konsep penting dalam psikologi sosial adalah social comparison, atau kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan orang lain.
Kita membandingkan penampilan.
Karier.
Pendapatan.
Hubungan romantis.
Pendidikan.
Rumah.
Liburan.
Prestasi.
Bahkan kehidupan sehari-hari.
Masalahnya, media sosial memberikan akses luar biasa besar terhadap “potongan kehidupan” orang lain.
Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan baru.
Melihat orang lain menikah.
Melihat teman berlibur ke luar negeri.
Melihat seseorang membeli rumah.
Melihat orang lain memiliki tubuh yang dianggap ideal.
Kemudian, tanpa sadar, kita membandingkannya dengan kehidupan sendiri.
Padahal kita biasanya membandingkan kehidupan kita yang lengkap dengan kehidupan orang lain yang sudah dikurasi.
Kita mengetahui kegagalan kita sendiri secara lengkap.
Kita mengetahui kecemasan kita sendiri.
Kita mengetahui masalah keuangan kita sendiri.
Kita mengetahui konflik dalam hubungan kita sendiri.
Sementara dari orang lain, sering kali kita hanya melihat bagian yang mereka pilih untuk ditampilkan.
Jika media sosial tiba-tiba hilang, sumber perbandingan tersebut berkurang secara drastis.
Bukan berarti manusia berhenti membandingkan diri.
Kita tetap akan melakukannya.
Namun frekuensinya mungkin berkurang karena akses terhadap kehidupan orang lain juga berkurang.
Bagi sebagian orang, ini bisa terasa melegakan.
Mereka mungkin mulai bertanya:
“Sebenarnya saya ingin menjadi seperti siapa?”
bukan:
“Kenapa hidup saya tidak seperti mereka?”
Perbedaan kecil dalam pertanyaan tersebut dapat memiliki dampak psikologis yang besar.
5. Kita mungkin menjadi lebih sadar terhadap diri sendiri
Media sosial tidak hanya memengaruhi bagaimana kita melihat orang lain.
Ia juga memengaruhi bagaimana kita melihat diri sendiri.
Di media sosial, kita tidak hanya menjadi pengguna.
Kita juga menjadi semacam “penerbit” kehidupan sendiri.
Kita memilih foto.
Memilih kata-kata.
Memilih momen yang ditampilkan.
Menghapus sesuatu yang dianggap tidak menarik.
Mengatur bagaimana orang lain melihat kita.
Dalam psikologi, identitas seseorang memang tidak sepenuhnya dibentuk oleh media sosial. Tetapi lingkungan sosial dapat memengaruhi bagaimana seseorang memikirkan dirinya dan bagaimana ia ingin dipersepsikan.
Jika media sosial hilang, kebutuhan untuk mempertahankan “versi online” diri sendiri juga berkurang.
Tidak perlu memikirkan:
“Apakah orang akan menyukai foto ini?”
“Kenapa postingan saya tidak mendapatkan respons?”
“Kenapa orang lain lebih populer?”
“Bagaimana saya terlihat dibandingkan mereka?”
Akibatnya, sebagian orang mungkin mengalami periode refleksi.
Mereka mulai menyadari bahwa banyak hal yang selama ini dilakukan sebenarnya berkaitan dengan pengakuan sosial.
Dan ketika sumber pengakuan itu hilang, muncul pertanyaan yang cukup mendasar:
“Kalau tidak ada yang melihat, apakah saya masih ingin melakukan ini?”
Pertanyaan tersebut bisa terasa tidak nyaman.
Tetapi juga bisa sangat membebaskan.
Seseorang mungkin tetap ingin berolahraga meskipun tidak bisa mengunggah hasilnya.
Tetap ingin bepergian meskipun tidak bisa membagikan fotonya.
Tetap ingin belajar meskipun tidak ada yang memberikan pujian.
Tetap ingin menciptakan sesuatu meskipun tidak ada angka likes yang bisa dihitung.
Dengan kata lain, motivasi eksternal mungkin perlahan digantikan oleh motivasi yang lebih internal.
6. Kita mungkin menjadi lebih tenang—tetapi tidak otomatis lebih bahagia
Ada kecenderungan untuk membayangkan dunia tanpa media sosial sebagai dunia yang langsung lebih sehat secara mental.
Kenyataannya tidak sesederhana itu.
Media sosial dapat menjadi sumber stres bagi sebagian orang.
Notifikasi yang terus-menerus, konflik online, berita negatif, perbandingan sosial, tekanan untuk tampil sempurna, dan kebutuhan untuk terus mengikuti tren dapat membuat seseorang merasa lelah secara psikologis.
Jika semuanya hilang, sebagian orang mungkin merasa:
“Akhirnya saya bisa bernapas.”
Mereka mungkin lebih mudah berkonsentrasi.
Lebih jarang terganggu.
Lebih sedikit terpapar konflik.
Lebih jarang membandingkan diri.
Dan memiliki lebih banyak waktu untuk aktivitas lain.
Tetapi media sosial juga memiliki fungsi positif.
Bagi sebagian orang, media sosial merupakan sumber dukungan sosial.
Ada komunitas yang sulit ditemukan di lingkungan fisik.
Ada informasi penting.
Ada kesempatan belajar.
Ada hiburan.
Ada cara mempertahankan hubungan dengan keluarga dan teman yang tinggal jauh.
Ada pula orang yang memperoleh penghasilan melalui platform digital.
Jadi, jika media sosial hilang, tidak semua orang akan merasa lebih bahagia.
Sebagian justru mungkin merasa kehilangan sumber dukungan dan identitas sosial.
Ini menunjukkan sesuatu yang penting:
Teknologi itu sendiri bukan satu-satunya masalah.
Yang lebih menentukan adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan, kebutuhan psikologis apa yang dipenuhi olehnya, dan apa yang menggantikannya ketika teknologi tersebut tidak tersedia.
7. Kita mungkin akhirnya menemukan kembali dunia yang selama ini tertutup oleh layar
Ini mungkin menjadi perubahan terbesar.
Jika media sosial menghilang bukan selama beberapa jam, tetapi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, manusia tentu akan mencari penggantinya.
Dan kemungkinan besar, kehidupan tidak akan berhenti.
Orang tetap ingin berkomunikasi.
Tetap ingin mendapatkan informasi.
Tetap ingin menghibur diri.
Tetap ingin berbagi pengalaman.
Tetap ingin mendapatkan pengakuan.
Tetap ingin membangun komunitas.
Pertanyaannya bukan apakah kebutuhan tersebut hilang.
Kebutuhan tersebut akan mencari bentuk baru.
Kita mungkin kembali menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga.
Lebih sering bertemu teman.
Lebih banyak membaca buku.
Lebih banyak melakukan kegiatan fisik.
Lebih banyak mengikuti komunitas lokal.
Atau menemukan bentuk komunikasi digital baru yang berbeda dari media sosial saat ini.
Dan ada kemungkinan bahwa sebagian orang akan menyadari betapa banyak pengalaman nyata yang selama ini dilewati karena perhatian mereka terlalu sering berada di layar.
Bayangkan pergi ke sebuah tempat tanpa merasa perlu mengambil foto.
Makan tanpa memikirkan apakah makanan tersebut layak diposting.
Menonton konser tanpa merekam hampir seluruh pertunjukan.
Bertemu teman tanpa mengambil dokumentasi.
Berjalan tanpa harus membagikan lokasi.
Pada awalnya mungkin terasa aneh.
Namun lama-kelamaan, pengalaman tersebut bisa menjadi normal kembali.
Kita tidak lagi mengalami sebuah momen sambil memikirkan bagaimana momen tersebut akan terlihat bagi orang lain.
Kita hanya mengalaminya.
Jadi, Apakah Dunia Akan Menjadi Lebih Baik Tanpa Media Sosial?
Belum tentu.
Dan justru ini bagian paling penting dari pembahasan ini.
Media sosial bukan satu-satunya penyebab masalah psikologis manusia.
Kecemasan sudah ada sebelum Instagram.
Kesepian sudah ada sebelum Facebook.
Perbandingan sosial sudah ada jauh sebelum TikTok.
Kebutuhan akan pengakuan juga sudah ada jauh sebelum manusia memiliki smartphone.
Media sosial memperbesar, mempercepat, dan mengubah bentuk banyak proses psikologis yang sebenarnya sudah ada dalam diri manusia.
Karena itu, jika media sosial menghilang besok, kita tidak tiba-tiba berubah menjadi manusia yang sepenuhnya tenang, produktif, dan bahagia.
Sebaliknya, kita mungkin mengalami fase yang cukup kacau.
Kita kehilangan rutinitas.
Merasa bosan.
Merasa tertinggal.
Mencari alternatif.
Merindukan koneksi.
Bahkan mungkin mencoba menciptakan kembali sesuatu yang menyerupai media sosial.
Namun setelah fase tersebut, kita mungkin mendapatkan kesempatan untuk melihat satu hal yang sering tidak kita sadari:
seberapa besar perhatian kita telah menjadi bagian dari sistem digital.
Dan mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan:
“Apa yang akan terjadi jika media sosial menghilang?”
Melainkan:
“Apa yang akan kita lakukan dengan diri kita sendiri jika tidak ada lagi layar yang terus-menerus memberi tahu kita apa yang harus kita lihat?”
Mungkin kita akan lebih sering berbicara.
Mungkin lebih sering berjalan.
Mungkin lebih banyak membaca.
Mungkin lebih sering merasa bosan.
Mungkin juga lebih sering berpikir.
Dan dari semua kemungkinan tersebut, satu hal hampir pasti: manusia akan beradaptasi.
Karena pada akhirnya, media sosial bukan kebutuhan biologis manusia. Hubungan sosial, rasa memiliki, perhatian, makna, dan kebutuhan untuk dipahami—itulah yang sebenarnya kita cari.
Media sosial hanyalah salah satu cara kita mencoba memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Jika medianya hilang, kebutuhannya tetap ada.