← Beranda
Banyak Bicara saat Cemas? Ini 7 Sisi Kepribadian yang Konon Bisa Menyertainya
Irfan FerdiansyahRabu, 9 September 2026 | 05.18 WIB
Ilustrasi Seseorang sedang merasa Gugup (Freepik)

JawaPos.com - Rasa gugup dapat memunculkan respons yang berbeda pada setiap orang. Sebagian memilih diam dan menarik diri, sementara yang lain justru menjadi lebih aktif, termasuk berbicara jauh lebih banyak dari biasanya.

Kebiasaan berbicara terus-menerus ketika merasa cemas atau berada dalam situasi sosial yang menegangkan sering disebut sebagai over-talking. Perilaku tersebut tidak selalu berarti seseorang memang banyak bicara dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sudut pandang psikologi, kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan cara seseorang menghadapi tekanan, mengelola kecemasan, atau merespons situasi sosial. Namun, satu perilaku saja tentu tidak cukup untuk menentukan kepribadian maupun kondisi psikologis seseorang.

Menariknya, kecenderungan berbicara berlebihan saat gugup juga dapat muncul bersamaan dengan sejumlah karakter tertentu.

Baca Juga: Punya Karakter Unik, Ini 6 Tipe Kepribadian Wanita dari Alpha sampai Sigma

Dilansir dari Geediting, terdapat tujuh kualitas yang kerap dikaitkan dengan orang yang cenderung banyak berbicara ketika sedang gugup.

1. Memiliki Kesadaran Diri yang Tinggi

Orang yang banyak berbicara ketika gugup bisa jadi sangat menyadari bagaimana dirinya terlihat di hadapan orang lain.

Ketika suasana menjadi hening, mereka mungkin merasa perlu mengatakan sesuatu agar percakapan tetap berjalan. Berbicara akhirnya menjadi cara untuk mengurangi rasa canggung yang muncul.

Dalam kondisi tertentu, perilaku ini dapat berfungsi sebagai strategi untuk mengalihkan perhatian dari rasa tidak nyaman yang sedang dirasakan.

2. Cenderung Ingin Memberikan Kesan yang Baik

Keinginan untuk tampil sebaik mungkin dalam sebuah interaksi juga dapat membuat seseorang berbicara lebih banyak.

Mereka mungkin khawatir dianggap membosankan, tidak menarik, atau tidak mampu mengikuti percakapan. Akibatnya, pikiran terus mencari topik baru untuk dibicarakan.

Dorongan tersebut dapat membuat percakapan menjadi sangat aktif. Namun, apabila tidak dikendalikan, pembicaraan justru bisa menjadi terlalu panjang atau berpindah-pindah topik.

3. Memiliki Kepedulian terhadap Perasaan Orang Lain

Berbicara banyak ketika gugup tidak selalu muncul karena ingin menjadi pusat perhatian.

Sebagian orang mungkin melakukannya karena ingin membuat lawan bicara merasa nyaman. Mereka berusaha menjaga suasana agar tidak terasa kaku dengan melontarkan cerita, pertanyaan, atau candaan.

Niat tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap dinamika sosial. Meski begitu, penting pula membaca respons lawan bicara agar usaha mencairkan suasana tidak berubah menjadi percakapan yang membuat orang lain kewalahan.

4. Bisa Berkaitan dengan Kecemasan Sosial

Kecemasan dalam situasi sosial tidak selalu ditunjukkan melalui sikap diam atau menghindari percakapan.

Sebagian orang justru merespons rasa cemas dengan terus berbicara. Keheningan mungkin terasa tidak nyaman bagi mereka sehingga percakapan digunakan sebagai cara untuk mengatasi ketegangan.

Dengan terus berbicara, seseorang bisa merasa mempunyai kendali lebih besar atas situasi yang membuatnya gugup.

Namun, banyak bicara saja tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami kecemasan sosial. Kondisi tersebut membutuhkan penilaian yang lebih menyeluruh.

5. Mempunyai Pikiran yang Bergerak Cepat

Ada orang yang memang terbiasa menghasilkan banyak ide dalam waktu singkat. Ketika berada dalam situasi menegangkan, berbagai gagasan tersebut dapat keluar secara spontan melalui ucapan.

Akibatnya, pembicaraan mungkin berpindah dari satu topik ke topik lainnya dengan cepat. Mereka terkadang baru menyadari bahwa percakapannya sudah melebar setelah situasi kembali tenang.

Jika mampu mengarahkannya, kemampuan menghasilkan ide secara cepat sebenarnya dapat menjadi kelebihan dalam situasi yang membutuhkan kreativitas dan respons spontan.

6. Peka terhadap Kemungkinan Penolakan

Sebagian orang memiliki kekhawatiran yang cukup besar terhadap bagaimana dirinya diterima oleh orang lain.

Dalam psikologi, kecenderungan untuk lebih sensitif terhadap tanda-tanda penolakan dikenal sebagai rejection sensitivity. Pada sebagian individu, kekhawatiran tersebut dapat mendorong mereka untuk terus mempertahankan percakapan.

Mereka mungkin merasa bahwa semakin aktif berinteraksi, semakin kecil kemungkinan dirinya diabaikan atau ditolak.

Namun, tingkat sensitivitas terhadap penolakan berbeda-beda pada setiap individu dan tidak dapat dinilai hanya dari kebiasaan berbicara ketika gugup.

7. Mampu Berimprovisasi Secara Spontan

Di balik kebiasaan berbicara terlalu banyak ketika gugup, terdapat kemungkinan adanya kemampuan improvisasi yang baik.

Orang yang terbiasa merangkai kalimat secara spontan dapat dengan cepat menemukan bahan pembicaraan, membuat lelucon, atau menceritakan sesuatu tanpa persiapan panjang.

Jika kemampuan tersebut dapat dikendalikan, hal ini justru bisa menjadi kelebihan dalam pekerjaan yang membutuhkan komunikasi, seperti presentasi, pemasaran, pelayanan, negosiasi, maupun membangun relasi profesional.

Pada akhirnya, banyak bicara ketika gugup tidak selalu menunjukkan kelemahan. Perilaku tersebut bisa menjadi cara seseorang mengatasi ketegangan dan dapat muncul karena berbagai alasan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho