JawaPos.com - Kadang-kadang kita mengira masalah komunikasi dalam hubungan harus diselesaikan dengan percakapan besar.
Duduk berdua selama berjam-jam. Membicarakan masa depan. Membahas semua luka lama. Menuntut pasangan untuk lebih pengertian. Atau berharap suatu hari pasangan tiba-tiba bisa membaca apa yang kita butuhkan tanpa perlu dijelaskan.
Padahal, dalam banyak hubungan, perubahan justru dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Permintaan-permintaan kecil.
Bukan, “Kamu harus berubah.”
Bukan pula, “Kamu nggak pernah mengerti aku.”
Melainkan:
“Kalau aku cerita, boleh nggak kamu dengarkan dulu tanpa langsung memberi solusi?”
“Atau kalau kita sedang sama-sama sibuk, boleh nggak malam ini kita ngobrol 15 menit?”
Kalimat-kalimat sederhana seperti ini mungkin terdengar sepele. Namun secara psikologis, permintaan yang jelas memberi pasangan kesempatan untuk mengetahui bagaimana cara mencintai kita dengan lebih tepat.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (4/9), dalam hubungan romantis, seseorang tidak hanya ingin dicintai. Ia juga ingin merasa bahwa dirinya dilihat, dipahami, dianggap penting, dan direspons. Penelitian tentang perceived partner responsiveness menunjukkan bahwa respons pasangan yang dirasakan sebagai memahami, memvalidasi, dan peduli merupakan proses penting dalam kualitas hubungan.
Karena itu, jika kamu sedang berusaha memperbaiki komunikasi dengan pasangan, kamu tidak selalu harus memulai dengan percakapan yang berat.
Coba mulai dengan enam permintaan kecil berikut.
1. “Kalau aku cerita, boleh dengarkan dulu tanpa langsung memberi solusi?”
Ini mungkin salah satu permintaan paling sederhana, tetapi juga paling sulit dilakukan oleh banyak pasangan.
Ketika seseorang berkata,
“Aku hari ini benar-benar capek.”
Respons yang muncul sering kali:
“Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan.”
“Atau kamu harusnya…”
“Coba lain kali kamu…”
“Makanya dari awal…”
Maksudnya mungkin baik.
Pasangan mungkin memang ingin membantu.
Tetapi ada perbedaan besar antara membantu seseorang menyelesaikan masalah dan menemani seseorang ketika sedang mengalami masalah.
Kadang-kadang ketika kita bercerita, kita tidak sedang meminta solusi.
Kita hanya ingin seseorang berkata:
“Wah, kedengarannya berat.”
“Atau kamu pasti capek banget.”
“Ceritain aja. Aku dengerin.”
Dalam psikologi hubungan, respons semacam ini berkaitan dengan gagasan bahwa pasangan merasa dirinya dipahami dan divalidasi. Bukan berarti pasangan harus selalu setuju dengan kita, melainkan menunjukkan bahwa pengalaman dan perasaan kita benar-benar didengar.
Jadi, apa yang bisa kamu minta?
Daripada mengatakan:
“Kamu tuh nggak pernah bisa ngerti aku.”
Coba ubah menjadi:
“Kalau aku sedang cerita tentang sesuatu yang bikin aku stres, boleh nggak kamu dengarkan dulu? Kalau nanti aku butuh saran, aku akan bilang.”
Permintaan seperti ini jauh lebih jelas.
Pasangan tidak perlu menebak.
Kamu juga tidak perlu kecewa karena mendapatkan solusi ketika sebenarnya kamu hanya membutuhkan telinga.
Dan yang lebih penting, pasangan belajar bahwa tidak semua percakapan membutuhkan perbaikan; sebagian hanya membutuhkan kehadiran.
2. “Boleh nggak kita punya waktu 10–15 menit tanpa HP untuk ngobrol?”
Banyak pasangan sebenarnya tidak kekurangan cinta.
Mereka hanya kekurangan perhatian yang utuh.
Dua orang bisa duduk di sofa yang sama selama dua jam, tetapi masing-masing sibuk dengan ponselnya.
Secara fisik dekat.
Secara emosional jauh.
Padahal kedekatan tidak selalu dibangun melalui kencan mahal atau liburan romantis. Dalam penelitian dan pendekatan Gottman, perhatian terhadap momen-momen kecil sehari-hari dianggap penting dalam membangun koneksi. Salah satu konsep utamanya adalah bid for connection: upaya kecil seseorang untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, atau keterlibatan dari pasangannya.
Misalnya pasangan berkata:
“Eh, tadi aku lihat sesuatu yang lucu.”
Kalimat itu mungkin tampak tidak penting.
Tetapi bisa saja sebenarnya ada pesan kecil di baliknya:
“Aku ingin berbagi sesuatu denganmu.”
Jika kita terus-menerus mengabaikan momen seperti itu, hubungan bisa terasa semakin hambar.
Karena itu, kamu bisa membuat permintaan yang sangat sederhana:
“Aku pengin kita punya waktu 15 menit setiap malam untuk ngobrol tanpa HP. Nggak harus membahas masalah. Aku cuma pengin tahu hari kamu bagaimana.”
Tidak perlu satu jam.
Tidak perlu percakapan mendalam.
Sepuluh atau lima belas menit yang benar-benar hadir sering kali lebih bermakna daripada berjam-jam bersama tetapi masing-masing sibuk dengan layar.
3. “Kalau kita sedang bertengkar, boleh nggak kita berhenti sebentar kalau emosi sudah terlalu tinggi?”
Ini penting karena komunikasi yang sehat bukan berarti tidak pernah bertengkar.
Pasangan yang dekat sekalipun bisa berbeda pendapat, kecewa, marah, atau salah memahami satu sama lain.
Masalahnya bukan sekadar adanya konflik.
Masalahnya adalah bagaimana konflik tersebut dijalani.
Ketika emosi meningkat, percakapan mudah berubah dari:
“Aku ingin kamu memahami perasaanku”
menjadi:
“Kamu memang selalu begini.”
Lalu berubah lagi menjadi:
“Kamu nggak pernah berubah.”
Dan akhirnya kedua orang tidak lagi berusaha memahami masalah.
Mereka sedang berusaha memenangkan pertengkaran.
Karena itu, salah satu permintaan kecil yang sangat berguna adalah membuat kesepakatan sebelum konflik terjadi:
“Kalau kita sedang bertengkar dan salah satu dari kita sudah terlalu emosi, boleh nggak kita berhenti dulu 20 atau 30 menit? Tapi setelah itu kita tetap kembali membicarakannya.”
Perhatikan bagian terakhir.
Berhenti bukan berarti kabur.
Jeda bukan berarti menghukum pasangan dengan diam.
Tujuannya adalah memberi ruang agar percakapan tidak semakin merusak.
Kamu bahkan bisa membuat aturan sederhana:
tidak meninggalkan rumah dengan sengaja untuk membuat pasangan panik,
tidak menggunakan silent treatment sebagai hukuman,
tidak mengancam putus saat emosi,
tidak menghina,
dan setelah tenang, kembali membicarakan masalah.
Komunikasi yang baik bukan tentang siapa yang paling keras.
Kadang-kadang komunikasi yang baik justru berbunyi:
“Aku masih ingin menyelesaikan ini denganmu, tapi sekarang aku terlalu emosi. Kita lanjutkan setelah kita sama-sama tenang.”
4. “Boleh nggak kamu bilang satu hal yang kamu hargai dari aku hari ini?”
Kita sering menganggap pasangan sudah tahu bahwa kita menghargainya.
“Dia kan sudah tahu aku sayang.”
“Ngapain harus bilang terima kasih? Kan memang kewajibannya.”
“Dia tahu aku menghargai usahanya.”
Namun dalam hubungan, sesuatu yang dirasakan belum tentu sama dengan sesuatu yang diketahui.
Kita mungkin mencintai seseorang tanpa sering menunjukkannya.
Kita mungkin bersyukur memiliki pasangan tanpa pernah mengatakannya.
Padahal apresiasi yang diungkapkan secara langsung dapat menjadi bentuk koneksi yang sederhana.
Tidak harus:
“Kamu adalah manusia terbaik di dunia.”
Bisa sesederhana:
“Terima kasih tadi kamu tetap nemenin aku.”
“Aku suka cara kamu memperlakukanku tadi.”
“Aku menghargai kamu sudah berusaha.”
“Aku senang kamu ingat hal kecil itu.”
Dan kamu bahkan bisa membuatnya menjadi kebiasaan kecil:
“Sebelum tidur, boleh nggak kita masing-masing menyebutkan satu hal yang kita hargai dari pasangan hari ini?”
Tujuannya bukan membuat hubungan menjadi “sempurna”.
Tujuannya adalah melatih perhatian kita untuk melihat hal-hal yang masih berjalan dengan baik.
Pendekatan Gottman juga menempatkan apresiasi dan kekaguman terhadap pasangan sebagai salah satu unsur penting dalam membangun hubungan yang sehat.
Karena ketika kita hanya memperhatikan kesalahan, otak kita semakin mudah melihat kesalahan.
Sebaliknya, ketika kita sengaja memperhatikan usaha pasangan, kita mulai melihat bahwa hubungan bukan hanya kumpulan masalah.
Ada juga banyak hal yang sebenarnya masih layak dihargai.
5. “Kalau aku sedang melakukan sesuatu yang penting bagimu, boleh bilang dengan jelas apa yang kamu butuhkan?”
Ini berkaitan dengan satu kesalahan komunikasi yang sangat umum:
mengharapkan pasangan membaca pikiran.
Misalnya seseorang berkata:
“Kalau kamu benar-benar sayang, harusnya kamu tahu aku butuh apa.”
Masalahnya, pasangan bukan pembaca pikiran.
Dua orang bisa saling mencintai tetapi memiliki kebutuhan emosional yang berbeda.
Satu orang mungkin merasa dicintai ketika diberi perhatian.
Orang lain mungkin lebih menghargai bantuan konkret.
Satu orang ingin sering diberi kabar.
Yang lain merasa cukup dengan komunikasi beberapa kali sehari.
Karena itu, daripada berharap pasangan “seharusnya tahu”, cobalah membuat kebutuhan menjadi lebih konkret.
Misalnya:
“Kalau aku sedang banyak kerjaan, aku akan sangat terbantu kalau kamu tanya apakah ada yang bisa kamu bantu.”
Atau:
“Kalau aku sedang pergi beberapa hari, aku senang kalau kamu mengabariku sebelum tidur.”
Atau:
“Kalau aku sedang sedih, aku lebih membutuhkan pelukan daripada nasihat.”
Ini bukan berarti semua kebutuhan kita harus dipenuhi pasangan setiap saat.
Itu tidak realistis.
Namun komunikasi yang jelas memberikan pasangan informasi yang bisa digunakan.
Dan pasangan juga berhak mengatakan:
“Aku bisa melakukan itu.”
“Atau aku sebenarnya kesulitan melakukan itu, tapi aku bisa mencoba cara lain.”
Di situlah komunikasi berubah dari tuntutan menjadi kerja sama.
6. “Kalau aku mencoba mendekat, boleh nggak kamu menunjukkan bahwa kamu menyadarinya?”
Ini mungkin permintaan yang paling dalam dari keenamnya.
Karena sering kali yang kita cari bukan jawaban sempurna.
Kita hanya ingin tahu:
“Kamu masih ada di sini bersamaku?”
Dalam hubungan, ada banyak bentuk bid for connection atau ajakan kecil untuk terhubung. Bisa berupa pertanyaan, cerita, lelucon, sentuhan, keluhan kecil, ajakan melakukan sesuatu bersama, bahkan sekadar menunjukkan sesuatu yang menarik. Gottman menggambarkan respons terhadap bid tersebut sebagai kemampuan untuk “turn toward”—berbalik dan memberi perhatian kepada pasangan—daripada mengabaikan atau menolaknya.
Bayangkan pasangan berkata:
“Lihat deh, aku baru lihat video lucu.”
Kamu mungkin sedang sibuk.
Tetapi kamu bisa menjawab:
“Mana? Sini lihat.”
Atau jika memang tidak bisa:
“Sebentar ya, aku selesaikan ini dulu. Nanti tunjukin lagi.”
Responsnya kecil.
Tetapi pesannya besar:
“Aku melihatmu.”
Contoh lainnya:
Pasangan pulang kerja dan berkata:
“Hari ini kacau banget.”
Kamu bisa menjawab:
“Wah, kenapa? Cerita sini.”
Atau pasangan bertanya:
“Kamu mau jalan sebentar malam ini?”
Kamu bisa menjawab:
“Boleh. Kamu pengin ke mana?”
Hal-hal kecil seperti ini adalah cara hubungan terus mendapatkan “bahan bakar” emosional.
Gottman melaporkan bahwa pasangan yang kemudian tetap bersama dalam salah satu studi mereka lebih sering merespons bids for connection dengan berbalik mendekat dibanding pasangan yang kemudian bercerai; angka yang sering dikutip adalah sekitar 86% versus 33%. Angka tersebut berasal dari penelitian Gottman dan perlu dipahami sebagai temuan dari konteks studi tertentu, bukan sebagai rumus universal bahwa hubungan pasti bertahan jika mencapai angka tertentu.
Inti pelajarannya jauh lebih sederhana:
Jangan meremehkan momen kecil ketika pasangan sedang mencoba terhubung denganmu.
Keenam Permintaan Ini Sebenarnya Mengajarkan Satu Hal
Kalau diperhatikan, enam permintaan di atas memiliki pola yang sama.
Kamu tidak sedang berkata:
“Jadilah pasangan yang sempurna.”
Kamu sedang mengatakan:
“Ini adalah hal kecil yang membuatku merasa lebih dekat denganmu.”
Dan itu jauh lebih mudah dipahami.
Coba lihat perbedaannya.
Daripada:
“Kamu nggak pernah mendengarkan aku.”
Menjadi:
“Kalau aku cerita, boleh dengarkan dulu tanpa memberi solusi?”
Daripada:
“Kita sudah nggak pernah punya waktu bersama.”
Menjadi:
“Boleh nggak kita punya 15 menit tanpa HP malam ini?”
Daripada:
“Kamu selalu bikin pertengkaran jadi semakin parah.”
Menjadi:
“Kalau emosi kita sudah terlalu tinggi, boleh kita jeda dan lanjutkan setelah tenang?”
Daripada:
“Kamu nggak pernah menghargai aku.”
Menjadi:
“Boleh nggak sesekali kamu bilang hal yang kamu hargai dari aku?”
Perbedaannya terletak pada satu hal:
kamu sedang menjelaskan kebutuhan, bukan menyerang karakter pasangan.
Jangan Jadikan “Permintaan Kecil” sebagai Tes Cinta
Ada satu hal penting yang perlu diperhatikan.
Jangan menggunakan enam permintaan ini sebagai tes tersembunyi.
Misalnya kamu berkata:
“Kalau dia benar-benar mencintaiku, dia pasti langsung melakukan semuanya.”
Tidak selalu begitu.
Pasangan mungkin belum terbiasa.
Mungkin dia membutuhkan waktu.
Mungkin dia punya gaya komunikasi yang berbeda.
Mungkin dia salah memahami maksudmu.
Mungkin dia bahkan perlu kamu menjelaskan contoh konkretnya.
Komunikasi yang sehat bukan:
“Aku sudah bilang kebutuhanku. Sekarang buktikan bahwa kamu mencintaiku.”
Melainkan:
“Aku ingin kita belajar memahami kebutuhan satu sama lain.”
Ini juga berarti kamu perlu bersedia melakukan hal yang sama untuk pasangan.
Kalau kamu meminta didengarkan, belajar juga mendengarkan.
Kalau kamu meminta pasangan mengurangi HP ketika berbicara, lakukan hal yang sama.
Kalau kamu meminta apresiasi, biasakan memberikan apresiasi.
Kalau kamu meminta jeda saat bertengkar, hormati juga kebutuhan pasangan untuk mengambil jeda.
Hubungan yang sehat bukan tentang satu orang terus-menerus meminta dan satu orang terus-menerus memenuhi.
Hubungan adalah proses dua orang belajar menjadi lebih responsif terhadap satu sama lain.
Mulailah dari Satu Permintaan, Bukan Enam Sekaligus
Kamu tidak perlu malam ini duduk bersama pasangan lalu berkata:
“Kita perlu memperbaiki hubungan. Ini enam hal yang harus kamu lakukan.”
Itu justru bisa membuat pasangan merasa sedang dievaluasi.
Pilih satu.
Misalnya yang paling sederhana:
“Aku mau coba sesuatu. Kalau aku cerita tentang masalahku, boleh nggak kamu dengarkan dulu sebelum memberi saran? Kadang aku cuma butuh merasa ditemani.”
Lalu lihat apa yang terjadi.
Mungkin awalnya canggung.
Tidak masalah.
Hubungan tidak berubah hanya karena satu percakapan.
Ia berubah melalui pola-pola kecil yang dilakukan berulang kali.
Hari ini kamu mendengarkan.
Besok pasanganmu mendengarkan.
Hari ini kamu memberi apresiasi.
Besok pasanganmu mengingat sesuatu yang penting bagimu.
Hari ini kalian berhenti bertengkar sebelum saling melukai.
Besok kalian kembali dan menyelesaikannya.
Sedikit demi sedikit, pengalaman-pengalaman tersebut membangun rasa:
“Aku aman untuk berbicara denganmu.”
Dan mungkin itulah salah satu fondasi terpenting dari komunikasi dalam hubungan.
Pada Akhirnya, Yang Kita Cari Bukan Komunikasi yang Sempurna
Kita sering membayangkan pasangan yang komunikasinya sehat sebagai pasangan yang tidak pernah salah bicara.
Padahal tidak demikian.
Pasangan yang sehat pun bisa salah paham.
Bisa lupa.
Bisa terlalu lelah untuk mendengarkan.
Bisa marah.
Bisa mengatakan sesuatu yang kemudian disesali.
Yang membedakan bukan ketiadaan kesalahan.
Melainkan kemampuan untuk kembali terhubung setelah terjadi jarak.
Karena hubungan tidak dibangun terutama melalui satu percakapan besar.
Ia dibangun melalui ribuan interaksi kecil:
“Bagaimana harimu?”
“Lihat ini.”
“Kamu baik-baik saja?”
“Terima kasih.”
“Aku dengar.”
“Maaf.”
“Aku di sini.”
“Mau cerita?”
“Mari kita bicarakan lagi setelah kita tenang.”
Dan mungkin, sesederhana itu.
Cinta bukan hanya tentang seberapa besar perasaan yang kita miliki terhadap seseorang.
Cinta juga terlihat dari seberapa sering kita membuat orang tersebut merasa:
“Aku dilihat.”
“Aku didengar.”
“Aku penting.”
“Aku aman untuk menjadi diriku sendiri bersamamu.”
Jadi, jika kamu sedang berusaha meningkatkan komunikasi dengan pasangan, jangan selalu mencari percakapan terbesar.
Cobalah mengajukan permintaan kecil yang jelas, lembut, dan bisa dilakukan.
Karena terkadang hubungan tidak membutuhkan satu perubahan besar.
Ia hanya membutuhkan dua orang yang mulai lebih sering berbalik dan saling mendekat ketika yang lain mengulurkan tangan.